Obituari: Kenangan (Alm.) Koswara dan (Alm.) Bina

0
18 views

Sejak kemarin pagi, ketika saya menerima kabar tentang perginya Almarhum Koswara (48 tahun), saya merasa kehilangan. Sejak kemarin juga, kenang-kenangan terus muncul di ingatan saya.

Saya ingat banyak saat di sekretariattariat Federasi Serikat Buruh Karya Utama (FSBKU) di Cimone dan juga di Cikupa, ketika saya diterima secara terbuka dan hangat oleh Almarhum Koswara, Almarhum Bina dan semua kawan lainnya. Saya ingat duduk-duduk di atas tikar merah di sekretariat Cimone di tengah kawan-kawan yang lagi rapat. Pasti ada kopi. Pak Bina dengan senyumnya yang lembut menulis di papan tulis. Koswara yang bersila berbicara dengan suara yang halus, bukan keras.

Saya ingat malam minggu berada di antara buruh-buruh yang menjadi murid-murid “Sekolah Malam” di sekretariat Cikupa. Pada malam hari di Cikupa sudah tidak panas, tapi ada angin segar dan cuacanya berkabut. Suasana di sekretariat santai, tapi fokus. Seperti peserta lainnya, saya mendengarkan fasilitator yang memberikan materi tentang sejarah gerakan buruh Indonesia. Belajar mengenai gerakan buruh adalah seperti nonton film atau membaca novel yang menggetarkan hati.

Perasaan saya tatkali berada di antara kawan-kawan FSBKU selalu nyaman dan diterima. Saya merasa suasana seperti itu sejak kali pertama saya berkunjung ke Tangerang untuk ikut acara perayaan ulang tahun Partai Rakyat Pekerja (PRP) pada Mei tahun 2009. Di tahun 2010, 2011, 2013 dan 2014 saya tinggal di sekretariat Cimone bersama Nuzul (kakak dan sekaligus ibu saya) selama berminggu-minggu. Ketika malam hari, kawan-kawan rapat sampai larut, saya biasa tidur dengan nyenyak di kamar yang sama. Betapa nyamannya perasaan saya.

Setelah merenungkan, saya yakin rasa nyaman itu bukan hal yang wajar. Saya tidak mengalami perasaan yang sama di antara organisasi-organisasi lain. Saya pernah diingatkan: “Itu kesadaran kelas buruh”. Tapi kesadaran itu tidak jatuh dari langit. Ternyata pengalaman saya adalah hasil ‘pembudidayaan’ kekeluargaan dan kesetaraan organisasi. Almarhum Koswara dan Almarhum Bina adalah kedua orang pemimpin yang sungguh mewujudkan budaya organisasi itu.

Dari cerita-cerita kawan-kawan, Koswara adalah orang yang ditakuti oleh manajemen-manajemen perusahaan. Daryanti pernah pulang dari hari kerja yang pertama di suatu perusahaan sepatu. Pada hari itu, perusahaan memberikan pengarahan kepada para buruh yang baru masuk perusahaan tersebut. Daryanti bercerita, para laki-laki disuruh duduk di depan dan perempuan di belakang. Tampaknya, si instruktor menganggap para laki-laki lebih pintar dari pada para perempuan, maka lebih layak untuk mendengarkan paparannya. Pengarahannya adalah, di antara lain, mengenai hak-hak buruh.

Perusahaan itu menyuplai merek-merek sepatu internasional yang berupaya untuk menjaga nama baik mereknya. Daryanti bercerita mengenai apa yang disampaikan si instruktor: “Perusahaan Nike mempersilakan karyawan ikut organisasi. Nike akan senang kalau karyawan-karyawan berserikat. Tapi janganlah ikut Koswara, itu sang provokator!”

(Alm) Koswara Memimpin Aksi Aliansi Buruh Darurat Upah Nopember 2016. Dokumentasi KSN

Almarhum Koswara ditakuti perusahaan. Tetapi saya melihat Koswara dan Bina adalah orang yang lembut. Pernah saya menginap di sekretariat Cikupa. Di kamar sebelahnya, Kodirin curhat kepada Koswara, dan Koswara curhat kepada Kodirin tentang betapa beratnya rasa kangen kepada keluarga di kampung.

Waktu itu saya belajar mengenai sisi realitas upah murah dan tidak adanya perlindungan sosial—yang sebelumnya mungkin saya belum begitu tahu. Sebelumnya, saya lebih banyak mengetahui tentang kondisi-kondisi di pabrik dan aksi-aksi di jalan. Tapi perjuangan pribadi seorang buruh melawan rasa sedih dan kerinduan jarang diperhitungkan dalam gambaran-gambaran realitas buruh.

Seringkali saya terkesan oleh sikap kepedulian dan perhatian di antara kawan-kawan FSBKU. Suatu hari, ketika saya mau pulang ke Jerman dan sedang menyiapkan tas, ada Almarhum Bina di sekretariat Cimone. Bina ke luar, dan berangkat naik motor. Kembali ke sekretariat, dia memberikan titipan ‘Gingerbon’. “Buat ibu dan bapak, karena di Jerman pasti tidak ada permen ini”. Waktu itu saya sungguh terharu oleh perhatian Pak Bina, yang sebetulnya lagi sibuk megurus hal-hal lain yang pasti lebih mendesak dari pada membelikan saya oleh-oleh!

Koswara dan Bina adalah pemimpin yang terus membangun kekeluargaan dan kesetaraan. Mereka tegas tapi sekaligus lembut. Keduanya juga mempunyai perhatian yang tulus kepada orang lain. Perhatian begitu besarnya hingga mereka “mewakafkan umur mereka untuk perjuangan rakyat pekerja”. Perhatian tulus mereka tidak berhenti di depan seorang dari luar negeri, seperti saya.

Saya sangat mengagumi dengan Koswara dan Bina, dan saya sangat mengagumi dengan kawan-kawan FSBKU yang terus mewujudkan sikap dan mimpi kedua pemimpin yang luar biasanya tidak dapat dijelaskan degan tepat oleh kata-kata saya.

Saya turut berduka cita atas perginya Koswara dan Bina sedalam-dalamnya. Buat keluarga dan kawan-kawan yang berada di sana, semoga diberi ketabahan.

 

Berlin, 20 Juni 2017

Sahabatmu

‘Samiyem’

 

 

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here