Pekerja Perempuan di Pabrik dan Serikatnya Laki-laki

0
69 views
Resensi Made in Degenham
Pemogokan buruh perempuan pabrik Dagenham, Inggris tahun 1968 yang diadaptasi menjadi film ‘Made in Dagenham’. Kredit: Google.com

RESENSI KOLABORASI DUA FILM

Judul: North Country

Tahun Rilis: 2005 (Amerika Serikat)

Sutradara: Niki Caro

Durasi: 126 menit

Judul: Made in Dagenham

Tahun Rilis: 2010 (Inggris)

Sutradara: Nigel Cole

Durasi: 113 menit

 

Perempuan buruh setidaknya menyandang dua status yang membuatnya dalam posisi rentan pada ketertindasan. Pertama, dia perempuan dalam masyarakat yang patriarkis. Dia perempuan dalam masyarakat yang justru akan mencari-cari kesalahannya ketika dia dilecehkan, atau mengharuskannya mengerjakan tugas-tugas rumah tangga yang sebetulnya dapat dibagi secara proporsional dengan pasangannya. Kedua, dia bagian dari kelas buruh yang dipandang rendah curahan kerjanya dalam masyarakat kapitalis. Dia adalah bagian dari kelas yang kerja kerasnya tidak diganjar dengan pantas. Banyak di antara buruh mengorbakan masa remaja dan kesehatannya demi meremajakan dan menjaga kesehatan kapital, lantaran tak tersedia baginya pilihan lain.

Jika mengemban dua status itu belum cukup berat, bayangkanlah diri sebagai Josey Aimes dalam North Country. Josey bukan hanya perempuan buruh, dia juga menyandang status lain yaitu janda cerai setelah meninggalkan suaminya yang hobi selingkuh dan gemar memukul. Josey kemudian pulang ke rumahnya, rumah seorang laki-laki: ayahnya, Hank Aimes. Hank tidak begitu trenyuh pada kondisi anak perempuanya yang pulang dengan lebam di wajah. Ia justru mencurigai anak perempuannya berulah sehingga mengundang pukulan dari pasangannya.

Membawa dua anak, Josey yang tak mau membebani orang tuanya memutuskan untuk bekerja di pertambangan besi. Ayahnya juga bekerja di pertambangan besi tersebut. Film yang dirilis 2005 ini berlatar 1989, hampir 15 tahun setelah pertambangan di Minnesota Utara untuk pertama kali turut mempekerjakan perempuan pada 1975. Apakah terbukanya tambang bagi pekerja perempuan merupakan kemenangan bagi kaum perempuan? Tunggu dulu.. Josey dan buruh perempuan lain toh kemudian menemukan diri mereka di tengan-tengah pabriknya laki-laki, pabrik yang dimiliki pemodal laki-laki dan didominasi pekerja laki-laki. Tidak hanya itu, serikatnya pun serikat laki-laki yang tidak terlalu menganggap serius suara anggota perempuan. Terkepung di pabrik dan tak didengar di serikat, para buruh perempuan pun semakin rentan menjadi korban pelecehan sehari-hari. Ketika pelecehan terhadap para buruh perempuan semakin kurang ajar dan tanpa malu-malu, Josey yang kerap menjadi sasaran menolak berpasrah diri. Ia memecah kebisuan kawan-kawannya—tindakan berani yang memperuncing permusuhan, lalu mengajukan gugatan class action di pengadilan.

Kasus Josey bukan kasus yang berdiri sendiri. Mari kita menyeberang ke Inggris, tempat Rita O’Grady menjahit jok mobil untuk Ford dalam Made in Dagenham. Ia barangkali bukan janda seperti Josey, tapi ia pun buruh perempuan. Ia bekerja di pabrik milik laki-laki yang didominasi buruh laki-laki, berserikat dalam serikat yang kebanyakan anggotanya laki-laki dan dipimpin laki-laki. Kisah Rita terjadi dua dekade lebih awal dari kisahnya Josey, diambil dari kejadian nyata pemogokan buruh perempuan pabrik Ford Dagenham pada 1968. Rita sendiri merupakan tokoh fiktif dalam film yang rilis pada 2010 tersebut.

