2.Upah dan Keuntungan Kapitalis

Untuk dapat menelusuri dasar penentuan upah, kita perlu merujuk kembali pada pernyataan bahwa tenaga kerja adalah komoditi yang diperjualbelikan. Komoditi itu sendiri dipertukarkan dengan harga yang dihitung dari biaya produksinya, yang terdiri dari biaya alat produksi (mesin, sewa tempat, bahan mentah, listrik dsb) dan biaya upah buruh (labor cost) ditambah dengan proyeksi persentase keuntungan. Lebih jelasnya simak ilustrasi berikut ini:

Dasar penentuan harga sepasang sepatu ditentukan oleh biaya atau ongkos produksinya. Setelah diketahui biaya produksinya, barulah pengusaha menambahkannya dengan % keuntungan yang ingin didapatkannya. Ambil contoh produksi komoditi sepatu. Untuk dapat menghasilkan sepasang sepatu dengan harga pabrik Rp. 500.000, pengusaha mengeluarkan biaya produksi yang terdiri dari kapital variabel dan kapital konstan.

Kapital konstan terdiri dari bahan baku, sewa tempat, perawatan mesin, dan kebutuhan operasional lainnya dengan total biaya Rp. 388.000. Sementara itu, kapital variabel yaitu biaya tenaga kerja buruh, ditetapkan Rp. 12.000/ pasang sepatu. Dengan total biaya produksi sebesar Rp. 400.000, pengusaha ingin mendapatkan untung sebesar 25% (Rp. 100.000). Total biaya produksi ditambah % keuntungan ini menjadikan harga sepatu dari pabrik sebesar Rp. 500.000.

Tabel 1: Ilustrasi Produksi Sepasang Sepatu

Kapital Konstan

– bahan baku

– sewa tempat

– perawatan mesin

– biaya operasional lainnya

Rp. 388.000

Kapital Variabel

upah buruh

Rp. 12.000

Biaya Produksi (Sub-Total)

Rp. 400.000

Keuntungan yang ingin didapat

25%

Rp. 100.000

Harga Pabrik (Total)

Rp. 500.000

Jika a) harga suatu komoditi ditentukan oleh biaya produksinya, lalu b) tenaga kerja adalah komoditi, maka apa saja biaya produksi tenaga kerja buruh dan berapa besarannya?

Biaya minimal untuk menghasilkan tenaga kerja tidak lain adalah biaya pemenuhan kebutuhan buruh untuk dapat bertahan hidup. Biaya ini juga termasuk pada biaya pemeliharaan keluarga, agar kelak anak sang buruh dapat menjadi buruh dikemudian hari saat orangtuanya tidak lagi sanggup bekerja sebagai buruh. Di luar biaya hidup, biaya produksi tenaga kerja juga dapat berupa biaya untuk memperoleh keterampilan tertentu seperti dalam kasus tenaga kerja terampil. Keseluruhan biaya inilah yang menjadikan buruh dapat bertahan hidup untuk dapat bekerja, tetap bekerja dan terus bekerja.

Dengan demikian, maka upah dapat diartikan sebagai harga dari tenaga kerja yang dimiliki buruh. Oleh sebab tenaga kerja diposisikan sebagai komoditi, maka besaran upah yang diterima buruh akan selalu berkisar pada biaya yang dibutuhkannya untuk menciptakan/ merawat tenaga kerja. Hal inilah yang menjadi dasar penentuan upah bagi kaum pemodal sebagai pemberi kerja/ majikan.

Logika di balik upah ini penting diuraikan terlebih dahulu untuk dapat menjelaskan tentang asal usul keuntungan yang dinikmati oleh kaum pemodal. Sebab sebagai komoditi, tenaga kerja mempunyai keistimewaan tersendiri dibandingkan komoditi-komoditi lainnya. Keistimewaan tersebut adalah kemampuan tenaga kerja untuk menciptakan nilai baru.

Pada ilustrasi sebelumnya, dalam sehari seorang buruh sepatu bersama timnya dapat memproduksi sepatu sebanyak 100 pasang. Selama 8 jam kerja, seorang buruh berkontribusi pada penciptaan nilai 100 pasang sepatu sebesar Rp. 5.000.000. Melihat upah yang diterima sebulan Rp. 3.000.000 atau Rp. 120.000/ hari, maka artinya hanya dengan upah tersebut seorang buruh mampu menciptakan nilai baru sebesar Rp. 4.880.000. Nilai baru itu dihitung dari pengurangan antara nilai komoditi yang dihasilkannya (Rp. 5.000.000) dengan biaya tenaga kerjanya dalam sehari (Rp. 120.000).

Sebagaimana telah dijelaskan, hasil kerja dari buruh, betapapun beratnya, tidak pernah dimiliki oleh buruh itu sendiri, melainkan dimiliki kaum pemodal sebagai pemilik alat produksi. Padahal, untuk dapat menghasilkan komoditi yang senilai dengan biaya tenaga kerjanya dalam sehari, yaitu Rp. 120.000, buruh hanya perlu bekerja selama kurang dari 1 jam saja! Dengan ongkos yang dikeluarkan pengusaha itu, dalam satu jam kerja saja buruh sanggup menciptakan nilai baru sebesar Rp. 610.000.

