1. Upah Relatif

Cara pandang upah relatif melihat nilai upah dibandingkan dengan laba perusahaan. Dengan kata lain, cara pandang upah relatif melihat porsi upah dalam keseluruhan nilai tambah yang tercipta dalam proses produksi. Disebut “upah relatif” karena nilainya relatif, tergantung dari laba perusahaan. Upah riil dan upah relatif bisa bertolak-belakang nilainya. Bisa saja upah riil naik, tapi upah relatif turun.

Kita pakai lagi contoh di atas, upah Rp 3.000.000 yang naik menjadi Rp. 3.500.000. Karena tidak ada kenaikan harga, upah riilnya juga naik menjadi Rp. 3.500.000. Di sini, kita perlu memasukkan faktor nilai tambah dan laba perusahaan. Nilai tambah adalah keseluruhan nilai baru yang diciptakan oleh kerja buruh dalam proses produksi. Nilai tambah tidak mencakup biaya alat produksi karena alat produksi hanya mentransfer nilai yang terkandung dalam dirinya ke barang jadi, tapi tidak menciptakan nilai baru. Adapun nilai tambah terbagi menjadi dua, yaitu upah dan laba.

Grafik 2

Komponen Pembentuk Nilai Komoditi

Total nilai komoditi

Nilai tambah

Katakanlah, saat upah masih Rp 3.000.000, nilai tambah yang dihasilkan 1 buruh adalah Rp. 10.000.000. Artinya laba perusahaan yang disumbangkan 1 orang buruh adalah Rp. 10.000.000 – Rp 3.000.000 = Rp. 7.000.000. Di sini, upah relatif buruh adalah Rp 3.000.000 : Rp. 10.000.000 = 0,3 atau jika dipersentasekan adalah 30%. Sementara, porsi laba perusahaan dalam nilai tambah—untuk mempermudah, kita sebut saja “laba relatif”—adalah 0,7 atau 70%.

Ketika upah riil naik menjadi Rp. 3.500.000, total nilai tambah—karena peningkatan produktivitas—naik menjadi Rp. 12.000.000. Artinya, laba perusahaan yang disumbangkan buruh juga naik menjadi Rp. 8.500.000. Jika tingkat kenaikan upah adalah sekitar 16,7%, tingkat kenaikan laba adalah sekitar 21%. Di sini, upah relatif buruh menurun menjadi 0,29 atau 29%. Adapun laba relatif meningkat menjadi sekitar 0,71 atau 71%. Jadi, sekalipun upah riil naik tapi tingkat kenaikannya berada di bawah tingkat kenaikan laba, maka upah relatif akan turun.

Upah relatif memiliki hubungan yang berbanding terbalik dengan laba relatif. Upah relatif dan laba relatif tidak bisa bergerak selaras, misalnya sama-sama naik atau turun. Jika laba relatif naik, upah relatif pasti turun. Sebaliknya, jika upah relatif naik, maka laba relatif pasti turun. Hubungan keduanya yang saling bertolak-belakang inilah, yang merupakan “embrio” dari kontradiksi kelas buruh dan pengusaha.

Setelah menjelaskan logika dasar upah relatif, mari kita lihat data aktual upah relatif untuk mendapatkan gambaran kasar tentang upah relatif di Indonesia. Berbeda dengan upah riil, BPS tidak menghitung upah relatif. Namun, kita bisa menghitungnya sendiri dengan menggunakan data statistik industri sedang dan besar BPS. Dalam statistik industri besar dan sedang, BPS sudah menghitung nilai tambah atas dasar biaya faktor produksi dan pengeluaran untuk pekerja.

BPS tidak menghitung laba perusahaan. Tapi, laba perusahaan dengan mudah bisa kita hitung dengan mengurangi pengeluaran untuk pekerja dari nilai tambah atas dasar biaya faktor produksi. Adapun pengeluaran untuk pekerja tidak hanya terdiri dari upah pokok, tapi juga mencakup upah lembur, hadiah/bonus, pensiun, tunjangan sosial, asuransi, serta tunjangan kecelakaan. Jadi, pengeluaran untuk pekerja adalah total insentif ekonomi yang diterima oleh buruh. Konsep ini justru lebih sesuai dengan upah relatif. Berikut adalah data nilai tambah dan komponen pembentuknya 2010-2014:

