Pertemuan Internasional Kolektif Pekerja Pabrik Kolektif “Workers’ Economy” di Marseille

0
36 views
Fralib adalah pabrik pengolahan herbal dan pengemasan yang terletak 20 kilometer dari kota pelabuhan selatan Perancis Marseille. Pemilik pabrik kimia dan pertanian pangan raksasa sebelumnya adalah Unilever. Sejak tiga tahun yang lalu Unilever memutuskan untuk memindahkan produksi teh Lipton ke luar negeri untuk menghemat biaya tenaga kerja. Kredit foto: workerscontrol.net

Pertemuan “Workers’ Economy” Eropa pertama ini mempertemukan pekerja-pekerja yang mengelola pabrik secara kolektif dengan akademisi, aktivis, dan organisasi-organisasi yang mempromosikan dan meneliti tentang manajemen swa-kelola kolektif

Pengantar Redaksi

Di Indonesia, banyak kasus di mana pemilik modal dengan mudah menutup dan meninggalkan pabrik untuk direlokasi ke wilayah lain. Panasonic dan Toshiba misalnya, perusahaan besar elektronik itu tahun lalu melakukan penutupan pabrik.

Namun, tidak selalu kelas pekerja dibuat tidak berdaya menghadapi kekuatan modal. Artikel berikut memberikan pelajaran berharga bagi perjuangan pekerja di seluruh dunia dalam melawan ancaman modal yang mudah berpindah (footloose capital). Artikel ini menceritakan tentang buruh-buruh yang mengambil-alih perusahaan setelah pemilik perusahaan dengan sewenang-wenang meninggalkan perusahaan untuk mencari tempat dengan upah buruh yang lebih murah.

Dalam artikel ini dijelaskan bahwa buruh-buruh yang menjalankan perusahaan tanpa pengusaha melakukan pertemuan berskala internasional di Perancis. Dalam pertemuan internasional tersebut, buruh-buruh antar negara saling bertukar pikiran dan pengalaman ketika mereka melakukan pengambil-alihan pabrik. Pertemuan internasional ini menjadi sangat penting agar pengambil-alihan perusahaan bisa dilakukan secara terus-menerus oleh buruh-buruh di segala penjuru dunia. Pengambil-alihan perusahaan ini menjadi strategi ampuh dalam melawan kesewenang-wenangan pengusaha dan melawan pemiskinan buruh di tengah situasi perpindahan modal yang sangat cepat dan krisis kapitalisme yang mulai nampak gejalanya.

Berikut ini kami sajikan terjemahan artikel  dari “Workers of self-managed factories meet in Marseille for the “Workers’ Economy” international meeting”. Selamat membaca!

Fralib adalah pabrik pengolahan herbal dan pengemasan yang terletak 20 kilometer dari kota pelabuhan selatan Perancis Marseille. Pemilik pabrik kimia dan pertanian pangan raksasa sebelumnya adalah Unilever. Sejak tiga tahun yang lalu Unilever memutuskan untuk memindahkan produksi teh Lipton ke luar negeri untuk menghemat biaya tenaga kerja. Kredit foto: workerscontrol.net

Sebanyak 80 pekerja melakukan protes dan mengkampanyekan boikot – menuntut agar pabrik tetap buka. Namun protes dan boikot yang dilakukan tidak menghasilkan apapun. Belajar dari kegagalan kampanye ini, mereka memutuskan untuk mengambil-alih alat-alat produksi untuk dikelola oleh mereka.

Baru-baru ini mereka menyalakan ulang mesin di pabrik yang ditinggalkan oleh pemiliknya untuk menghasilkan teh limau yang didasarkan produksi berskala lokal, dan mereka sedang mencari cara untuk memulai kembali produksi dalam kapasitas besar. Pengalaman Fralib merupakan salah satu dari segelintir pabrik Eropa yang telah dikelola oleh pekerja secara swa-kelola kolektif

Setelah pendudukan pabrik oleh pekerja, manajemen pabrik dikelola secara demokratis melalui proses pengambilan keputusan horisontal. Praktek-praktek pendudukan pabrik sebetulnya telah muncul di Argentina sebelumnya dan yang menjadi paling menonjol diantara semua tempat di abad ini. Di Argentina ada sekitar 300 pabrik yang membaik dari krisis setelah dikelola 15.000 pekerja.

