“Pematang dan Imajinasi tentang Kemerdekaan Petani” (intermezo siang; catatan perjalanan)

0
740 views

Oleh: Ajeng Kesuma*

Garis di kejauhan yang tampak dalam pandangan saya pada pagi itu, adalah pertemuan hijau bentang sawah dengan putih arakan awan di atasnya.  Pada kejapan mata berikutnya, jejeran bukit dengan beberapa sisinya yang mengalami kebotakan seperti memberi waktu bagi saya untuk istirahat sejenak dari ketermanguan menyaksikan orang-orang bercaping bambu yang tersebar di areal sawah dan ladang-ladang.  Mungkin merekalah petani sesungguhnya, yang juga berdaulat atas tanahnya. Tapi mungkin juga mereka hanya petani gurem. Sepertinya petani, tapi sesungguhnya mereka hanya buruh tani saja.

Kejapan mata berikutnya, kembali saya disuguhi hamparan sawah dan ladang. Beberapa tengah panen, beberapa sedang menyemai benih, sebagian lagi tengah menyiangi. Sekilas terlihat ibu-ibu dan beberapa anak sedang melepas jagung-jagung dari tangkainya yang mulai mencoklat di sepetak ladang jagung.  Ada keriaan di wajah mereka. Tapi saya tak bisa mengetahui apakah keriaan wajah itu akan berlanjut begitu mereka membawa jagung-jagung itu ke pasar. Atau justru sebaiknya. Mengingat negara ini tak pernah memberikan jaminan harga terhadap hasil panen petani. Petanilah yang paling sering berhadapan dengan spekulasi harga, mulai dari harga bibit, pupuk dan harga jual hasil panennya. Sayang saya tak bisa bertanya langsung, karena kilasan pandangan itu hanya dapat saya nikmati dari balik jendela kereta yang membawa saya ke kota Solo.

Padi, palawija, kelapa, pisang, pepaya dan tanaman pertanian lainnya yang saya temui di sepanjang perjalanan semakin memperjelas alasan kenapa kita harus menolak kebijakan pemerintah untuk mengimport berbagai komoditas pertanian. Karena faktanya, negara ini adalah negara agraris. Masyarakat kita pun secara umum adalah masyarakat agraris (selain juga sebagai masyarakat maritim, karena salah satu kekuatan nusantara adalah kejayaan maritimnya di masa lampau). Masyarakat agraris hidup dengan kulturnya yang khas. Bagi mereka, bertani tidak sekedar untuk mata pencarian. Tidak semata-mata untuk mempertahankan hidup. Bertani, bagi masyarakat agraris adalah kehidupan itu sendiri.  Bertani artinya, merawat tanah dan menghormati leluhur.  Bertani juga artinya bermasyarakat, saat dimana interaksi sosial terbangun. Ada tolong menolong disana, ada kerjasama yang dibangun.  Bertani pun dimaknai sebagai cara untuk memupuk rasa empati.  Karena masyarakat agraris selalu memiliki tradisi, menyisipkan sebagian dari hasil panennya untuk membantu masyarakat lain yang berkebutuhan. Entah melalui jimpitan, atau istilah lain dengan tujuan yang sama.  Lebih dari itu, bagi masyarakat agraris, bertani pun adalah penghayatan kepada Tuhan.  Hampir semua tradisi bertani yang ada di nusantara memiliki upacara-upacara syukur saat panen dan upacara-upacara memohon pada Tuhan mereka saat menjelang bertanam.

Tanyalah pada petani-petani kita, bagaimana imajinasi mereka tentang kemerdekaan.  Mereka akan bicara tentang kepemilikan tanah dan rasa aman, mereka akan bicara tentang bibit dan pupuk, mereka bicara tentang peribadahan, mereka bicara tentang kemasyarakatan, mereka akan bicara tentang kesejahteraan.  Seperti layaknya mereka menjalani kemerdekaan hidup dengan bertani, dalam arti yang luas.  Petani, selalu punya imajinasi tentang kemerdekaan mereka sebagai petani.

Itu yang tidak dimiliki pemimpin di negeri ini.  Mereka tak memiliki imajinasi tentang kemerdekaan sebagai negara agraris.  Kebijakan mereka tak sampai ke jantung kehidupan petani. Bahkan kebijakan yang dikeluarkan justru memperlemah denyut jantung petani. Bagaimana tidak. Pemerintah mengeluarkan kebijakan kemudahan bagi investor asing untuk penggunaan tanah sebagai basis investasi industri besar yang bertolak belakang dengan kehidupan petani. Bahkan sebagin besar tanah-tanah tersebut adalah tanah produktif yang masih dikelola oleh petani. Mengakibatkan terjadinya penyusutan lahan pertanian dari tahun ke tahun. Pemerintah melakukan pembiaran terhadap spekulan pasar untuk memainkan harga komoditas pertanian.  Pemerintah  juga membiarkan berjamurnya perusahaan-perusahaan bibit dan pupuk besar yang sebagian modalnya merupakan milik negara asing, masuk dan memonopoli bibit dan pupuk dipasar melalui permainan harga.  Perusahaan-perusahaan dengan kekuasaan kepemilikan hak paten sebagian besar bibit yang beredar di pasar.   Salah satunya menyebabkan dipenjaranya seorang petani di jawa timur karena dianggap menggunakan, membudidayakan dan menjual bibit yang hak patennya sudah dimiliki salah satu perusahaan asing.  Serta masih sederet contoh kebijakan lainnya, yang berdampak buruk bagi masa depan sebuah negara dan masyarakat agraris.

Pemimpin di negeri ini seperti orang-orangan sawah yang digunakan untuk mengusir burung-burung pemakan tanaman padi. Tampak seperti manusia, tapi sesungguhnya mereka tak punya pikir, jiwa dan rasa. Mereka hanya rangka yang digerak-gerakkan. Bedanya, jika orang-orangan sawah dapat mengusir burung, pemimpin negeri ini bukan hanya tak lagi mampu melindungi tanaman padi.  Juga tak mampu melindungi hidup dan kehidupan petani. Gerakan mereka yang sangat lambat saja  tak mampu mengusir burung-burung pemakan padi milik petani, konon lagi mengusir monster-monster yang mencabik tubuh-tubuh petani.

*Penulis adalah pengelola forum diskusi mingguan yang bernama Warung Dardja

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here