Tabel 4

Nilai Tambah dan Komponen Pembentuknya 2010-2014

Tahun

Pengeluaran untuk Pekerja

Laba Perusahaan

Nilai Tambah Atas Dasar Biaya Faktor Produksi

2010

90.320.053.875

763.218.353.325

853.538.407.200

2011

142.149.535.717

877.446.529.804

1.019.596.065.521

2012

151.634.781.674

955.055.657.649

1.106.690.439.323

2013

154.539.073.523

1.271.986.818.594

1.426.525.892.117

2014

158.212.354.382

1.476.498.095.847

1.634.710.450.229

Sumber: Data BPS, https://www.bps.go.id/

Untuk mengetahui upah relatif dan laba relatif, kita tinggal mengubahnya menjadi proporsi atau persentase. Jika kita ubah menjadi proporsi, maka nilai tambah dan komponen pembentuknya selama 2010-2014 adalah sebagai berikut:

Tabel 5

Upah Relatif dan Laba Relatif 2010-2014

Tahun

Upah Relatif

Laba Relatif

Nilai Tambah Atas Dasar Biaya Faktor Produksi

2010

11%

89%

100%

2011

14%

86%

100%

2012

14%

86%

100%

2013

11%

89%

100%

2014

10%

90%

100%

Sumber: Diolah dari data BPS, https://www.bps.go.id/

Kesenjangan antara laba perusahaan dengan pengeluaran untuk pekerja lebih mudah dilihat jika data-data di atas diubah dalam bentuk gambar:

Sumber: Diolah dari data BPS, https://www.bps.go.id/

Berdasarkan data di atas, kita bisa lihat bahwa antara tahun 2010-2011 upah relatif naik dari 11% menjadi 14%. Selama 2012-2014, upah relatif turun dari 14% menjadi 10%. Jika kita bandingkan dengan data upah riil, 2012-2014 adalah tahun-tahun dimana upah riil mengalami kenaikan. Ini adalah contoh bagaimana upah riil bisa naik, tapi upah relatif turun. Dengan kata lain, meskipun daya beli upah itu naik, tapi porsinya dalam total nilai yang diciptakan oleh pekerja mengecil, karena tingkat kenaikan laba lebih tinggi dari tingkat kenaikan upah.

Di atas, kita sudah membahas tiga cara melihat nilai upah, yaitu upah nominal, upah riil dan upah relatif. Dalam konsep upah nominal, nilai upah dilihat dari angka yang tertera padanya. Upah nominal bisa menipu kita, karena bisa saja nilai nominal upah naik, tapi daya beli upah tersebut turun.

Dalam konsep upah riil, nilai upah dilihat dalam perbandingannya dengan harga-harga barang. Dengan kata lain, cara pandang upah riil melihat daya beli upah tersebut. Asumsi di balik cara pandang ini adalah bahwa upah berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup buruh. Dulu, kaum buruh banyak yang tertipu oleh cara pandang upah nominal, tetapi sekarang sudah banyak kaum buruh yang melihat upah dengan konsep upah riil, yaitu melihat nilai upah dari daya belinya.

Dalam konsep upah relatif, nilai upah dilihat dalam perbandingannya dengan laba perusahaan. Dengan kata lain, cara pandang upah relatif melihat porsi upah dalam keseluruhan nilai tambah yang tercipta dalam proses produksi. Asumsi di balik cara pandang upah relatif adalah bahwa buruh berhak atas bagian yang adil dari nilai tambah yang tercipta dalam proses produksi. Konsep upah relatif juga berguna dalam menjelaskan kesenjangan sosial akibat penghisapan yang dilakukan oleh kapitalis.

Gambaran tentang bagaimana kapitalis berkepentingan untuk menekan upah buruh dapat dilihat dari dinamika Upah Minimum. Pada satu sisi, Upah Minimum dapat diposisikan sebagai jaring pengaman sosial untuk mencegah kesewenang-wenangan kapitalis dalam menetapkan upah yang di bawah standar kehidupan layak. Meskipun demikian, pada prakteknya besaran Upah Minimum masih jauh dari kehidupan layak. Bahkan lebih jauh, upah minimum digunakan sebagai alat untuk melanggengkan politik upah murah.

Lihat bagian sebelumnya:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here