Pengantar Makanan Deliveroo Mogok Kerja Menentang Sistem Kerja Wirausaha Semu

0
270

Pengantar Redaksi

Perkembangan teknologi telah mempengaruhi konsep ‘bekerja’. Sejak 2-3 tahun terakhir ini, di Indonesia sempat ramai dengan istilah ‘ekonomi berbagi’ (sharing economy) ketika bisnis ekonomi berbasis aplikasi semakin populer dengan berkembangnya Gojek, Grab, atau Uber.

Oleh pendukungnya, ‘ekonomi berbagi’ dirayakan sebagai bentuk kebebasan di mana setiap orang dapat memiliki alat produksi. Kebebasan ini juga diartikan sebagai keleluasaan untuk bekerja, menentukan jam kerja, waktu istirahat dan pendapatan.
Namun, pada prakteknya ‘ekonomi berbagi’ tidak lantas menghilangkan ‘kelas pekerja’. Sebaliknya, model ekonomi itu telah memperdalam apa yang disebut sebagai ‘informalisasi’, ‘iregularisasi’, atau ‘fleksibilisasi’ tenaga kerja.

Model ekonomi itu justru memberikan ‘keleluasaan’ bagi pemilik modal (pemegang lisensi dan operator aplikasi) untuk menghindari kewajibannya memenuhi hak normatif buruh: pesangon, uang pension, jaminan kesehatan dan standar upah layak. Alih-alih bebas, pekerja justru terkekang oleh peraturan yang ditetapkan oleh pemilik aplikasi.

Pemilik modal dapat menghindari kewajiban itu karena mereka dapat mengatakan bahwa “mereka (pengendara Gojek, Grab, atau Uber misalnya) bukan pekerja, melainkan ‘partner’. Hubungan kami adalah kerja sama, bukan hubungan kerja upahan.”

Fenomena itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai belahan dunia, termasuk di Hong Kong, kondisi kerja yang semakin tidak menentu juga dialami oleh pekerja pengantar makanan Deliveroo. Deliveroo itu sendiri merupakan aplikasi yang mirip seperti yang kita gunakan di Indonesia, seperti Go Food atau aplikasi sejenis lainnya.

Merasa bahwa relasi kerja yang tidak adil, para pekerja itu memutuskan untuk melakukan mogok kerja selama dua hari. Artikel berikut ini diterjemahkan untuk memberikan wawasan kepada pekerja di Indonesia mengenai (kemiripan) apa yang terjadi di belahan dunia lain.

Mogok Pekerja Pengantar Makanan

Dewasa ini, sudah menjadi praktek umum bagi pengusaha untuk menghindari perlindungan tenaga kerja dengan mengubah pekerja menjadi wiraswasta (self-employed) semu.

23 Januari 2018, sekelompok pengendara perusahaan pengantar makanan Deliveroo melanjutkan pemogokan mereka selama 2 hari. Pemogokan mereka disebabkan oleh ketidakmenentuan hidup (precariousity) akibat kebijakan perusahaan Deliveroo.

Kenyataan kerja di Deliveroo sangat bertentangan dengan cerita-cerita dan impian-impian yang digambarkan di media massa. Media massa menggambarkan bahwa pekerja Deliveroo adalah wiraswasta. Kenyataannya, gambaran di media massa penuh kebohongan, iming-iming sebagai wirausaha membuat kondisi kerja para pekerja tidak begitu jelas. Contoh-contoh seperti dapat dilihat di industri lain.

Pekerja yang mogok mengatakan bahwa mereka disebut sebagai wiraswasta dalam kontrak. Namun, perusahaan membuat berbagai tuntutan pada jam kerja mereka dengan tarif sebesar HKD 75 per jam (Rp. 130 ribu). Lantas, jam kerja mempengaruhi upah masing-masing pekerja. Saat menandatangani kontrak, perusahaan telah mewajibkan (minimum) jam kerja 11 jam.

