Pengorganisiran dan Gerakan Menanam

1
391

Tentang Pengorganisiran

Pengorganisiran tidak bisa difokuskan hanya pada satu segmen atau bidang. Karena bidang yang satu dengan yang lain saling berkaitan. Seperti halnya mengorganisir buruh, itu tidak cukup hanya mencakup buruhnya saja. Pasalnya, di samping buruh, ada anak buruh, lingkungan buruh dan keluarga buruh. Kita tidak bisa menutup mata terhadap ini semua.

Mari kita ambil contoh kondisi ekonomi dan geografis di daerah Cisaroni, Lembang, yang berbatasan langsung dengan hutan Jaya Giri dan Patahan Lembang. Kondisi alam ini membentuk dunia penduduk asli di situ.

Adapun Desa Cikahuripan di Kec, Lembang, Kab Bandung Barat terbagi menjadi 4 dusun, 10 RW dan 58 RT:

 kondisi ekonomi dan geografis di daerah Cisaroni, Lembang,
kondisi ekonomi dan geografis di daerah Cisaroni, Lembang,

Cisaroni masuk dalam dusun III dengan kepadatan penduduk di atas rata-rata. Hasil pemetaan baru memperlihatkan satu RT yang paling padat penduduknya. RT ini adalah RT 05 yang saya tempati, yang terdiri dari 68 KK dan 55 umpi. Mata pencaharian warga di RT ini adalah 50 persen peternak sapi, 25 persen buruh tani dan 25 persen buruh bangunan. Melihat kondisi ini, kita tidak mungkin mengorganisir hanya satu bagian saja.

Pengorganisiran diawali dengan pembentukan sanggar belajar anak-anak petani. Di sini, terdapat keterbatasan sarana pendidikan dimana cuma ada dua sekolah dasar di satu desa yang begitu luas. Sekolah ini tentu saja tidak bisa mengakomodir semua kebutuhan anak didik. Di sekolah itu, juga ada keterbatasan ruang kelas yang mengakibatkan para murid harus berbagi kelas dengan murid lain. Melihat situasi yang demikian, dibentuklah sanggar belajar anak –anak warga. Semboyan “bermain sambil belajar” merangsang kreativitas anak. Anak-anak ini disamping tidak punya mimpi, mereka juga kurang mendapat informasi. Informasi yang didapat hanya satu arah, yaitu dari “masjid”.

Mengorganisir anak-anak justru tidak mudah karena mereka punya orang tua yang notabene sibuk dengan kegiatan mereka sebagai buruh dan peternak. Rata-rata orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anak ke sekolah. Hambatan atas sanggar begitu besar berupa penolakan-penolakan oleh tokoh masyarakat. Alasannya masjid jadi kosong setelah ada sanggar. Berkat pendekatan yang kita lakukan ke warga, sanggar masih bisa berjalan sampai saat ini. Pemberdayaan warga mulai dilakukan. Program ekonomi mandiri disusupkan dengan cara slengean dan rumpi, seperti pembibitan tanaman, catering, pembuatan krupuk nasi dan manisan pepaya. Kita belum memikirkan hasil yang maksimal, karena mereka mau melakukan itu saja sudah merupakan hasil.

Warga kebanyakan menggantungkan hidupnya dari upah buruh tani yang tidak sesuai dengan pengeluaran sehari-hari. Buruh tani laki-laki mendapat upah Rp 30.000-Rp 35.000/4jam, sementara buruh perempuan Rp 20.000-25.000/4jam.

Siang hari waktu digunakan untuk ngarit rumput di gunung buat pakan sapi. Memelihara sapi juga bukan alternatif perekonomian yang memadai. Peternak sapi itu ibarat buruh kasar di pabrik susu. Penghasilan peternak sapi per ekor dihitung per 15 hari. Harga per liter susu di KPSBU adalah Rp. 4.500. Adapun hasil susu per satu ekor sapi per hari adalah 12 liter. Jadi, penghitungannya 12ltr x Rp4500 x 15 = Rp.810.00. Biaya produksinya adalah pakan sapi seharga Rp. 450.000, belum lagi biaya hutan perhutani untuk menanam rumput dan potongan pinjaman koperasi dan waserba yang harganya sama dengan di supermarket.

Total pendapatan peternak sapi /per 15 hari, dengan demikian, adalah Rp 810.000 – 450.000 – biaya lahan – angsuran pinjaman= tak terhitung. Sementara kita belum bisa bergerak lebih, mengingat mereka sudah turun temurun jadi buruh pabrik susu. Sementara yang dihadapi adalah korporasi sangat besar.

Program Penanaman

Lahan pertanian di Lembang sebenarnya sudah ditinggalkan oleh petani aslinya. Karena unsur hara sudah di ambang batas. Perilaku petani yang bergantung pada obat-obatan kimia adalah faktor utama ketandusan tanah, di samping perilaku pabrik obat kimia yang membodohi petani. Dengan berbagai merek, insektisida dan pestisida dibuat untuk mengebalkan hama, supaya petani makin tergantung pada produk kimia. Rekayasa genetika bibit pun dilakukan produsen besar dengan cara dimandulkan supaya petani tidak bisa membuat bibit sendiri.

Cengkeraman tengkulak yang menjerat leher petani pun jadi imbas perekonomian petani sendiri. Bibit, pupuk yang di-drop tengkulak ke petani, membuat petani tidak bisa berkutik tentang harga.

Melihat kondisi yang demikian rupa, saya memulai percobaan fermentasi pupuk kandang. Dimulai sendiri dengan penggunaan pupuk dasar kotoran sapi yang sudah difermentasi, kemudian diaplikasikan dengan kompos dan kotoran ayam. Para petani tidak mau melakukan hal ini karena prosesnya lama sementara mereka ditunggu hasil untuk kebutuhan sehari-hari. Berbagai cara dilakukan untuk memberi penjelasan dan berdiskusi dengan petani yang mau mengubah sistem bertani. Urine kelinci dan kotoran sapi yang dulu selalu dibuang, sedikit demi sedikit mulai dipakai buat pupuk tanaman sayur. Air cucian beras yang biasa dibuang juga sudah mulai dipakai buat pupuk tanaman sebagai mikroba alami. Bergelut di tengah-tengah kesibukan mereka harus dengan kesabaran dan kekebalan yang tinggi. Mereka tidak bodoh cuma tidak paham akan hakekat menanam dan menyuburkan tanah.

Tugasku belum selesai, masih banyak PR yang harus dilakukan untuk menuju ekonomi mandiri warga dan mengentaskan kebodohan generasi selanjutnya.***

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here