Meski Kemerdekaan Kami Dirampas, Kami Akan Terus Berjuang

0
661
Massa Aksi Gerakan Buruh Bersama Rakyat Menolak Revisi UUK (16/08).
Massa Aksi Gerakan Buruh Bersama Rakyat Menolak Revisi UUK (16/08).

Tidak ada kemerdekaan bagi rakyat pekerja jika pemiskinan terus terjadi. Kemerdekaan menjadi omong kosong ketika rakyat pekerja yang hendak menyuarakan pendapatnya dihadang, dipukuli, ditangkap dan ditelanjangi oleh aparat. Oleh negara, pengusaha diberikan kemerdekaan untuk mengeksploitasi rakyat dan sumber daya yang dikandung bumi sembari merenggut kemerdekaan rakyat hidup mandiri di atas kaki sendiri.

Watak sesungguhnya negara kapitalis semakin terlihat pada tiga hari terakhir. Ribuan buruh dan pemuda dihadang di berbagai tempat oleh aparat agar jangan sampai mencoreng wajah Jokowi yang tengah berpidato di Gedung DPR/ MPR RI Jumat, 16 Agustus lalu. Massa buruh dan pemuda dilarang untuk bersuara menyampaikan penolakannya terhadap rencana revisi UU Ketenagakerjaan yang ingin semakin melenturkan pasar tenaga kerja.

Pelarangan tidak hanya dilakukan dengan menghadang massa aksi yang akan berunjuk rasa di Gedung DPR/ MPR RI. Sebanyak 21 massa aksi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) ditangkap, dipukuli dan dibawa paksa ke Polda Metro Jaya. Dua anggota serikat Konfederasi Serikat Nasional (KSN) ikut menjadi korban kekerasan fisik dan verbal aparat. Aparat telah melanggar aturannya sendiri dengan menangkap dan memukul warga sipil tanpa alasan dan tanpa barang bukti serta mengabaikan asas ‘praduga tak bersalah’.

Aparat berkilah bahwa tujuh orang massa aksi yang ditangkap di depan Gedung TVRI akan melakukan provokasi lantaran berpakaian hitam-hitam. Padahal, ketujuh orang tersebut berpakaian dengan warna beragam dan bahkan tidak melakukan kegiatan apapun. Meski aparat menggeledah paksa barang-barang dan merampas telepon genggam milik ketujuh korban kekerasan aparat, tidak ada satu pun barang ditemukan sebagai bukti tindakan provokasi.

Sejak Peringatan Hari Buruh Internasional yang lalu, aparat berupaya mengadu-domba rakyat pekerja dengan menuduh sebagian kelompok sebagai ‘penyusup’, ‘bukan buruh’ dan ‘provokator’. Padahal setengah dari 21 orang yang ditangkap merupakan anak-anak muda yang gelisah akan masa depannya yang semakin tidak pasti akibat Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja. Aparat tampak tidak ingin anak-anak muda pekerja dan calon pekerja ini mengetahui watak asli negara yang menghamba pada pemodal.

Aparat juga berusaha keras melindungi buruk rupa majikannya dari upaya pengungkapan kebenaran yang dilakukan oleh para wartawan. Wartawan yang tengah meliput di Gedung TVRI juga menjadi korban kekerasan dan intimidasi aparat. Mereka dipaksa untuk menghapus video dan foto tindakan brutal aparat terhadap massa aksi. Aparat tampaknya hanya membolehkan dirinya dicitrakan dengan baik seperti dalam program acara ‘86’ yang ditayangkan di Net TV.

Negara boleh saja merayakan keberhasilannya merenggut kemerdekaan rakyat pekerja dalam bersuara dan menghalau kami berunjuk rasa di tengah momen Jokowi berpidato. Namun, tidak sedikit pun kami menganggap keberhasilan negara tersebut adalah kekalahan bagi gerakan rakyat. Sebaliknya, Negara telah membantu membuka mata rakyat pekerja atas sikapnya yang anti-rakyat.

Atas dasar uraian situasi di atas, maka kami dari Konfederasi Serikat Nasional menyatakan:

  1. Mengutuk tindakan represif dan penghalauan aparat terhadap massa aksi GEBRAK
  2. Menuntut Jokowi untuk bertanggung jawab dan meminta maaf kepada korban kekerasan aparat dan pembatasan hak berpendapat dan berkumpul
  3. Menuntut pertanggungjawaban Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri) dengan mengusut tuntas pelanggaran prosedur penangkapan dan asas ‘praduga tak bersalah’ dengan melibatkan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)
  4. Mendesak Pemerintah untuk membatalkan rencana revisi UU Ketenagakerjaan serta melibatkan seluruh rakyat pekerja dalam menyusun UU Perlindungan Buruh
  5. Menyerukan bagi segenap rakyat pekerja untuk terus berjuang menghapuskan setiap bentuk penindasan terhadap rakyat pekerja dan penghancuran lingkungan

 

Jakarta, 18 Agustus 2019

                                                  Konfederasi Serikat Nasional

Hermawan Heri Susantyo

 

Simak Konferensi Pers GEBRAK 17 Agustus 2019

https://web.facebook.com/Jurnal.KSN/posts/2324249187815063

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here