1. Keterbatasan Perjuangan Upah

Upah pada dasarnya mencerminkan pertentangan/ kontradiksi kepentingan antara kaum buruh dengan kaum kapitalis. Ketika buruh menuntut kenaikan upah, maka hal ini berarti dapat mengurangi porsi profit/ keuntungan yang didapatkan kapitalis, yaitu seiring dengan naiknya kerja dibayar berbanding kerja tak dibayar. Sebaliknya, tekanan terhadap upah buruh berarti semakin meningkatkan profit/ keuntungan yang dinikmati kaum pemodal, atau dalam kata lain, meningkatkan tingkat eksploitasi buruh.

Oleh karenanya, kemampuan atau daya beli upah buruh cenderung berada di batas sekedar bertahan hidup saja (subsisten) tanpa kesempatan untuk mengembangkan kapasitas diri. Lemahnya kemampuan upah dalam memenuhi kebutuhan ini dapat dijelaskan melalui tiga cara melihat upah.

    1. Tiga Cara Melihat Upah

Bagaimana kita melihat nilai upah akan mempengaruhi penilaian kita tentang apa itu upah layak. Cara melihat upah itu juga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang pertentangan kepentingan antara kelas pekerja dan kelas kapitalis. Ketiga cara itu adalah upah nominal, upah riil dan upah relatif. Kita akan membahasnya satu per satu di bawah ini:

  1. Upah Nominal

Cara pandang upah nominal melihat nilai upah dari angka yang tertera pada upah tanpa memasukkan faktor-faktor lain seperti harga barang atau keuntungan perusahaan. Istilah “nominal” berasal dari bahasa Latin “nomen” atau “nominalis” yang memiliki arti “nama.” Cara pandang nominal melihat sesuatu dari namanya atau simbolnya.

Dalam hal upah, nilai nominal upah dilihat dari angka yang tertera secara langsung pada upah tersebut. Jadi, jika pada bulan tertentu upah kita adalah Rp. 3.000.000, kemudian di bulan depan berubah menjadi Rp. 3.500.000, maka cara pandang nominal akan melihat bahwa upah kita telah naik sebesar Rp. 500.000.

Cara pandang nominal adalah cara pandang dengan tingkat kesadaran paling rendah. Dengan mengambil contoh di atas, tidak peduli berapa tingkat kenaikan harga barang dan daya beli upah, nilai upah tetap dianggap naik, karena angkanya naik. Karena itu, cara pandang ini bisa menipu kita. Kita akan melihat persoalan ini di pembahasan berikutnya dengan membandingkan upah nominal dengan upah riil.

  1. Upah Riil

Cara pandang upah riil melihat nilai upah dibandingkan dengan harga-harga barang. Dengan kata lain, cara pandang upah riil melihat daya beli upah tersebut. Istilah “riil” dalam “upah riil” sepertinya berasal dari anggapan umum bahwa fungsi upah adalah untuk mengakses barang-barang kebutuhan hidup. Upah nominal dan upah riil bisa berbeda nilainya. Bisa saja upah nominal terlihat naik, tapi upah riil sebenarnya turun.

Kita teruskan contoh di atas, upah Rp. 3.000.000 yang nilai nominalnya naik menjadi Rp. 3.500.000 di bulan berikutnya. Kenaikannya adalah Rp. 500.000 atau sekitar 16,7%. Katakanlah di bulan pertama itu, Rp. 3.000.000 sama harganya dengan HP Samsung jenis X yang harganya juga Rp. 3.000.000. Jika tidak terjadi kenaikan harga barang, maka kenaikan upah Rp. 3.500.000 tidak hanya bisa membeli HP Samsung X, tapi juga ditambah barang lain seharga Rp. 500.000.

Namun, jika harga-harga barang juga naik sebesar 16,7%, maka harga HP Samsung X juga akan naik dari Rp 3.000.000 menjadi Rp 3.500.000. Dengan demikian, kenaikan upah dari Rp3 juta menjadi Rp 3.500.000 hanya bisa membeli HP Samsung X tanpa tambahan barang lainnya. Dengan kata lain, meski nilai nominal upah naik, tetapi upah riil stagnan, karena terjadi kenaikan harga-harga barang yang sebanding dengan kenaikan upah.

Tapi, bagaimana seandainya harga-harga barang naik sebesar 50%? Harga HP Samsung X yang di bulan pertama Rp 3.000.000 akan naik menjadi Rp. 4.500.000. Jika di bulan pertama, upah Rp 3.000.000 bisa membeli HP Samsung X yang harganya masih Rp 3.000.000, di bulan berikutnya, upah yang naik menjadi Rp. 3.500.000 sudah tidak bisa membeli HP Samsung X yang harganya naik menjadi Rp. 4.500.000.

