Politisasi Agama: Kesadaran Palsu Bagi Kelas Pekerja

0
30 views
Sekelompok Buruh Mengikuti Aksi Bela Islam Jilid III. Senin, 28 November 2016. Dokumentasi: Poskotanews.com
Sekelompok Buruh Mengikuti Aksi Bela Islam Jilid III. Senin, 28 November 2016. Dokumentasi: Poskotanews.com

Pasca serangkaian aksi Bela Islam, mobilisasi kemarahan rakyat lewat politisasi agama nampaknya terus menguat di kalangan kelas pekerja. Sentimen terhadap Ahok pasca tuduhan penistaan agama berbuntut panjang seiring dengan aksi pembakaran karangan bunga oleh sekelompok buruh pada saat peringatan Hari Buruh Internasional yang lalu. Sentimen bernuansa SARA itu bahkan meluas seperti kasus penolakan ketua OSIS yang berbeda agama, hingga beredarnya video anak-anak berteriak ‘Bunuh si Ahok’.

Azhar dan Azka pada tulisannya berpendapat bahwa sentimen berdasarkan SARA menguat di tengah kekosongan kekuatan politik alternatif berbasis kelas. Kekosongan kekuatan politik itu juga gagal dalam mengatasi masalah neoliberalisasi ekonomi yang semakin menggila. Akibatnya, ekspresi kekecewaan dan kemarahan massa rakyat itu justru disuarakan dalam bentuk politik identitas yang dimobilisasi oleh kelompok fundamentalis.

Tulisan ini hendak melanjutkan diskusi-diskusi sebelumnya terkait dengan politik SARA dan bagaimana ia mempengaruhi kesadaran kelas pekerja, termasuk gerakan buruh. Upaya untuk mengembalikan kesadaran kelas pekerja ini menjadi penting untuk menempatkan kembali pertentangan antara kelas pekerja dan kapitalis sebagai masalah mendasar saat ini. Upaya itu akan dilakukan dengan mengungkapkan bagaimana politisasi agama membangun suatu kesadaran palsu bagi kelas pekerja.

Kapitalisme dan Keterasingan Rakyat Pekerja

Jauh sebelum kondisi hari ini, Marx telah mengungkapkan bagaimana politisasi agama telah membentuk suatu kesadaran palsu bagi rakyat. Dalam Kontribusi Untuk Kritik Terhadap Filsafat Hak Hegel, Marx menulis bahwa

“Ekspresi penderitaan agama pada saat yang sama adalah ekspresi penderitaan yang nyata dan suatu bentuk protes terhadap penderitaan yang nyata. [Ekspresi] Agama adalah keluh kesah bagi makhluk yang tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama adalah candu rakyat.”

Apa yang hendak disampaikan oleh Marx—yang banyak disalah-artikan oleh banyak orang—adalah tentang perasaan ketidakberdayaan. Perasaan itu pada dasarnya terkait dengan situasi kepelikan hidup—atau dalam istilah Marx, penderitaan yang nyata—yang dialami oleh rakyat. Pada gilirannya, ekspresi atas kepelikan hidup itu kemudian dinuansakan oleh agama.

Pada konteks ini Marx menganggap bahwa agama menjadi candu rakyat. Lebih persisnya, apa yang dikritik oleh Marx adalah bagaimana perasaan ketidakberdayaan yang dinuansakan oleh agama digunakan untuk menyelubungi kenyataan material ketertindasan rakyat. Kenyetaan material yang dimaksud tidak lain adalah kesulitan hidup di bawah sistem kapitalisme.

Sistem kapitalisme telah memposisikan jutaan rakyat hidup dalam kemiskinan. Pemisahan rakyat dari alat produksi menciptakan situasi ketergantungan dengan menjadi pekerja-upahan bagi kelas kapitalis yang menguasai alat produksi. Ketergantungan itu kemudian menjadi dasar bagi kelas kapitalis untuk mengeksploitasi hasil keringat pekerja yang memproduksi berbagai komoditi pemenuhan kebutuhan hidup.

