Sambut May Day 2012: Lawan Ekonomi Politik Kapitalisme

0
873 views

Nomor : 095/DPP-KSN/IV/2012

Lawan Ekonomi Politik Kapitalisme!

  • Tetapkan upah layak
  • Hapus kerja kontrak dan outsourcing
  • Nasionalisasi industri minyak, gas, tambang dan perusahaan vital lainnya dibawah kontrol rakyat.

Salam Solidaritas,

Hari ini kaum buruh seluruh dunia kembali turun ke jalan untuk memperingati hari buruh sedunia sebagai hari kemenangan bagi kaum buruh. Lebih dari 1 abad yang lalu, kaum buruh di belahan dunia telah berjuang untuk jam kerja yang lebih layak, yaitu 8 jam bekerja jam istirahat, 8 jam rekreasi dengan melakukan aksi pemogokan. Sebelumnya, kaum buruh bekerja selama 12-16 jam, bahkan sampai 18 jam. Namun, perjuangan belum selesai, karena sampai hari ini kaum buruh masih terus ditindas, hak-haknya dirampas dan dipinggir oleh kaum modal, termasuk juga kaum buruh Indonesia. Pemberlakuan sistem kerja kontrak dan outsourcing (perbudakan moderen) yang semakin massif semenjak ditetapkannya UU Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003 di Indonesia kian memberikan ketidakpastian kerja dan masa depan bagi kaum buruh. Dapat dipecat sewaktu-waktu dan dikontrak seumur hidup pun seolah menjadi nasib yang tak dapat ditolak. Mahkamah Konstitusi pada Tanggal 17 Januari 2012 mengeluarkan Putusan bahwa sistem kerja outsourcing bertentangan dengan UUD 1945, tidak serta merta menghantikan praktik kerja yang memperbudak kaum buruh Indonesia.

Belum lagi, kebijakan upah murah yang di kenal Upah Minimum Provinsi/Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMP/UMK) yang setiap tahun di tetapkan dengan mengacu pada Permenaker No.17 tahun 2005. Selain regulasi yang buruk, juga seringkali UMP atau UMK di tetapkan dengan perselingkuhan antara Pemerintah dengan Pengusaha. Akhirnya setiap penetapan Upah di hampir semua kota atau provinsi di protes baik itu aksi turun ke jalan, penutupan Jalan Tol termasuk di pusat-pusat pemerintahan. Apalagi di tengah krisis, semua kebutuhan dasar semakin mahal, dengan Upah yang di terima kaum buruh tidaklah sebanding, sehingga untuk menutupi kebutuhan tersebut kaum buruh harus mencari kerja sampingan, yang tentunya membuat kaum buruh semakin menderita, karena mempergunakan waktu istirahatnya untuk menutupi kebutuhan dasarnya. Kaum buruh adalah manusia, yang semestinya kebutuhan seperti sandang, pangan dan papan, termasuk juga pendidikan, kesehatan, pergaulan sosial, serta rekreasi dan tabungan, harusnya terpenuhi dalam sistem pengupahan di Indonesia barulah bisa disebut Upah Layak bagi kaum buruh.

Penindasan kaum buruh tidak hanya terjadi di tempat kerja, tetapi juga di berbagai bidang kehidupan sosial lainnya, misalnya rencana kebijakan Pemerintah menaikkan harga BBM, jelas akan menambah beban dan semakin menyengsarakan kaum buruh. Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa kenaikan harga BBM akan diikuti oleh kenaikan harga-harga barang secara umum atau inflasi. Dan alasan pemerintah menaikkan harga BBM pun penuh dengan kepalsuan. Pemerintah mengatakan bahwa kenaikan harga minyak dunia akan mempengaruhi APBN, sehingga dalam rencana penetapan APBN-P 2012 akan mengurangi subsidi BBM. Padahal, anggaran sektor migas kita selalu untung, karena Indonesia masih merupakan eksportir minyak mentah, sehingga kalau harga minyak dunia naik, pendapatan minyak pun meningkat. Jadi bohong besar pemerintah jika kenaikan harga minyak dunia mempengaruhi, apalagi jebol APBN. Buktinya beberapa jam setelah DPR RI menunda sementara SBY dalam konprensi persnya mengatakan APBN aman.

DPR melakukan penundaan bukan karena keinginan para anggota DPR tetapi karena perlawanan rakyat yang begitu luas (buruh, tani, mahasiswa, nelayan, perempuan, Adat, pemuda dll), turun kejalan hingga menelan korban di masyarakat termasuk berbagai fasilitas umum di rusak massa di berbagai daerah termasuk merobohkan pagar DPR. Itu pun berhasil hanya menunda kenaikan harga BBM. Tetapi, penundaan bukanlah pembatalan. Pasal 7 ayat 6 (a) dalam UU APBN-P 2012, tetapi justru membuka kemungkinan bagi kenaikan harga BBM yang dilarang dalam UU APBN 2012 yang sebelumnya, sekalipun dengan syarat ada kenaikan harga minyak dunia sebesar 15% di atas asumsi yang ada dalam APBN-P 2012. Artinya, pemerintah tetap bisa menaikkan harga BBM sekarang ini. Oleh karena itu, yang perlu kita lakukan adalah menutup kemungkinan apapun bagi kenaikan harga BBM dengan menuntut pembatalan UU APBN-P 2012.

Pertanyaannya, apa sebenarnya akar dari berbagai persoalan buruh di atas? Jawabannya adalah sistem ekonomi politik kapitalisme. Apa itu ekonomi politik kapitalisme? Sederhananya, ekonomi politik kapitalisme yang motif utamanya adalah pengejaran keuntungan dan bukan kemaslahatan manusia. Dengan apa pengejaran keuntungan dilakukan? caranya melakukan penghisapan dan penindasan terhadap buruh dan rakyat tertindas lainnya. Begitu pula, ketika terjadi krisis dan tingkat  keuntungan menurun, kapitalisme akan berusaha menyelamatkan keuntungannya dengan menambah penindasan kepada kaum buruh dan rakyat tertindas lainnya. Itulah kenapa, semakin krisis terjadi, upah dibuat semakin murah, hubungan kerja dibuat sefleksibel mungkin untuk mengurangi resiko bagi kapital, dan sebagainya.

Dengan demikian kami Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Serikat Nasional (DPP-KSN) menyatakan sikap dan menuntut :

1. Nasionalisasi Industri minyak, gas, tambang dan perusahaan vital lainnya dibawah kontrol rakyat pekerja.
2. Hapuskan Sistem kerja Kontrak dan outsourcing
3. Batalkan Permenaker 17/2005 dan tetapkan Peraturan Upah Layak.
4. Efektifkan kinerja pengawasan pusat dan daerah
5. Lawan union busting.
6. Lawan PHK buruh
7. Lawan privatisasi asset strategis Bangsa
8. Lawan politik upah murah
9. Tolak kenaikan harga BBM
10. Bangun persatuan rakyat multi sektor

Jakarta, 30 Mei 2012

Dewan Pimpinan Pusat
Konfederasi Serikat Nasional
(DPP KSN)

Presiden

(Ahmad Daryoko)

Wakil Presiden I                        Wakil Presiden II

(M. Irzan Zulpakar)              (Mukhtar Guntur Kilat)

Contact Persons:
Ahmad Daryoko         : 0811167390
Muh. Irzan Zulpakar : 082184846599
Mukhtar Guntur K.   : 085342268888

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here