Perjuangan Rita dalam Made in Dagenham bermula dari pihak manajemen yang secara abai menggolongkan pekerjaan para buruh perempuan yang menjahit jok mobil sebagai kategori B, pekerjaan yang hanya membutuhkan sedikit keterampilan. Padahal kebanyakan buruh di Dagenham masuk dalam kategori C, pekerjaannya dianggap membutuhkan keterampilan lebih. Selain dianggap tidak terampil, buruh perempuan juga menerima upah 15 persen lebih rendah dari buruh laki-laki dalam kategori pekerjaan yang sama. Rita dan kawan-kawannya pun melancarkan mogok sehari agar keterampilan buruh perempuan diakui dan upahnya disetarakan dengan buruh laki-laki. Pengumuman mogok disambut gembira, dengan tepuk tangan dan sorak sorai seisi bagian penjahit jok mobil. Semua solid mogok keluar pabrik selama sehari.

Jika hanya dengan sehari mogok saja manajemen sudah melunak dan tuntutan buruh perempuan langsung dipenuhi, maka Made in Dagenham hanya akan jadi film pendek dengan durasi kurang-lebih sepuluh menit. Para buruh perempuan Dagenham harus melanjutkan mogoknya dan bukan hanya menghadapi pihak manajemen, tapi juga pimpinan serikat yang berupaya menjegal mogok, buruh sepabrik yang merasa dirugikan oleh mogok, dan bahkan suami sendiri yang mulai memprotes aksi mogok istrinya.

Dibanding North Country yang muram, Made in Dagenham jauh lebih santai dalam menampilkan isu perjuangan buruh perempuan. Jika dalam North Country Charlize Theron membawakan sosok Josey yang tegar sekaligus sentimental, dalam Made in Dagenham Sally Hawkins membawakan sosok Rita yang ceria dan bersemangat. Seolah Sally Hawkins masih belum beranjak dari film Happy-Go-Lucky yang ia bintangi setahun sebelumnya.

Keluarga: Beban atau Kekuatan?

Kedua film memulai cerita dengan keluarga protagonis sebagai narasi utamanya. Hanya saja nuansa dua keluarga yang diceritakan bertolak belakang. Belum juga durasi berjalan lima menit, Josey sudah dalam keadaan babak belur dihajar suaminya. Anak sulung Josey, remaja apatis bernama Sammy, melengos kesal ketika Josey mengajaknya berkemas dan pulang ke Minnesota. Sementara anak keduanya menangis melihat lebam di wajah ibunya. “Cobalah kamu menjadi aku, baru katakan padaku apa itu ketabahan,” kata Josey mengawali film yang penuh nelangsa.

Penggambaran suasana yang mesra dan egaliter dalam keluarga Rita di awal film ini penting untuk membangun cerita. Sebab meningkatnya skala dan intensitas mogok buruh perempuan Dagenham yang dipimpin Rita seiring dengan memburuknya kemesraan dalam keluarga Rita. Tanpa menggambarkan suasana mesra pada awal film, kita tidak akan tahu apa yang Rita dan keluarganya pertaruhkan ketika menjalankan pemogokan. Kita juga tidak akan tahu bagaimana sikap egaliter suaminya diuji di saat-saat genting. Eddie yang pada awalnya mendukung keputusan mogok Rita kemudian memprotes secara halus, lalu akhirnya memuncak pada saling berteriak satu sama lain. “Selamat datang ke dunia nyata! Inilah pemogokan.. Kita berakhir tidak punya uang dan meneriaki satu sama lain!” bentak Eddie pada Rita di kooridor rusun.

Kata siapa kemurkaan Frank dan pembangkangan Sammy tak ada hubungannya dengan isu perburuhan? Justru inilah yang jadi salah satu persoalan utama dalam North Country. Frank sejak awal menyatakan malu jika putrinya bekerja di pertambangan yang sama tempat ia bekerja. Sementara dalam salah satu episode pembangkangannya, Sammy mengaku malu ibunya bekerja di pertambangan “sebab para ibu lain tak ada yang bekerja di pertambangan,”. Jika saja Sammy bukan dalam film North Country melainkan dalam salah satu episode sinetron Hidayah, pastilah ia sudah kena tulah sebagai anak durhaka.

