Rakyat Bantu Rakyat Petamburan Hadapi Krisis Covid-19

0
190
Pemuda warga RT 012 dan 09 mengawasi kondisi lingkungan untuk antisipasi Covid-19. Foto: Adam
Pemuda warga RT 012 dan 09 mengawasi kondisi lingkungan untuk antisipasi Covid-19. Foto: Adam

Di tengah gempuran wabah Covid-19 yang berimbas ke segala sektor kehidupan, kesulitan yang dihadapi rakyat pekerja semakin hari kian berlapis. Secara ekonomi rakyat kian menjerit.

Terlepas dari kesulitan tersebut, warga RW. 04 Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat mengambil inisiatif sendiri dalam memutus rantai penyebaran wabah Covid-19

Swadaya masyarakat terbangun dengan sendirinya secara mandiri dan independen. Anak-anak muda menjadi motornya: mahasiswa hingga remaja masjid. Mereka berinisiatif tanpa pamrih dan tanpa bantuan dari aparat setempat.

Inisiatif dilakukan mulai dari penyemprotan disinfektan ke rumah-rumah warga, penyediaan tempat cuci tangan, sabun, pembuatan portal penutup jalan, hingga konsumsi harian untuk kelompok ronda. Anak-anak muda ini menjaga lingkungan setempat secara bergiliran dalam 24 jam.

Kamis malam yang lalu (16/04/) warga Petamburan dihebohkan dengan kabar 36 orang yang positif Covid-19 di wilayahnya di Asrama Bethel, RW 04. Pasien tersebut telah dipindahkan di Wisma Atlet Kemayoran. Akibat kejadian itu, Petamburan sudah menjadi ‘Zona Merah’ dan butuh perhatian lebih dari pemerintah.

Sebelum adanya kabar tersebut, sudah tersiar kabar bahwa sudah ada 6 orang yang terpapar virus Covid-19. Sampai berita ini diturunkan, ada sekitar 180 warga yang berstatus ODP. Perkembangan drastis ini menimbulkan kepanikan di masyarakat. Hal ini terutama mengingat adanya warga Petamburan yang bekerja disekitar Bethel.

Di sisi lain, di tingkat RT/RW dan Kelurahan sangat lamban dalam menangani situasi krisis Covid-19. Kelambanan pengurus komunitas pertetanggaan ini dapat menimbulkan konflik antar warga. Dalam pendistribusian Bantuan Langsung Tunai dan Program Keluarga Harapan, tidak semua warga di dua RT di wilayah RW 04 Petamburan mendapatkan bantuan.

Pengurus RT diketahui tidak melakukan pembaruan data warga yang membutuhkan bantuan. Data yang digunakan mengandalkan data usang, sementara penyaluran bansos tidak dilakukan tak cermat terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan perempuan tanpa suami

Kelambanan pengurus RT ini bertolak belakang ketika warga selalu dimintai bantuan sumbangan dari pintu ke pintu pada setiap perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Sebagian warga bahkan menilai pengurus RT cenderung hanya memperhatikan kerabat dan orang-orang terdekatnya dalam menyalurkan bantuan sosial.

Pada satu kasus, Emak Noy warga RT 012/04 yang sudah berusia lanjut dan hidup tanpa suami tidak terdata dan tidak mendapatkan bantuan sosial. Meski Emak Noy berhak atas bantuan, namun Ia tereksklusi lantaran pengurus RT tidak melakukan pembaruan data warganya. Ketika ditanya, pengurus RT berdalih telah mempunyai rekap data.

Di tempat lain, RT. 10/ RW. 04 Dani dan Muhaya warga yang sudah renta dan sakit-sakitan merasa tak diperhatikan oleh RT setempat. Keduanya tidak terdaftar sebagai penerima bantuan PKH dan BLT. Seperti di RT 012, hal ini disebabkan karena pengurus RT tidak melakukan pembaruan data.

Kelambanan pengurus RT ini akan berdampak serius. Warga tidak hanya dihadapkan pada resiko penyakit, namun juga resiko kelaparan akibat dari krisis pangan yang timbul dari wabah ini. Perasaan diperlakukan tidak adil akan menciptakan ketidakpuasan dan rentan berubah menjadi konflik warga.

Meski warga Petamburan telah mengupayakan tindakan pencegahan penyebaran wabah secara swadaya, pihak RT/RW/ hingga Lurah cenderung tidak berbuat sesuatu atau memberi solusi dan arahan bagi masyarakat di tengah situasi Petamburan sudah masuk dalam ‘Zona Merah’ Covid-19.

Solidaritas warga di lain pihak semakin menguat yang dilengkapi dengan data yang lebih akurat dengan niat tulus menciptakan ketahanan masyarakat dan membangun relasi sosial agar ketahanan sosial di antara masyarakat menjadi lebih solid.

Swadaya masyarakat bertujuan membangun ketahanan sosial yang sifatnya lebih tahan lama dan sesuai dengan kondisi sosial budaya yang ada di Petamburan. Ketahanan sosial ini menjadi penting dalam menghadapi ketidakpastian situasi, di mana wabah Covid-19 belum bisa diprediksi akan berakhir.

Melihat hal itu swadaya masyarakat Petamburan, sepatutnya diapresiasi oleh pihak kelurahan agar partisipasi masyarakat lebih terkoordinir dan produktif dalam menghadapi wabah Covid-19 ini.

Rakyat perlu melakukan langkah yang sinergis antara warga dan pihak kelurahan. Bagaimanapun juga, warga merupakan garda terdepan dalam menghadapi wabah Covid-19 ini.

Setiap orang di dalam masyarakat adalah ‘juru selamat’—minimal untuk dirinya sendiri. Setiap orang adalah pemimpin, menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Kepemimpinan dari individu-individu yang bertemu lewat keresahan dan perasaan yang sama lebih dibutuhkan dibanding menunggu langkah pengurus setempat.

Situasi seperti inilah menjadikan kepemimpinan dan itikad baik masing-masing orang  sebagai jaring pengaman untuk melewati badai Covid-19. Pandanglah masyarakat sebagai manusia, jangan hanya dipanggil saat butuhnya saja.

Lewat Covid-19 ini, belajarlah untuk lebih memanusiakan manusia tanpa memandang si kaya dan si miskin.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here