Jakarta – Tidak hanya ditindas sebagai buruh, perempuan buruh juga mengalami diskriminasi dan kekerasan karena menjadi seorang ‘perempuan’. Di tempat kerja, pelanggaran terhadap hak dan perlindungan buruh perempuan seringkali terjadi. Mulai dari pengabaian hak atas cuti haid dan melahirkan, hingga pelecehan dan kekerasan seksual. Tidak adanya jaminan dan perlindungan ini menyebabkan buruh perempuan berada pada posisi yang sangat rentan.

Merespon kerentanan yang dialami oleh perempuan, aliansi aktivis buruh perempuan yang tergabung di dalam Pokja Buruh Perempuan menyerukan perlawanan terhadap kekerasan dan diskriminasi terhadap buruh perempuan di tempat kerja. Aliansi tersebut menyelenggarakan konferensi pers untuk memperingati “Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan” di Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Cikini, Jakarta Pusat (24/11).

Dalam rilis pernyataan sikapnya, buruh perempuan kerap mengalami kekerasan berbasis gender, baik secara seksual, fisik, verbal atau pelanggaran terhadap maternitas (kesehatan reproduksi) buruh perempuan. Sebagai contoh, buruh perempuan rentan diperkosa saat pulang kerja di malam dini hari (http://www.solidaritas.net/2014/02/buruh-perempuan-diperkosa-saat-pulang.html). Padahal, seharusnya perusahaan bertanggungjawab memberikan perlindungan, misalnya dengan menyediakan sarana transportasi bagi buruh yang bekerja pada shift malam.

Belum lagi ketika hak buruh perempuan atas cuti melahirkan diabaikan oleh perusahaan. Perwakilan dari Federasi Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia (FBTPI-KPBI) menceritakan baru-baru seorang buruh perempuan yang bekerja sebagai supir bis Trans Batavia terpaksa untuk melahirkan di halte karena tidak diberikan cuti hamil oleh perusahaan.

Politik upah murah berkontribusi pada langgengnya diskriminasi dan kekerasan terhadap buruh perempuan (http://majalahsedane.org/2016/03/buruh-perempuan-dan-kawasan-industri-rumah-pabrik-dan-serikat-buruh). Dalam rilis Pokja Buruh, disebutkan bahwa “upah rendah, status kerja dan posisi dalam pekerjaan juga turut berkontribusi dalam permasalahan ini, terkadang membuat perempuan takut kehilangan sumber pendapatannya dan membiarkan saja kekerasan yang menimpa dirinya terus terjadi hanya untuk mempertahankan pekerjaannya.”

Untuk itu, merespon Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Konfederasi Serikat Nasional memberikan dukungan sepenuhnya kepada aktivis buruh perempuan yang tergabung di dalam aliansi Pokja Buruh Perempuan.

 

Lawan Penindasan!

Buruh Perempuan Sedunia, Bersatulah!

 

Reporter: Rizal Assalam (Staf Media Propaganda dan Pendidikan KSN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here