Dalam bentuknya yang riil, selubung atas ketertindasan rakyat terwujudkan dalam ekspresi bahwa ‘kemiskinan adalah takdir’, atau bahwa nasib telah menggariskan seseorang untuk hidup sengsara. Pengalaman ketertindasan yang diselubungi oleh kedok agama itu membentuk kesadaran palsu di mana rakyat menerima kondisi hidup dengan apa adanya. Alih-alih membebaskan, agama justru digunakan sebagai alat untuk menjadikan rakyat tidak memperjuangkan nasibnya.

Masalah ini diungkapkan oleh Marx dalam istilah ‘keterasingan’ atau alienasi. Istilah keterasingan digunakan untuk menjelaskan situasi di mana kesadaran rakyat terpisah dari kenyataan yang nyata atau material. Keterasingan itu juga yang menjadikan rakyat tidak mampu memahami masalah apa yang sebetulnya terjadi dan menjadi penyebab kepelikan hidupnya. Kesadarannya tentang apa yang nyata menjadi terkaburkan oleh kesadaran palsu yang menggunakan dalih agama.

Dalam kaitannya dengan menguatnya sentimen SARA, hal itu merupakan buah dari ketidakmampuan rakyat memahami masalah yang sejati. Kekuatan politik alternatif kelas hingga saat ini belum mampu tampil untuk memandu rakyat memahami persoalan pokok ketertindasannya. Akibatnya, rakyat justru terperangkap pada ilusi-ilusi yang menjauhkannya dari kenyataan bahwa kapitalisme merupakan persoalan pokok yang mencengkeram kehidupan rakyat.

Sementara itu, kelompok fundamentalis justru mampu mencitrakan dirinya sebagai sosok yang memberi harapan perubahan bagi rakyat. Rakyat dibuat percaya seolah-olah para pemimpin kelompok fundamentalis itu mampu mengangkat derajat hidupnya dengan membawa janji-janji surga. Padahal, janji-janji surga itu tidak lain merupakan ekspresi ketidakberdayaan rakyat dalam melawan kepelikan hidup akibat sistem kapitalisme: bahwa jawaban atas kondisi hidup yang nyata dan ada saat ini, ada di langit sana.

Sebagai dampaknya, alih-alih mempersoalkan kebijakan pemerintah yang berpihak pada kaum pemodal, rakyat justru diarahkan untuk mempersoalkan latar belakang agama seorang kepala daerah. Alih-alih melihat bahwa pemerintahan saat ini melayani kepentingan kapitalis, rakyat justru terkotak-kotakan berdasarkan identitasnya, di mana muncul sentimen anti-China dan kafir di antara sesama rakyat. Sementara rakyat diarahkan untuk ‘membela ulama’, di saat yang sama pembangunan infrastruktur yang menggusur rakyat di belahan daerah lain dan penggerusan terhadap hak perlindungan sosial terus berlanjut.

Mendudukkan Kembali Perjuangan Kelas

Kondisi hari ini harusnya membuat gerakan yang berupaya membangun kekuatan politik alternatif menyadari keterbatasan dirinya selama ini. Gerakan rakyat dapat dikatakan belum mampu untuk menjernihkan pemahaman rakyat atas persoalan hidup yang dialaminya saat ini. Ketidakmampuan itu sendiri pada gilirannya menjebak rakyat pada kesadaran palsu yang tercipta akibat politisasi agama.

Apa yang perlu dilakukan untuk menjernihkan pemahaman itu tidak lain dengan memblejeti sistem kapitalisme dan menempatkannya sebagai persoalan pokok kepelikan hidup. Tugas gerakan rakyat adalah mengungkapkan bahwa pembangunan infrastruktur yang diselenggarakan pemerintah pada dasarnya ditujukan untuk melayani kepentingan kaum pemodal, bukan bagi rakyat itu sendiri. Gerakan rakyat harus mampu menegaskan bahwa kepelikan hidup saat ini tercipta akibat kebijakan yang bias kepentingan kelas kapitalis.

Rakyat membutuhkan kepeloporan untuk memahami pokok persoalan dan mengantarkannya pada perlawanan terhadap kaum pemodal. Upaya untuk menjernihkan kesadaran rakyat dari ilusi-ilusi yang berkedok agama itu semakin mendesak untuk mendudukkan kembali perjuangan kelas pekerja melawan penindasan di bawah sistem kapitalisme. Apa yang kita perlukan saat ini adalah persatuan kelas pekerja yang mengatasi setiap perbedaan-perbedaan identitas.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here