Bisakah model menjadi solusi dalam menghadapi krisis di Eropa, solusi untuk pengangguran dan kemiskinan yang terus tumbuh, dan juga solusi atas eksploitasi dan alienasi terhadap buruh di (Eropa) jantung produksi kapitalis?

Ini adalah pertanyaan utama dalam pertemuan internasional pertama soal “Workers’ Economy” yang diadakan pada tanggal 31 Januari dan 1 Februari di pabrik Fralib yang didudukioleh para pekerja. Ide di balik peristiwa-peristiwa yang independen dan dikelola secara mandiri ini muncul pertama kali 7 tahun yang lalu di Argentina, dengan tradisi panjang selama dua -dekade pendudukan pabrik. Segera setelah peristiwa serupa diadakan di Brazil dan Meksiko.

Pertemuan pertama edisi Eropa itu tidak hanya dihadiri oleh buruh dari pabrik-pabrik yang dikelola secara mandiri dari seluruh Eropa, tetapi juga akademisi, aktivis, serikat buruh, dan organisasi yang mempromosikan dan mempelajari manajemen kolektif pekerja, seperti French Association Autogestion dan ICEA Spanyol. Sekitar 200 orang yang datang dari berbagai negara menghadiri acara yang diadakan di antara lampu berkedip dari mesin teh kemasan perusahaan. Acara ini digelar dalam 3 bahasa. Beberapa aktivis dari jaringan Babels berperan sebagai penerjemah untuk menjembatani perbedaan bahasa antar negara, sehingga pertukaran pengalaman dari tempat yang berbeda bisa terjadi.

Selain dari tuan rumah Fralib, Pilpa (pabrik es krim yang diduduki di Carcassone, Perancis; Officina Zero dan Rimaflow, dua bekas daerah industri yang diduduki oleh pekerja dan aktivis di Roma dan Milan; dan VioMe, salah satu dari beberapa perusahaan yang dikelola oleh buruh yang telah mencapai kestabilan pendapatan—meskipun masih terbatas—untuk pekerja, melalui produksi deterjen ramah lingkungan di pabrik di Thessaloniki, Yunani.

Tamu lain adalah seorang pekerja Argentina dari pabrik tekstil Pigue, ia mencoba untuk menarik benang merah tahap awal gerakan pendudukan pabrik dalam konteks krisis Argentina dan gerakan Eropa yang baru lahir. Banyak pengalaman manajemen mandiri pekerja dan ekonomi koperasi yang berasal dari tempat yang beragam tempat seperti Serbia, Spanyol, Meksiko, Venezuela dan Brasil.

Meskipun keinginan untuk melakukan demokratisasi produksi dan mendistribusikan kekayaan “berada dalam darah pekerja”. Andrés Ruggeri, seorang peneliti militan asal Argentina dan salah satu promotor utama acara ini, menunjukkan bahwa pengalaman pendudukan pabrik dan manajemen mandiri buruh memiliki ciri khas yang beragam sesuai dengan konteks politik, ekonomi dan sejarah mereka dalam gerakan pengambil-alihan pabrik.

Seringkali pekerja harus berurusan dengan unit produksi yang sudah usang atau menghasilkan produk yang tidak ada permintaan dari pasar, seperti pada kasus Officina Nol. Penemuan dan kreativitas dari para pekerja dan kerjasama yang erat dengan masyarakat luas merupakan hal yang terpenting karena dapat membantu produk mereka menjadi lebih berguna dan ramah lingkungan. Dalam kasus pabrik Italia, konversi ini akan mengizinkan kegiatan lain  menyelamatkan dan daur ulang peralatan elektronik.

