Pra-May Day di Makassar: Lawan Penjajahan dan Perbudakan Modern

0
404
Aksi Pra-May Day di Kota Makassar. Foto: FPBN
Aksi Pra-May Day di Kota Makassar. Foto: FPBN

Sebentar lagi May Day, hari di mana lebih dari 100 tahun yang lalu, buruh-buruh di Amerika Serikat berhasil mendesak pemerintah dan pengusaha untuk membatasi jam kerja. Sebelumnya buruh bekerja selama lebih dari 12 jam sehari, kemudian pada tanggal 1 Mei 1886 buruh-buruh di Amerika Serikat secara serentak melakukan pemogokan dan aksi demonstrasi untuk menuntut 8 jam kerja sehari.

May Day mengingatkan kita akan pentingnya persatuan dan perlawanan pada sistem yang menindas.

Telah 100 tahun berlalu, buruh dengan persatuan telah berhasil mendesak pemerintah dan pengusaha membatasi jam kerja, yang sekarang buruh seluruh dunia menikmatinya, namun buruh di seluruh dunia termasuk di Indonesia masih belum sejahtera, masih tertindas oleh sebuah sistem ekonomi yang lebih menguntungkan segelintir orang pemilik modal. Sistem ini disebut sebagai sistem ekonomi kapitalisme, sebuah sistem yang saat ini menerapkan sebuah sistem penjajahan dan perbudakan modern yang disebut Neoliberalisme.

Dengan sistem ini, Buruh di dunia termasuk di Indonesia hingga saat ini masih terjebak pada berbagai aturan yang hanya menguntungkan Modal dan investasi, kemudian mengebiri hak buruh untuk sejahtera. Bagaimana tidak, demi modal, demi keuntungan untuk segelintir orang di Negeri ini dan seluruh dunia.

Buruh dipaksa untuk menerima aturan yang menindas. Demi hasrat menumpuk-numpuk harta para Pemilik Modal, Buruh dipaksa untuk bekerja lembur dengan upah yang sangat minim.

Coba saja kita lihat, bagaimana pemerintah kita, demi menjamin pemilik modal (investor) mengeruk keuntungan di Indonesia, Pemerintah menerapkan Politik Upah Murah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan (PP 78 Tahun 2015) yang menghilangkan fungsi tripartit buruh dan pengusaha dalam menetapkan upah.

Belum lagi, kebijakan Labour Market Flexibility (LMF) yang di Indonesia diterapkan melalui konsep Buruh Kontrak (PKWT) dan Outsourcing (Alih Daya) mengakibatkan pengusaha dengan sewenang-wenang memutus hubungan kerja, dengan konsep LMF ini, Buruh menjadi tidak memiliki kepastian kerja dan rentan di PHK.

Tidak sampai di situ, untuk buruh perempuan, perempuan sebagai buruh sampai saat ini hanya dianggap sebagai pelengkap penghasilan keluarga. Sehingga dianggap pantas di upah dengan rendah, bahkan tidak memberikan hak yang telah diberikan undang-undang kepada buruh perempuan seperti cuti haid, cuti melahirkan, dll. Tidak sampai disitu, hingga saat ini buruh perempuan masih banyak mengalami tindak kekerasan seksual di tempat kerja.

Semua kebijakan menindas ini diakibatkan oleh tidak berpihaknya pemerintah dan semua partai politik yang berkuasa sekarang terhadap buruh dan seluruh rakyat pekerja lainnya.

Pemerintah maupun partai-partai yang berkuasa saat ini tidak lain adalah perwakilan dari pemilik modal, saat ini tidak ada satu partai pun yang mewakili kekuatan politik rakyat pekerja (buruh, tani, miskin kota, perempuan) sebuah partai yang lahir dan dibentuk oleh kekuatan rakyat pekerja tersebut.

Untuk itu, pada kesempatan ini kami juga menyerukan kepada seluruh elemen gerakan rakyat untuk bersatu dan membentuk sebuah kekuatan politik alternatif. Kekuatan politik yang nantinya akan melawan berbagai kebijakan penjajahan dan perbudakan modern (Kapitalisme)

Untuk itu, hari ini Federasi Perjuangan Buruh Nasional yang beranggotakan serikat-serikat buruh tingkat perusahaan dan secara nasional bergabung dalam Konferedasi Serikat Nasional mengajak kepada seluruh buruh di Sulsel untuk secara serentak turun ke jalan, mendesakkan dan meneriakkan tuntutan, berupa:

  1. Melawan Penjajahan dan Perbudakan Modern;
  2. Hapus Sistem Fleksibilisasi Tenagakerja (Kontrak dan Outsourcing);
  3. Penuhi hak-hak Buruh Perempuan, Lawan Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Tempat Kerja;
  4. Bangun Kekuatan Politik Alternatif yang dibentuk dari dan oleh Rakyat Pekerja serta berjuang pada wilayah politik untuk Rakyat Pekerja.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here