Pengurangan Waktu Kerja: Relevankah Tuntutan Upah?

0
255
Ilustrasi jam kerja
Ilustrasi jam kerja

Jika sebelumnya saya berpendapat bahwa standar kesejahteraan bukanlah upah, apakah itu artinya bahwa tuntutan upah menjadi tidak penting dan tidak relevan? Saya tidak bermaksud untuk mengejek atau menghina kawan-kawan yang masih fokus pada tuntutan kenaikan upah.

Lebih jauh lagi saya akan menawarkan bahwa dengan mewujudkan gagasan pengurangan waktu kerja-lah maka tuntutan upah dapat ditempatkan juga di dalamnya sebagai dampak dari reforma yang progresif.

Sebelumnya saya telah menjelaskan bahwa pengurangan waktu kerja akan berdampak pada dibukanya lapangan pekerjaan secara besar-besaran untuk mengisi jumlah shift yang bertambah. Dengan hukum permintaan, di mana perusahaan (kapital) lah yang memerlukan kelas pekerja untuk mengisi shift-shift tambahan itu, maka harga jual (upah) tenaga kerja juga akan meningkat.

Di sinilah kesuksesan pengurangan waktu kerja berkaitan dengan tuntutan kenaikan upah yang selama ini terus dituntut.

Selama ini tuntutan upah tidak berdampingan dengan pemaksaan kepada para kapitalis untuk membuka lapangan pekerjaan baru. Adapun suara-suara untuk membuka lapangan pekerjaan, tapi tidak bersifat memaksa. Maka gagasan pengurangan waktu kerja ini dapat menjadi mata rantai penghubung untuk menghubungkan tuntutan upah dan pembukaan lapangan pekerjaan, sehingga kedua tuntutan itu menjadi terhubung satu sama lain secara progresif.

 

Membuat Tuntutan Kenaikan Upah Menjadi Progresif

Tuntutan kenaikan upah memiliki dua (2) kemungkinan sebagai dampaknya, di mana kemungkinan-kemungkinan ini merupakan cara bagi kapitalis untuk mempertahankan tingkat keuntungannya: Pertama, perusahaan dapat dengan mudah menyatakan bahwa mereka mengalami kebangkrutan, menutup pintu kantor atau pabrik mereka, lalu keluar dari daerah tersebut untuk mencari pasokan pekerja (di tempat lain) yang lebih murah upahnya.

Kedua, mereka bisa melakukan peningkatan teknologi dalam bentuk mesin, model organisasi, dlsb. Sehingga mereka dapat menjadi lebih produktif untuk menghasilkan komoditi secara lebih efisien dan efektif. Jika mereka melakukan poin kedua yang disebut di atas, mereka ‘mungkin’ menghindari ‘kebangkrutan’ dan memutuskan untuk tetap bertahan dengan iklim upah yang lebih tinggi – mungkin.

Kemungkinan kedua di atas lebih sering hanya menjadi kemungkinan ketimbang sesuatu yang terjadi. Ini dapat disebabkan oleh hukum persaingan sesama kapitalis, di mana perusahaan yang lebih kaya secara jumlah modal akan lebih mungkin untuk melakukan “peningkatan produktivitas” ini. Karena mereka hanya berbagi nilai lebih (keuntungan) yang kita (kelas pekerja) ciptakan, seharusnya kita tidak terlalu peduli kapitalis mana yang bertahan dari kompetisi semacam ini.

Mungkin dari sepuluh kapitalis yang berusaha meningkatkan produktivitas, hanya akan ada satu atau dua yang bisa bertahan selanjutnya. Saya tidak melihat kehancuran perusahaan-perusahaan (kapital) ini sebagai suatu yang salah. Karena memang kapital akan selalu saling memakan dan menghancurkan satu dengan lainnya untuk tetap mempertahankan modalnya.

Dari hukum persaingan semacam itu, jika kita melihat konteks Indonesia, banyak perusahaan (kapital) yang lebih memilih untuk mencari sumber pasokan pekerja yang lebih murah di tempat lain ketimbang “mengembangkan produktivitas”.

Apakah kita (kelas pekerja) dapat memaksa kapitalis agar melakukan tindakan progresif seperti “meningkatkan produktivitas” yang dimaksud di atas?

Tentu saja dengan gagasan pengurangan waktu kerja. Di mana upah akan naik bersamaan dengan dipotongnya jumlah waktu kerja kita (kelas pekerja). Kapital dipaksa untuk mengambil keputusan “meningkatkan produktivitas”, kapital tidak dapat memilih untuk kabur ke tempat lainnya, karena kapital hanya berbagi nilai lebih (keuntungan) yang diciptakan oleh kelas pekerja. Pengurangan waktu kerja akan membuat tuntutan upah menjadi tuntutan yang progresif dan tidak hanya sekedar menjadi tuntutan normatif.

Karena tuntutan kenaikan upah secara nasional membutuhkan prakondisi yang berlaku sebelumnya, di mana kenaikan upah menjadi mungkin bahkan bagi ekonom borjuis sekalipun. Untuk memungkinkannya kita (kelas pekerja) perlu melakukan pemaksaan. Bukan hanya dengan cara/metode aksi yang baru, tetapi juga dengan gagasan yang lebih tajam dan kuat.

Kombinasi antara pengurangan waktu kerja dengan kenaikan upah yang berlaku (mau tidak mau) agresif akan memaksa kapitalis untuk mengambil tanggung jawab untuk meningkatkan produktivitas (teknologi – mesin, organisasi, dlsb) agar tetap menguntungkan kelasnya (borjuasi).