Tantangan umum yang dihadapi oleh pabrik yang diduduki adalah represi negara, rintangan birokrasi, peraturan kelembagaan yang melarang penduduka pabrik, dan sikap bermusuhan dari mantan pemilik, partai politik dan serikat buruh kuning bentukan negara. Mereka sering beroperasi dalam perekonomian yang berada dalam resesi besar (seperti dalam kasus VioMe dan sebagian besar pabrik Argentina di awal abad ke-21) dan memasuki kembali pasar dan memastikan prestasi pendapatan yang sulit dicapai.

Tantangan terkait keberhasilan ekonomi juga terbentang di ujung jalan upaya manajemen swa-kelola kolektif ini. Bagaimana para pekerja bisa menjaga karakter radikal dari eksperimen pengelolaan kolektif dan menghindari perusahaan berubah menjadi “alternatif” bagi kapitalis pemegang saham yang mengejar keuntungan dengan mengeksploitasi buruh? Untuk menjawab pertanyaan itu, banyak peserta berpendapat pentingnya menjalin hubungan erat dengan masyarakat luas. Melakukan produksi yang dijalankan secara mandiri dan kolektif itu saja tidak cukup, meskipun upaya itu adalah langkah awal yang diperlukan untuk memutus lingkaran setan eksploitasi kapitalis. Namun, produksi juga harus dikontrol secara sosial, dimana lingkungan dan politik harus mendukung dan mendasarkan diri pada nilai-nilai penghormatan dan solidaritas.

Para pekerja dari VioMe menyampaikan perhatian mereka pada undang-undang koperasi mendatang yang bertujuan untuk melegalkan koperasi mereka setelah perayaan ulang tahun pertama manajemen mandiri pekerja, mereka mengakui akan pentingnya “solidaritas pendukung”. Pendukung ini adalah setiap anggota masyarakat luas yang berkomitmen untuk mengkonsumsi sejumlah produk dari pabrik. Pendukung solidaritas ini memiliki hak untuk mendapatkan informasi awal tentang perjuangan, hak untuk berpartisipasi dalam majelis pekerja, dan hak untuk membantu dalam pengambilan keputusan melalui seorang penasehat. Dengan demikian, dibangun sebuah jembatan antara pekerja dan kontrol sosial dari produksi.

Selain pertukaran ide dan pengalaman, banyak proyek konkret yang disiapkan dalam pertemuan pertama Eropa ini. Para pekerja, aktivis, akademisi dan pendukung memulai kampanye promosi produk-produk dari pabrik-pabrik yang dikelola mandiri oleh pekerja, menyepakati pertukaran langsung barang antara pabrik-pabrik, menempatkan instrumen jaringan dan pengambilan keputusan kolektif, dan mengelaborasi proyek yang memajukan pemahaman teoritis manajemen mandiri dan mempromosikan pemahaman populer di isu seputar ini, sepertihalaman workerscontrol.net, sumber daya multibahasa didedikasikan untuk studi dan promosi pabrik yang dikelola secara kolektif. Beberapa bahkan menggagas dana solidaritas yang diciptakan dari setiap surplus pabrik-pabrik yang diduduki. Dana ini disediakan untuk mendanai usaha baru yang akan memotong sistem keuangan kapitalis.

Ketika sistem kolektif telah berhasil menciptakan kegiatan ekonomi yang manusiawi berdasarkan kesetaraan dan solidaritas, tidak ada satupun aturan yang ditetapkan. Imajinasi pekerja dan kemauan mereka untuk berjuang dalam menciptakan dunia yang lebih baik adalah satu-satunya batas. Acara ekonomi buruh di Fralib adalah sebuah bentuk inspirasi dan penberdayaan untuk semua orang yang terlibat, dan acara ini mungkin telah memicu penciptaan gerakan pengambilalihan alat-alat produksi dan manajemen mandiri pekerja yang bermacam-macam di Eropa.

Penerjemah : Petrus Putut (Staf Magang)

Editor          : Rizal Assalam (Staf Media Propaganda dan Pendidikan KSN)

Sumber       : www.workerscontrol.net

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here