Pers dan Rakyat Pekerja (Bagian 2) Membangun Pers Rakyat: Belajar dari Harian Rakjat

0
46 views

Sebenarnja suratkabar adalah sendjata perkasa ditangan Rakjat,

djika suratkabar itu memang betul2 bersuara mentjerminkan kehendak Rakyat

Sejatinya, pers adalah corong untuk menyuarakan kepentingan rakyat. Pada era pergerakan melawan kolonialisme, pers-pers bumiputera bertujuan untuk membangun semangat nasionalisme rakyat terjajah.1 Pers menjalankan fungsi yang strategis bagi gerakan rakyat. Lewat informasi yang terkandung di dalamnya, surat kabar berfungsi sebagai jembatan dalam mengumpulkan orang untuk melakukan mobilisasi, mulai dari orasi politik, rapat-rapat akbar, hingga pemogokan buruh.2 Pers berfungsi dengan baik untuk mengagitasi massa melakukan perlawanan terhadap penjajah

Pers ketika itu merupakan satu kesatuan dengan gerakan rakyat. Sejarawan Shiraishi menjelaskan “jurnalisme adalah pergerakan dan pergerakan adalah jurnalisme, bahwa pemimpin pergerakan lahir dari jurnalis dan juga sebaliknya.”3 Tokoh-tokoh pergerakan progresif seperti Sukarno, Njoto ataupun Haji Misbach merupakan aktivis yang berbakat dalam menulis. Kesadaran sebagai suatu “bangsa” bangkit oleh karena radikalisasi lewat surat kabar-surat kabar.4

Salah satu contoh kasus pers rakyat yang menonjol dalam rentang waktu 1950-1965 adalah surat kabar Harian Rakjat. Surat kabar itu dikenal luas, baik di kalangan buruh, petani, tukang cukur, hingga pegawai pemerintahan. Saking luasnya pembaca Harian Rakjat, oplahnya berada di ranking satu (55 ribu), diikuti oleh Pedoman (48 ribu), Suluh Indonesia (40 ribu) dan Abadi (34 ribu).5 Besarnya popularitas Harian Rakjat lantaran surat kabar itu menerapkan apa yang kita kenal hari ini sebagai ‘jurnalisme warga’.

Dalam konsep itu, warga atau khayalak luas merupakan pusat gravitasi dari pers. Rakyat dalam hal ini diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk berkontribusi mengirimkan tulisan untuk dimuat di suatu media massa—bisa di surat kabar, atau yang populer hari ini di media daring (online). Jurnalis atau reporter bukanlah pekerjaan yang digeluti oleh orang-orang khusus, melainkan berasal dari tengah-tengah massa itu sendiri.

Berangkat dari ide yang mirip dengan jurnalisme warga itu, Harian Rakjat menjalankan peranannya dalam gerakan.6 Dalam mencari sumber-sumber sekaligus penulis berita, Harian Rakjat dibantu oleh ‘Korbu’ (koresponden buruh) dan ‘Korta’ (koresponden tani). Korbu dan Korta itu sendiri berasal dari kader atau aktivis serikat rakyat pekerja. Tidak hanya dari kaum buruh dan tani, kelompok-kelompok terpelajar bahkan ibu-ibu juga ikut mengirimkan tulisan.

Dengan bangga, Njoto selaku Pimpinan Redaksi dalam tulisannya mengatakan,

“Harian Rakjat mempunyai kekuatan yang tidak dipunyai dan tidak mungkin dipunyai oleh harian-harian lain, yaitu koresponden-koresponden yang lahir di tengah-tengah massa. Setiap buruh, setiap pelajar, setiap orang bisa menjadi koresponden. Harian Rakjat maju karena jumlah koresponden juga, yang membantu dengan tidak terbatas.”7

Karena melibatkan massa rakyat, muatan informasi di Harian Rakjat lebih menyoroti apa yang menjadi kepentingan rakyat atau tuntutan gerakan. Fokus sorotan itu juga menjadi garis kebijakan redaksi, “redaksi mengharapkan surat-surat yang spontan, yang dengan sewajarnya menceritakan penghidupan dan kehidupannya,” tulis Njoto. “… yang sangat diharapkan ialah soal-soal tentang pengalaman sendiri, tentang kehidupan sehari-hari, kesukaran sehari-hari, perjuangan sehari-hari.”8

 

Kolom ‘Berita Daerah’ Harian Rakjat, 28 Januari 1955.

Keterlibatan rakyat pekerja dalam membesarkan Harian Rakjat tidak hanya lewat cara mengirimkan berita. Massa rakyat, mulai dari pengurus dan fungsionaris serikat hingga anggota biasa terlibat aktif dalam menyebarkan surat kabar itu ke banyak tempat: mulai dari warung kopi, kantin pabrik, tempat kerja, sawah hingga di kampung-kampung.

Keterlibatan aktif pengurus dan anggota serikat itu mendapat perhatian dari Njoto,

“Perjuangan di lapangan pers masih mempunyai segi yang lain, yaitu: bagaimana menyebarkan Harian Rakyat seluas-luasnya. Sebab, sesuatu harian perjuangan yang isi dan mutunya saja baik, belumlah cukup. Ia menuntut syarat lain agar ia benar-benar berguna di dalam perjuangan: ia harus dibaca oleh sebanyak-banyaknya orang, ia harus tersebar luas.”9

Pekerja di Harian Rakjat juga mempunyai kesadaran tinggi dalam memajukan surat kabar itu demi kemajuan gerakan rakyat. Dalam satu seri artikel Harian Rakjat, Njoto sebagai Pimpinan Redaksi bersama aktivis pergerakan lainnya, seperti Sekjen (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) Njono dikabarkan secara bergiliran ikut mengambil peran sebagai distributor koran di stasiun kereta api di Jakarta.10 Meskipun berposisi sebagai pimpinan, mereka tidak malu untuk terjun langsung bertemu dengan pembaca dan massa.

