Selamat Jalan Pak Bos, Selamat Beristirahat

0
10 views

Senin pagi ini, langit di Tangerang terasa seperti mendung bagiku. Sontak bathinku menolak tak percaya akan kabar kepergian dirinya. Meski tak percaya, kuputuskan lebih baik segera berangkat untuk menuju petak kontrakan dimana ia tinggal. Ternyata bukan hanya aku yang sangat sulit percaya akan kabar itu.

Bukan hanya ratusan orang, tapi ratusan ribu orang yang mengenalmu dijalanan. Ratusan ribu buruh dari Tangerang, Cilegon,Lampung, Bandung, Jakarta, Surabaya, Solo, Makasar, Palu. Juga para petani di Lebak, Tasik, Garut dan Bandung. Juga guru-guru honorer dan tenaga kependidikan di Tangerang, Lebak, Rangkas, Pandeglang serta relawan kesehatan di Banten.

Banyaknya pesan masuk dan telepon tak sanggup ku jawab untuk memastikan kabar tentangnya. Bahkan hingga malam pun masih ada saja kawan yang marah menganggap itu kabar candaan.

Sungguh sangat sulit untuk kupercayai akan kabar itu. Pasalnya, kamis pekan sebelumnya aku sempat berbincang-bincang dan seharian bersamanya. Ia menelpon memintaku untuk datiang ke sekretariat meminta masukan akan program-program kerja yang hendak dilakukan. Kami pun berkelililng menemui kawan-kawan yang tengah tidak aktif dalam kegiatan organisasi. Ia mengajak mereka untuk kembali bisa terlibat aktif kembali. Pada hari itu, tak ada sedikitpun tanda-tanda ia tengah sakit. Malahan ia begitu gesitnya mendatangi dan menghubungi kawan-kawan dari organ sekawan mengajak bersolidaritas dengan Awak Mobil Tangki yang hendak mogok kerja.

Jam 8 an ia merasakan sakit didadanya, ia pun meminta pemilik kontrakan untuk mengerik dadanya untuk meredeakan rasa sakitnya. Rencananya, setelah kerikan dan mendingan ia akan berangkat ke Cilegon bersama kawan-kawan ALTTAR untuk bersolidaritas pada aksi awak mobil Tangki FSBTPI. Namun manusia berencana Sang Pencipta yang menentukan. ia dipilih untuk berangkat kepangkuanNYa. Ia mudik untuk ke asalnya. Ia istirahat untuk selama-lamanya.

Mungkin, hari terakhirku bersamanya ia kembali memberikan teladan yang sangat penting kepadaku. Ia memberikan contoh untuk mau menemui kawan-kawan juang yang mulai kelelahan . Ia memberikan contoh untuk mau mendengarkan suara-suara mereka dan mengayominya. Menjadi penopang yang kuat ketika mereka lemah. Menjadi penyemangat yang hebat ketika mereka nyaris putus asa. Yang jelas, sangat banyak tauladan bagi kawan-kawannya yang telah ia praktekan sebagai pemimpin yang terpimpin. Tak disangka, itu pendidikan yang terakhir yang ia ajarkan padaku.

Bagiku, ia lah kawan sejati dalam berjuang. Guru terbaik dalam gerakan. Pemimpin yang paling mau mengayomi. Pemimpin yang senantiasa sudi membantu siapa saja meski bukan anggota serikatnya. Pemimpin yang tidak pernah lelah menyulam persatuan perjuangan rakyat pekerja. Tidak hanya serikat buruh di Tangerang saja. Tapi mampu menjadi magnet gerakan rakyat di Banten di luar buruh.

Sayang, ia pulang ditengah persatuan gerakan rakyat pekerja multisektor di Banten yang masih butuh perawatan lebih.

Ia pemimpin yang di segani dan di cintai semua kalangan.

Selamat Jalan Pak Bos.

Aku beserta kawan-kawan buruh di Tangerang, Lampung, Bandung, Jakarta, Surabaya dan Makasar akan selalu merindukan suara lantang bernyalimu. Para petani di Lebak, Tasik, Garut dan Bandung akan selalu mengenang dan merindukan pembelaanmu. Pun Begitu dengan kawan-kawan dari Mahasiswa, relawan kesehatan, guru honor swasta dan rakyat pekerja dari sektor lainnya.

Selamat jalan pak Bos !

Niatmu untuk istirahat dari gerakan, ternyata lebih di dengar Tuhanmu di banding kawan-kawanmu.

Maaf gak bisa mengantarmu di kesempatan terakhir ini.

Saya akan selalu rindu memboncengmu, menyusuri perjalanan menemui orang-orang yang membutuhkanmu.

Kini, hanya tauladanmu lah yang tetap setia menemani perjalanan perjuanganku.

Selamat jalan pak Bos !

 

Tangerang, 20/06/17

Martani

 

 

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here