Saat ini perusahaan membuat kebijakan pengurangan jam kerja dan membuat jam kerja fleksibel. Dengan kata lain, kebijakan ini akan mengurangi pendapatan pekerja secara signifikan dan ‘melarang’ pekerja untuk berlibur setiap akhir pekan. Salah satu cara mudah untuk membedakan wirausaha “nyata” atau “palsu” adalah terkait kontrol atas jam kerja mereka, apakah mereka memiliki kontrol penuh atas jam kerja mereka atau tidak?

Alasan lain yang menyebabkan pekerja melakukan mogok adalah persoalan denda. Jalan yang sempit, beberapa area parkir, dan beberapa bangunan menerapkan peraturan yang ketat. Hal ini membuat para pekerja sangat mudah untuk didenda karena harus parkir di jalan dan butuh waktu lebih lama untuk mengantarkan makanan kepada konsumen.

Sebelumnya denda bagi mereka ditanggung oleh perusahaan. Di bawah kebijakan baru, perusahaan akan berhenti membayar denda bagi pengendara yang membuat beban kerja bagi pengantar makanan semakin berat. Seorang pekerja yang diwawancarai mengatakan mereka bisa saja didenda sebanyak dua kali dalam sehari jika hari buruk tengah menimpa mereka.

Salah satu pekerja yang mogok memiliki dua permintaan untuk perusahaan tersebut:

1. Memungkinkan pengendara untuk mengontrol jam kerja mereka atau mengangkat mereka sebagai pekerja formal. Jika perusahaan dengan tegas memberlakukan peraturan kerja yang baru, para pengendara ingin mendapatkan keuntungan yang sama dengan pekerja formal seperti: jaminan pensiun (Mandatory Pension Fund/MPF), asuransi tenaga kerja dan membayar pajak penghasilan.

2. Perusahaan mengganti uang pengantar makanan yang didenda.
Pada hari pertama pemogokan, Deliveroo belum memulai negosiasi formal apapun. Deliveroo hanya mengirimkan satu perwakilan mereka untuk menemui dan berbicara dengan para pekerja. Rabu 24 Januari 2018, ratusan pengirim makanan yang berasal dari berbagai latar belakang etnis yang berbeda masih melakukan pemogokan. Seorang pemogok mengatakan bahwa “masalah ini telah menyatukan pekerja dari berbagai negara seperti dari Pakistan, India dan warga lokal China.”

Sistem Wiraswasta Semu ini Menyulut Perjuangan di mana-mana.

Mulai Aksi mogok di Belanda dan Belgia
Perusahaan Deliveroo terbentuk di Inggris pada tahun 2013, yang disebut-sebut sebagai ‘model ketenagakerjaan baru.’ Perusahaan tersebut saat ini telah beroperasi di 12 negara, termasuk negara-negara Eropa, Singapura, Australia dan Uni Emirat Arab. Pada 2016, perusahaan tersebut memiliki pendapatan tahunan sebesar 129 juta Poundsterling (Rp. 2,4 Trilyun, dengan 13.000 karyawan dan 20.000 pengantar ‘wiraswasta.’

Baru-baru ini, pengantar makanan di Belanda dan Belgia melakukan pemogokan untuk memprotes perubahan status kontrak baru menjadi ‘wiraswasta’ semu pada 1 Februari.

Kabar Terakhir : Deliveroo Hong Kong menjamin tidak akan mengurangi jam kerja. Deliveroo akan mempertahankan jam kerja mereka selama 11 jam. Walaupun perjuangan ini bukan akhir yang sempurna, namun para pekerja memutuskan untuk menerimanya dan mengakhiri pemogokan. Menurut Konfederasi Serikat Buruh Hong Kong (HKCTU), sistem ‘wirausaha semu’ semacam ini telah menjadi sangat populer. Mereka akan terus melanjutkan pengorganisasian dan perjuangan mereka.

Sumber : “Fight for Stable Working Hour, Riders of Deliveroo Strike for 2 Days,” https://wknews.org/node/1644

Penerjemah: Petrus Putut (Semar UI)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here