Militansi dalam rangka memperluas pembaca Harian Rakjat itu bahkan tertular hingga ke tingkat loper koran. Budayawan Putu Oka Sukanta menceritakan kisah seorang loper koran dalam cerpennya berjudul “The Paper Round” atau yang diterjemahkan sebagai “Loper”.11 Dalam cerpen itu, dikisahkan seorang guru yang merangkap sebagai loper dengan sepeda tuanya setiap hari mengantarkan Harian Rakjat sejak pagi hingga menjelang siang. Baginya, surat kabar itu sangat penting untuk kemajuan revolusi

Semangat tinggi dan antusiasme massa itu bisa terbentuk karena pers diposisikan sebagai satu bagian yang melekat dalam gerakan rakyat. Pers memainkan fungsi penting dalam memberikan penerangan atas kebutaan kita terhadap dunia. Mengenai peranan itu, Njoto memberikan penekanan bahwa,

“Pers menelanjangi ketidakadilan musuh-musuh rakyat. Pers melakukan propaganda untuk tuntutan-tuntutan dan cita-cita yang adil dari rakyat pekerja. Pers membantu mempersiapkan aksi-aksi mereka. Pers menyokong dan memperkuat mereka diwaktu beraksi. Pers menyiarkan kritik atas kesalahan-kesalahan yang terjadi di dalam suatu aksi. Pers mempertinggi kesadaran politik rakyat dan pers turut memperbaiki cara kerja dan metode perjuangan rakyat.”12

Dalam pandangan Njoto, perjuangan rakyat tanpa didukung oleh pers tidak mungkin atau sulit sekali mencapai kemenangan. Berbagai bentuk perlawanan rakyat mulai dari aksi massa, pemogokan, rapat-rapat akbar dapat mencapai kesuksesan, jika perlawanan itu dikuatkan oleh kampanye yang baik di dalam pers. Kampanye itu dapat turut membangun solidaritas dan dukungan yang luas dari rakyat secara umum. Oleh karena itu, pers haruslah setia kepada rakyat dan berorientasi pada perjuangan rakyat pekerja.

Meskipun telah puluhan tahun lamanya, metode dan garis politik yang diambil oleh Harian Rakjat masih relevan untuk diadaptasi dalam situasi hari ini. Dengan dilatarbelakangi oleh penguasaan ribuan media massa oleh konglomerat, massa rakyat dicekoki oleh informasi-informasi yang mengalihkan kita dari kenyataan tentang keterpurukan hidup rakyat. Rakyat diracuni oleh hiburan-hiburan yang tidak bermanfaat, informasi hoax atau terpapar oleh berita yang tidak mengungkapkan ketidakadilan.

Pengalihan kesadaran rakyat dari kenyataan ketidakadilan akan terus berlangsung selama rakyat tidak membangun pers-nya itu sendiri, pers yang berasal dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat. Para pejuang rakyat harus mulai lebih aktif mengampanyekan dan mengabarkan perlawanan-perlawanan dan ketidakadilan yang dihadapi rakyat pekerja, serta menggalang solidaritas luas. Untuk memulainya, kita dapat beranjak dari prinsip-prinsip pers rakyat yang diintisarikan dari pengalaman Harian Rakjat.

———————————————————————————————–

1 Lihat Ahmad B. Adam, The Vernacular Press and The Emergence of Modern Indonesian Consciousness (1855-1913). Ithaca, New York: Southeast Asia Program Cornell University, 1995.

2 Lihat Daniel Dhakidae, “The State, The Rise of Capital and The Fall of Political Journalism: Political Economy of Indonesian News Industry”, Disertasi Doktoral, Amerika Serikat, Cornell University, 1991 hlm 37

3 Lihat Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. (Hilmar Farid, Penerjemah). Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997.

4 Ahmat B. Adam, op. cit., hlm 159.

5 Daniel Dhakidae, op. cit., hlm 46.

6 Sumber utama uraian tentang Harian Rakjat merujuk pada Fadrik Aziz Firdausi, Njoto: Biografi Pemikiran 1951-1965, Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2017, hlm 69-88.

7 Njoto, “Pers dan Massa”, Harian Rakjat 11 Desember 1953, hlm. 3, dikutip dari ibid., hlm 149.

8 Ibid., hlm 148.

9. Penekanan oleh penulis. Lihat “Berdjuang dengan Pers” Harian Rakjat 25 Februari 1954, dikutip dari ibid., hlm 159.

10 Lihat Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan, Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965, Yogyakarta, Merakesumba: 2008.

11 Pernah dimuat di Harian Rakjat, 8 Maret 1964. Lihat Putu Oka Sukanta, Lies, Loss and Longing (Vern Cork, Leslie Dwyer, Keith Foulcher, John H. McGlynn, and Mary Zurbuchen, Penerjemah), Jakarta: Lontar, 2013.

12 Lihat “Pers dan Massa”, dimuat di Harian Rakjat 8 Desember 1953, hlm. 3, dikutip dari Fadrik Aziz Firdausi, op. cit., hlm 142.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here