Baik dalam North Country maupun Made in Dagenham, dinamika keluarga tergambar kental mengiringi konteks perjuangan buruh perempuan protagonis. Memang ada saat-saat di mana kita bisa menganggap keluarga dua buruh perempuan ini sebagai beban dalam perjuangan. Tapi barangkali di sini kita perlu mengubah cara pandang terhadap persoalan keluarga. Keluarga merupakaninstitusi terpenting dalam siklus reproduksi kelas pekerja, rumah di mana para buruh akan kembali dan kembali lagi. Betapa pun akrabnya para buruh dengan keluarganya masing-masing, betapa pun mesra dan egaliter, keberpihakan dan dukungan keluarga terhadap agenda-agenda perjuangan buruh tidak bisa diasumsikan sebagai hal yang otomatis tersedia. Keberpihakan dan dukungan dari keluarga pun perlu diperjuangkan juga, sama halnya dengan simpati dari khalayak banyak di luar rumah.

Serikat (dan) Laki-laki: Kawan atau Lawan?

Baik dalam North Country maupun Made in Dagenham, buruh perempuan merupakan minoritas di pabrik dan serikatnya. Jika dalam keadaan mayoritas pun buruh perempuan kerap tersisih dari posisi memimpin, dalam keadaan minoritas buruh perempuan kerap dihambat oleh serikatnya sendiri. Serikat bukannya menjadi wahana perjuangan malah ikut menjadi pihak yang menekan. Ini jelas sekali terlihat pada North Country, di mana serikat tak mau tahu perkara-perkara yang harus dihadapi perempuan yang secara biologis berbeda dari laki-laki. Glory, perwakilan buruh perempuan di serikat, harus berpanjang lebar menjelaskan mengapa para sopir truk perempuan membutuhkan toilet portabel di pertambangan.

Dalam North Country, konflik sebenarnya bukan antara buruh dan majikan, melainkan antara buruh perempuan dengan buruh laki-laki patriarkis yang hobi melecehkan perempuan. North Country mampu meyulut emosi penonton lantaran film ini menampilkan bentuk-bentuk pelecehan yang sering kita dengar tapi tak pernah kita lhat langsung, dan pelaku utama pelecehan adalah para buruh laki-laki. Pelecehan dilangsungkan lewat berbagai cara, dari mulai verbal hingga fisik. Tujuannya pun ada yang untuk mempermalukan dan tak jarang pula kekurang ajaran seksual. Buruh laki-laki dan perempuan yang sebenarnya dalam posisi kelas yang sama dan ditindas oleh majikan yang sama toh tidak otomatis membuat keduanya akur. Betapa pun sama-sama kelas pekerja tertindas, banyak buruh laki-laki masih terhibur pada ilusi patriarkis bahwa laki-laki derajatnya lebih tinggi dari perempuan.

Berbeda dengan Film sebelumnya, bila Made in Dagenham, konflik utama terjadi antara buruh perempuan dan majikan. Memang ada nuansa patriarkis dalam konflik itu. Buruh perempuan keterampilannya dianggap lebih rendah sehingga layak mendapat upah yang lebih rendah pula. Aksi pemogokan awal mereka yang hanya sehari hanya ditanggapi dingin oleh manajemen. Pada saat tawar-menawar yang alot inilah organisator serikat korup bernama Monty berusaha menjegal perjuangan Rita dan kawan-kawan. Monty kemudian berkomplot dengan pimpinan serikat lain untuk menyudahi pemogokan Dagenham. Salah satu pimpinan yang anti-pemogokan mengutip Marx dengan konyol dan serampangan, “men write their own history,” ditafsirkan olehnya menjadi “para laki-laki menulis sejarah mereka sendiri,”.

Melalui dua film ini, kita dapat melihat bahwa serikat dan laki-laki merupakan dua entitas yang hidup dalam masyarakat kapitalis dan tidak imun dari penyakit-penyakit masyarakat kapitalis, begitu pun perempuan. Seorang laki-laki tidak lantas bebas dari pandangan bias terhadap perempuan hanya karena ia menjadi organisator serikat. Seorang buruh perempuan juga bisa saja memusuhi buruh perempuan lain yang sedang memperjuangkan harkat dan martabat buruh perempuan. Bagi perjuangan kelas pekerja, tidak ada keberpihakan dan dukungan yang dapat diasumsikan otomatis akan datang dengan sendirinya. Semua harus diperjuangkan dan dimenangkan.

Tonton filmnya

Made in Dagenham: http://lk21.me/made-dagenham-2010/

North Country:  http://lk21.me/north-country-2005/

 

*Azhar Irfansyah, Peneliti Lembaga Info Perburuhan Sedane (LIPS)

Artikel sebelumnya dimuat di website pergerakan.org. Dimuat ulang untuk tujuan pendidikan

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here