Jika sebelumnya perusahaan seperti Exxon ataupun Apple duduk manis di atas gunung uang mereka dan menolak untuk menginvestasikan modalnya karena itu tidak cukup berguna untuk menghasilkan keuntungan, maka dengan kombinasi antara gagasan pengurangan waktu kerja dan tuntutan kenaikan upah yang agresif, akan memaksa mereka menginvestasikan uangnya.

Jika sebelumnya mereka tidak menginvestasikan uangnya karena itu tidak dapat menghasilkan keuntungan tambahan untuk mereka, kita aka mengubah logika investasi tersebut, di mana kita akan memaksa perusahaan manapun (kapital) untuk menginvestasikan uangnya – mau tidak mau – karena jika tidak diinvestasikan perusahaan akan mengalami pemotongan jumlah keuntungan (atau bahkan mengalami kerugian) dalam jumlah uang yang tidak sedikit.

Jika sebelumnya tuntutan kenaikan upah tidak dapat berlaku secara agresif untuk menaikkan jumlah upah secara besar-besaran, maka gagasan pengurangan waktu kerja akan membuka kemungkinan kenaikan upah yang bersifat agresif. Dikatakan bersifat agresif karena pengurangan waktu kerja adalah prakondisi untuk menciptakan kondisi di mana perusahaan (kapital) secara terang-terangan terlihat sangat membutuhkan pekerja tambahan.

Kombinasi antara gagasan pengurangan waktu kerja dengan kenaikan upah ini, akan memperjelas bahwa kelas pekerja tidak membutuhkan bos mereka, melainkan boss mereka-lah yang membutuhkan kelas pekerja untuk menghasilkan keuntungan (nilai lebih).

 

Posisi Tuntutan Kenaikan Upah

Sedari atas, saya terus berbicara mengenai kombinasi positif tuntutan upah dengan gagasan pengurangan waktu kerja. Tetapi sebenarnya apa posisi tuntutan kenaikan upah dalam gagasan pengurangan waktu kerja? Ini adalah pertanyaan yang menarik bagi saya.

Saya tidak mempersoalkan tuntutan kenaikan upah tiap tahunnya, di mana kita (kelas pekerja) lebih sibuk untuk memperhatikan berapa nominal yang akan masuk ke dalam kantong kita, ketimbang kualitas dari hidup kita sebagai manusia, jauh melampaui itu, saya lebih tertarik untuk menggagas mengenai kehidupan sejahtera dengan lebih sedikit pekerjaan (kerja upahan).

Kita hanya bisa mewujudkan hal itu dengan memaksa mereka yang memiliki kendali atas keputusan investasi untuk menginvestasikan uangnya demi perkembangan teknologi. Apabila sebelumnya kita membutuhkan sepuluh atau dua puluh pekerja dalam satu garis produksi, maka penggunaan teknologi baru yang dikembangkan diharapkan dapat memangkas jumlah penggunaan tenaga kerja seminimal mungkin.

Kita membutuhkan “peningkatan produktivitas” semacam itu jika kita ingin menjauh dari sistem masyarakat di mana orang harus menjual tenaga kerjanya sebagai jalan satu-satunya untuk bertahan hidup.

Tuntutan kenaikan upah yang bersifat agresif dan meluas dengan kombinasi pengurangan waktu kerja, akan mencegah perusahaan (kapital) untuk menghindari investasi peningkatan teknologi. Tingkatkan upah dengan nominal yang cukup tinggi (perubahan kuantitas) dan modal akan dipaksa untuk beralih kepada produksi yang sepenuhnya otomatis (perubahan kualitas).

Untuk menjembatani dan memungkinkan kedua perubahan itu, dibutuhkan gagasan pengurangan waktu kerja. Kita harus mulai menciptakan sebuah kondisi produksi di mana tidak ada alasan untuk tenaga kerja manusia dibutuhkan di dalamnya.

Inilah mengapa penting untuk menghubungkan antara gagasan pengurangan waktu kerja dengan tuntutan kenaikan upah.

Hari ini, karena upah tenaga kerja manusia lebih murah ketimbang investasi pengembangan teknologi baru, maka kemungkinan untuk mengembangkan produktivitas (melalui pengembangan teknologi) tidak pernah terbuka. Di sinilah tuntutan kenaikan upah harus dikaitkan dengan pengurangan waktu kerja. Di sini jugalah perubahan kuantitatif (kenaikan upah dan pengurangan waktu kerja) dapat menjadi cukup penting untuk terbukanya jalan bagi sosialisme dari masa depan (melalui otomatisasi).

Gagasan pengurangan waktu kerja dapat membuka kemungkinan untuk naiknya upah secara agresif, dan kenaikan upah secara agresif dapat membuka kemungkinan yang besar untuk memaksa perusahaan “mengembangkan produktivitas” (investasi dibidang ilmu pengetahuan dan tekologi).

Tuntutan kenaikan upah tidak akan bisa diperlemah karena gagasan pengurangan waktu kerja telah menjadi prakondisi yang memaksa perusahaan untuk menambah jumlah pekerja tambahan.

Kombinasi keduanya akan memaksa kelas borjuis untuk me-revolusioner-kan sistem produksi dengan mengembangkan teknologi – mesin, organisasi, dan lain sebagainya.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here