Pers dan Rakyat Pekerja (Bagian 1)

0
514

Pekikan orasi buruh saat aksi banyak mengungkapkan tentang keluh-kesah penderitaan hidup sebagai seorang buruh. Mulai dari PHK sepihak, pemotongan upah, lembur tidak dibayar, masalah kepastian kerja, semua disuarakan diberbagai kesempatan. Tidak jarang pula buruh menyuarakan tuntutannya, menagih perlindungan atas hak-haknya sebagai warga negara. Suara itu tidak hanya satu, begitu nyaringnya suara-suara buruh hingga mengalahkan hiruk pikuk jalan raya.

Sayangnya, suara-suara kaum tertindas itu tenggelam begitu saja tanpa mendapat kesempatan untuk didengar. Adalah pers kapitalis yang bertanggungjawab atas tenggelamnya suara-suara buruh. Bagi pers kapitalis, suara buruh terlalu bising dan mengganggu telinga. Tidak ada yang menarik untuk merekam suara buruh. Tidak ada profit yang dapat dihasilkan dengan menampilkan suara buruh di halaman utama.

Bagaimana pers kapitalis memberitakan rakyat pekerja?

Jika ada peristiwa yang dimuat oleh pers kapitalis, isinya tidak menampilkan tuntutan buruh. Hanya hal-hal yang tidak relevan dan bahkan mendiskreditkan buruh yang mendapatkan tempat. Gambaran yang ditampilkan oleh pers kapitalis, mulai dari kondisi sampah yang berserakan, buruh yang menggunakan motor Ninja saat aksi, atau penggambaran gerakan buruh sebagai ‘aksi anarkis’.

Demo Buruh Tinggalkan Tumpukan Sampah,
Poskota News, 1 Mei 2017

Buruh Demo Naik Motor Seharga Rp50 Juta,
GoBekasi.co.id, 12 November 2015

Demo Buruh Anarkis, Pengusaha Ramai-Ramai Ancam Tutup Pabrik,
Detik, 2 November 2012

Ada Demo Buruh di Depan Istana, Lalin Harmoni Arah HI Macet
Detik, 6 Februari 2017

Majalah Tempo edisi 6-12 Februari 2012 misalnya, meskipun memberitakan aksi Grebek Pabrik yang ramai di Bekasi ketika itu, isinya justru mendiskreditkan buruh.1 Dalam laporan Tempo, gerakan buruh dianggap ‘dipolitisasi’ oleh elite pemerintah, sementara blokade jalan tol dikatakan sebagai perbuatan melanggar hukum dan menganggu ketertiban umum. Tempo menulis:

“… Ratusan pabrik terpaksa tak beroperasi, angkutan kota mogok, mal ditutup pengelola, citra kawasan ramah investasi tercoreng, dan ribuan pemakai jalan tol Jakarta-Cikampek teraniaya macet sepanjang 30 kilometer. Bahkan banyak ibu-ibu mengeluh lantaran kendaraan yang mereka tumpangi tak bisa berhenti di area rihat: mereka berjam-jam menahan hajat kecil.”

Bagaimana dengan tuntutan dan keluh-kesah buruh hidup dalam penindasan? Bagi pers kapitalis, tentunya suara buruh tidak dianggap penting, bahkan kalau perlu ditenggelamkan sama sekali. Pers kapitalis tidak ingin kesadaran massa buruh bangkit dan melawan tuan-tuan kapitalis. Tentunya, kebangkitan kesadaran massa buruh akan mengancam kepentingan kapitalis itu sendiri.

Keniscayaan itu dapat ditunjukan dengan wajah kepemilikan pers saat ini. Sejak pers berjalan layaknya industri, berita telah menjadi komoditi yang diperjual-belikan demi meraih profit.2 Ketika keran investasi dibuka lewat UU Penanaman Modal Asing Tahun 1967, pers telah menjadi industri berskala besar dengan perputaran uang yang besar pula. Perkembangan lanjutan itu mengarah hingga kepada konsentrasi kepemilikan media di bawah kuasa 12 konglomerat besar.