Yang terjadi di sini adalah tingkat kenaikan upah berada di bawah tingkat kenaikan harga sehingga upah riilnya turun. Dengan kata lain, meski nilai nominal upah naik, daya beli upah sebenarnya turun sehingga barang-barang yang tadinya bisa dibeli menjadi tidak bisa dibeli lagi. Tapi, berapa penurunan nilai upah riil dalam contoh di atas? Untuk itu, kita perlu mengetahui dulu berapa upah riilnya. Rumus upah riil sebenarnya cukup sederhana:

Kalau rumus itu kita terapkan untuk contoh terakhir di atas dimana terjadi kenaikan harga-harga barang sebesar 50%, yang angka nominalnya diwakili oleh HP Samsung X, maka upah riil dalam contoh di atas adalah:

Dari perhitungan di atas, meski upah nominal naik sekitar 16,7% dari Rp 3.000.000 menjadi Rp. 3.500.000, tetapi karena harga-harga barang juga naik sebesar 50%, maka nilai upah riil sebenarnya turun sebesar 22% dari Rp 3.000.000 menjadi Rp. 2.300.000. Ini adalah contoh dimana kenaikan upah nominal bisa menipu, karena upah riilnya sebenarnya turun.

Jadi, hubungan upah nominal dengan upah riil bisa selaras, tapi bisa juga bertentangan atau bahkan bertolak-belakang. Jika tingkat kenaikan upah nominal berada di atas tingkat kenaikan harga, maka upah riil akan naik. Jika tingkat kenaikan upah nominal sama dengan tingkat kenaikan harga, maka upah riil akan stagnan. Jika tingkat kenaikan upah nominal berada di bawah tingkat kenaikan harga, maka upah riil akan turun.

Di atas, kita sudah menjelaskan logika dasar upah riil dengan menggunakan contoh-contoh. Sekarang, mari kita lihat data aktual upah nominal dan upah riil untuk melihat apakah selama ini upah riil di Indonesia cenderung naik, stagnan atau turun. Karena data upah riil sudah dihitung oleh Badan Pusat Statistik (BPS), kita bisa menggunakan data BPS. BPS mengklasifikasi buruh menjadi buruh industri, hotel, perdagangan, peternakan dan perikanan, serta pertambangan. Begitu pula, BPS menghitung data harga barang konsumen (Indeks Harga Konsumen) per 3 bulan. Kita hanya mengambil data buruh industri per Maret 2007-2014 saja:

Tabel 3

Upah Nominal dan Upah Riil Buruh Industri Per Maret 2007-2014

Tahun

Indeks Harga Konsumen

Upah Nominal (000)

Upah Riil (000)

2007

100,00

1019,0

1019,0

2008

105,34

1093,4

1038,0

2009

114,27

1134,7

993,0

2010

118,19

1182,4

1000,4

2011

126,05

1343,5

1065,9

2012

131,05

1600,0

1220,9

2013

138,78

1816,4

1308,8

2014

148,92

1962,3

1317,7

Sumber: Data BPS, https://www.bps.go.id/

Untuk mempermudah kita melihat kecenderungan upah riil serta gap yang ada antara upah nominal dan upah riil, kita bisa buat grafik dari data di atas sebagai berikut:


Sumber: Diolah dari data BPS, https://www.bps.go.id/

Berdasarkan data BPS di atas, kita bisa lihat gap yang terjadi antara kenaikan upah nominal dan rupah riil. Antara tahun 2008-2009 malah sempat terjadi hubungan yang bertolak-belakang antara upah nominal dengan upah riil, dimana upah nominal naik dari Rp. 1.093.400 menjadi Rp. 1.134.700 sementara upah riil turun dari Rp. 1.038.000 menjadi Rp. 993.000.

Selama 2007-2014, upah riil memang cenderung naik meski kenaikannya berada di bawah upah nominal. Kenaikan upah riil ini tentu saja bukan karena pengusaha baik hati, tetapi karena kaum buruh gencar melakukan aksi-aksi massa, seperti aksi massa tiap tahun untuk UMK/UMP dan beberapa kali Mogok Nasional. Kenaikan upah riil karena gencarnya aksi-aksi buruh inilah yang membuat pengusaha dan Negara pro-pengusaha khawatir, sehingga mereka mengeluarkan PP Pengupahan.

Lihat bagian sebelumnya:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here