KABAR duka dari buruh di Tangerang datang pada Kamis pagi, 26 Oktober 2017. Sebuah pabrik kembang api terbakar hebat, memerangkap sekitar 103 buruh hingga mereka tak bisa keluar dan berakhir menjadi korban. Sedikitnya 48 buruh meninggal dan 46 lain luka-luka.

Cerita tentang bagaimana nasib buruh yang menjadi korban jiwa seperti ini bukanlah kali pertama. Terlalu sering kisah soal para buruh yang menjual waktu, tenaga, dan pikirannya untuk dibayar dengan upah murah, kemudian menjadi korban—kecelakaan ataupun meninggal di tempat kerja. Belum lagi persoalan-persoalan normatif buruh yang mudah ditemukan di kantong-kantong industri negara kepulauan ini: Status kerja kontrak, tidak mendapatkan cuti haid, pemutusan hubungan kerja sepihak, dan lain sebagainya.

Pelbagai persoalan perburuhan seperti inilah yang sehari-hari biasa diadvokasi oleh Romli M. Zein, salah seorang penggiat Federasi Serikat Buruh Karya Utama (FSBKU). Sayangnya, ia tidak akan bisa membela buruh atau keluarga buruh yang menjadi korban ledakan pabrik tersebut. Begitu juga ia tak akan lagi bisa membela persoalan normatif buruh-buruh lain. Langkah kaki perjuangannya telah mencapai akhir, menyisakan jasa dan kenangan bagi mereka yang pernah dibela oleh Romli.

Romli tiba-tiba pergi meninggalkan Tangerang yang panas pada Kamis sore, dalam setengah abad usianya. Seusai rapat untuk membuat rencana operasional koperasi produksi yang dibuat oleh dia dan rekan-rekannya di serikat, ia terjatuh dan tak dapat tertolong lagi. Menyisakan duka bagi keluarga, bagi kawan-kawan, bagi buruh-buruh pabrik.

Tahun lalu dua kali ia datang ke rumah saya untuk keperluan memasang rak buku. Dari tangannya yang kasar, Romli—yang kini menjadi tukang kayu—telah menghasilkan karya yang halus. Sederet buku Pramoedya Ananta Toer, Paulo Coelho, hingga Eka Kurniawan menghiasi rak buku buatannya. Saya yakin para penulis hebat itu bakal senang jika melihat buku-buku yang mereka tulis dengan hati, tersimpan rapi di dalam rak yang rapi karya seorang buruh.

Segelas kopi yang saya tawarkan kepadanya saat memasang rak buku itu ditolaknya. Tawaran segelas teh saya ajukan dan diterima. Selepas bekerja, duduk menikmati teh, ia bercerita panjang-lebar tentang bagaimana ia kini membangun usaha bersama teman-temannya. Saya hanya mengangguk-anggukan kepala menikmati setiap detail cerita kehidupannya.

Romantisme 13 tahun lalu saat saya mengenalnya kali pertama juga jadi topik hangat perbincangan kami. Saat itu saya masih mahasiswa baru, yang tak tahu apa-apa, dan mengenalnya yang telah memimpin aksi ribuan buruh dari Tangerang yang di-PHK sepihak. Satu bulan lebih mereka menduduki Kementerian Ketenagakerjaan—dulu bernama Departemen Tenaga Kerja—untuk menuntut hak pekerja yang dipecat tanpa pesangon karena pemilik modal kabur ke negara asalnya.

Keahlian Romli membuat rak buku atau lemari tak lepas dari pengalamannya bekerja di pabrik kayu selama 20 tahun di Tangerang, sebelum akhirnya ia dan rekan-rekannya dipecat secara sepihak oleh perusahaan itu.

Romli memimpin protes PHK sepihak, dan memobilisasi kawan-kawannya untuk duduki pabrik selama 1,5 tahun sembari berjuang di ranah hukum. Hingga putusan akhir pengadilan mengabulkan gugatan para buruh.

Dan bukan sebatas nilai besaran pesangon yang hendak dia cari. Lebih dari itu adalah harga diri dan haknya sebagai buruh yang selayaknya harus dipenuhi, bukan dicampakkan setelah tenaga buruh diisap pengusaha. Dan dalam banyak kondisi perburuhan di Indonesia, hak-hak itu harus direbut.

Romli bukan seorang pemimpin serikat buruh yang haus posisi politik; bukan jabatan atau harta yang dia cari. Keadilan adalah yang dia cari, sesuatu yang absurd, tak kasat mata tapi kasat rasa.

Si buruh kayu yang sadar soal kelas dan haknya itu kini telah pergi. Wajahnya masih samar-samar terbayang. Sedih masih tersisa. Ia pergi hanya berselang beberapa bulan setelah sahabat karibnya dalam gerakan buruh, Koswara, terlebih dulu menghadap Sang Khalik karena serangan jantung. Dan kini Romli pergi menyusul Koswara. Seakan-akan ada kerinduan dalam diri Romli pada sahabatnya, begitupun sebaliknya.

Romli adalah satu dari segelintir pejuang buruh yang telah pergi karena sakit. Bina adalah rekan satu serikat yang telah pergi lebih dulu. Juga John Silaban, aktivis buruh dari Federasi Perjuangan Buruh Indonesia. Juga Beno Widodo dan Joko Sumantri dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia.

Kini mereka berkumpul bersama di sisi Tuhan, memandang kita dari langit, menunggu (dan menyaksikan) generasi-generasi baru yang menggantikan ketulusan perjuangan mereka.

Apa yang Romli lakukan tak tercatat oleh buku sejarah—mungkin belum. Dan, saya yakin ia tak mempersoalkan hal itu karena ia bukan sosok yang gandrung popularitas. Jika pun tidak tertulis dalam sejarah, apa yang setengah hidupnya ia lakoni telah tertanam dan bersemai dalam benak para buruh pabrik yang telah merasakan perjuangannya secara tulus. Dan dari mulut para buruh itulah terucap doa untuk segala kebaikannya. Amin.

 

Alfa Gumilang aktif di Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI)

 

Tulisan ini sebelumnya telah diterbitkan di Tirto.id. Diterbitkan ulang untuk tujuan pendidikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here