Tabel 2

Nilai Komoditi Sepatu dan Upah Seorang Buruh

1 Jam Kerja

1 Hari

(8 jam kerja)

1 Bulan

(25 hari kerja)

Produksi 100 Pasang Sepatu

Rp. 625.000

Rp. 5.000.000

Rp. 125.000.000

Upah Seorang Buruh

Rp. 15.000

Rp. 120.000

Rp. 3.000.000

Nilai Baru Hasil Kerja Buruh

Rp. 610.000

Rp. 4.880.000

Rp. 122.000.000

Jika kurang dari 1 jam buruh telah menghasilkan nilai yang setara dengan biaya tenaga kerjanya, maka selisih nilai yang dihasilkan selama 7 jam lebih pencurahan tenaga kerja buruh adalah upah yang tidak dibayarkan pengusaha. Inilah yang diartikan sebagai pencurian nilai lebih, yaitu kelebihan nilai atau curahan kerja buruh yang tidak dibayarkan oleh kaum pemodal Dalam bahasa sehari-hari kita mengenalinya sebagai penghisapan atau eksploitasi buruh.

Nilai lebih ini jugalah yang menjadi asal usul keuntungan atau profit yang dinikmati oleh kaum pemodal. Dalam kata lain, jauh sebelum sepatu hasil keringat buruh itu dijual, sebetulnya kaum pemodal telah mendapatkan keuntungan. Keuntungan itu tidak lain didapat dari hasil kerja buruh yang tidak dibayar. Jika proporsi upah buruh dari total nilai yang dihasilkannya selama sebulan hanya 2,4% (Rp. 3.000.000), maka proporsi nilai lebih atau profit yang dinikmati oleh kaum pemodal adalah 97,6% (Rp. 125.000.000)!

Mengapa keuntungan berasal dari kerja buruh yang tidak dibayar? Pertama, merujuk pada pernyataan sebelumnya, tenaga kerja merupakan komoditi unik karena mampu menciptakan nilai baru. Hal ini juga yang menjadi alasan kenapa tenaga kerja disebut sebagai ‘kapital variabel’. Kedua, tanpa curahan tenaga kerja, maka produksi tidak dapat dilakukan dan alat produksi tidak dapat beroperasi dan diolah. Ketiga, dibandingkan komponen alat produksi (kapital konstan), komponen labor cost dapat dinegosiasikan.

Alasan-alasan ini terkait dengan hukum persaingan dalam kapitalisme. Untuk dapat bertahan dalam sistem kapitalisme, pengusaha perlu menetapkan harga semurah mungkin agar dapat bersaing dengan pengusaha lainnya. Cara untuk dapat menetapkan harga murah tidak lain dengan menekan biaya produksinya serendah mungkin. Sementara untuk menekan biaya produksi, maka pengusaha perlu untuk melakukan produksi massal.

Sayangnya, biaya produksi kapital konstan tidak dapat diubah seenaknya oleh kaum pemodal. Semakin canggih mesin dan efisien bahan baku yang digunakan agar dapat melakukan produksi massal, maka tentu biaya yang dikeluarkan tidak akan murah. Pilihan lain yang dapat diambil pengusaha selain melakukan modernisasi alat produksi adalah memperpanjang jam kerja. Sayangnya, sekali lagi, jam kerja telah dibatasi maksimal 8 jam kerja—yang mana itu adalah hasil perjuangan berdarah kaum buruh pada peristiwa Haymarket tahun 1886 di Chicago, Amerika yang diperingati sebagai Hari Buruh Internasional (May Day).

Dengan keterbatasan pilihan itu, maka untuk mengimbangi biaya produksi yang membengkak akibat modernisasi alat produksi, jalan yang ditempuh adalah dengan menekan upah buruh serendah mungkin. Pilihan ini dimungkinkan, sebab jika dasar penentuan minimal upah adalah biaya kebutuhan agar buruh dapat sekedar bertahan hidup, maka dengan upah yang hanya cukup untuk sekali makan pun buruh tetap dapat bekerja keesokan harinya!

Sebagai penutup, bagian ini dapat disimpulkan dalam beberapa poin. Pertama, upah dihitung berdasarkan biaya kebutuhan dasar buruh untuk dapat sekedar bertahan hidup. Kedua, profit yang dinikmati kaum pemodal dihasilkan dari selisih antara kerja tak dibayar dengan kerja dibayar. Ketiga, dan masih terkait dengan kesimpulan kedua, labor cost atau upah merupakan komponen biaya produksi yang dapat ditekan dibandingkan biaya alat produksi.

Gambar 1

Komponen Harga Sepatu di Toko dan Upah Buruh

Sumber: Lembaga Informasi Perburuhan Sedane, (2015)

Lihat bagian sebelumnya:

Bagian 1: Memaknai Upah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here