Tabel 1
Pemusatan Kepemilikan Media

No

Kelompok Bisnis

Tv

Radio

Media Cetak

Online Media

Bisnis Lainnya*

Pemilik

1 Global Mediacomm (MNC) 20 22 7 1 Produksi Konten, Distribusi Konten, Talent Management Hary Tanoesoedibjo
2 Jawa Pos Group 20 n/a 171 1 Paper Mills, Printing Plants, Power Plants Dahlan Iskan, Azrul Ananda
3 Kelompok Kompas Gramedia 10 12 88 2 Properti, Jaringan Toko Buku, Manufaktur, Event Organiser, Universitas Jakob Utama
4 Mahaka Media Group 2 19 5 n/a Event organiser, PR Konsultan Abdul Gani, Erick Thohir
5 Elang Mahkota Teknologi 3 n/a n/a 1 Telekomunikasi dan IT Solutions Keluarga Sariatmaadja
6 Trans Corp 2 n/a n/a 1 Jasa Finansial, Lifestyle and Entertainment, Sumber Daya Alam, Properti Chairul Tanjung
7 Visi Media Asia 2 n/a n/a 1 Sumber Daya Alam, Network Provider, Properti Bakrie & Brothers
8 Media Group 1 n/a 3 n/a Properti (hotel) Surya Paloh
9 MRA Media n/a 11 16 n/a Retail, Properti, Makanan dan Minuman, Otomotif Adiguna Soetowo & Soetikno Soedarjo
10 Femina Group n/a 2 14 n/a Talent Agency, Penerbitan Pia Alisjahbana
11 Tempo Inti Media 1 n/a 3 1 Produksi Dokumenter Yayasan Tempo
12 Beritasatu Media Holding 2 n/a 10 1 Properti, Pelayanan Kesehatan, Tv Kabel, Internet Service Provider, Universitas Lippo Grou

Sumber: Yanuar Nugroho, Dinita Andriani Putri dan Shita Laksmi (2012: 40)

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa yang dimaksud sebagai ‘konglomerat’ adalah kelas kapitalis. Kelas kapitalis itu, seperti Hary Tanoesoedibjo tidak hanya menguasai jaringan media massa, melainkan sejumlah bisnis-bisnis lainnya. Beberapa di antaranya bahkan juga penguasa partai politik, seperti Hary Tanoe penguasa Partai Perindo, Surya Paloh penguasa Partai Nasdem, atau Aburizal Bakrie penguasa Partai Golkar.

Karena di bawah penguasaan kaum pemodal, bahkan seringkali media massa digunakan sebagai alat untuk mempropagandakan kepentingan kaum pemodal itu sendiri. Khususnya pada setiap momen Pemilihan Umum, media massa seperti televisi kerap digunakan untuk meliput kegiatan-kegiatan partai politik yang dikuasai oleh kaum pemodal itu.3 Padahal kita tahu bahwa partai politik yang berkuasa saat ini di bawah kepemilikan kaum pemodal, selalu menghasilkan kebijakan yang anti terhadap rakyat.

Melihat kenyataan itu, menjadi jelas faktor penyebab tidak hadirnya suara-suara buruh di berbagai media massa. Peminggiran suara buruh di dalam media massa merupakan wujud nyata pertentangan antara kelas pekerja dengan kelas kapitalis. Singkatnya, gambaran kehidupan buruh tidak akan pernah diceritakan secara utuh di berbagai media massa yang dimiliki oleh kelas kapitalis.

Peminggiran suara buruh itu juga berdampak serius bagi kemajuan gerakan rakyat. Oleh karena suara buruh tidak mendapatkan tempat, maka kabar perjuangan buruh yang terorganisir tidak sampai ke massa rakyat secara luas. Lebih jauh lagi, upaya buruh menuntut haknya justru dapat dipatahkan lewat cibiran-cibiran akibat nada pemberitaan yang tidak simpatik. Sebagai akibatnya, gerakan buruh sulit untuk mendapat dukungan dan solidaritas dari massa rakyat.

Lihat Seri #PersdanRakyatPekerja


1 Lihat Abu Mufakhir, “Framing Majalah Tempo dan Lima Mitos Aksi Buruh”, Sedane 17 Februari 2012,
2 Lihat Rizal Assalam, “Modal, Negara dan Televisi (Bagian 1)” Remotivi 02 Desember 2014, <http://www.remotivi.or.id/amatan/36/Modal,-Negara,-dan-Televisi-(Bagian-I)>.
* bisnis lain yang juga dijalankan oleh kelompok media utama.
3 Lihat misalnya kajian Muhammad Heychael, Ed. “Independensi Televisi Menjelang Pemilu 2014: Ketika Media Jadi Corong Kepentingan Politik Pemilik (Bagian 1-3)”.Laporan Riset Divisi Penelitian Remotivi, Jakarta: Remotivi, 2014 dan Darmanto dan Puji Rianto, Ed. Media Terpenjara: Bayang-Bayang Pemilik dalam Pemberitaan Pemilu 2014. Yogyakarta: Perkumpulan Masyarakat Peduli Media (MPM), 2014

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here