Menanggung Kerugian Perusahaan, Hutang Pekerja Alfamart Capai 10 Juta

0
8,530 views
Karyawan Alfamart, kredit foto: istimewa

Dibalik senyuman ramah pekerja PT. Alfamart melayani pelanggannya, terdapat tumpukan hutang yang membebani para pekerja

Hampir dapat dipastikan, saat toko retail PT. Sumber Alfaria Alfamart melakukan stock opname setiap bulannya, pekerja akan menanggung kerugian dari selisih perhitungan barang. “Hutang salah satu pekerja di sini dapat mencapai lebih dari Rp. 5.000.000 yang harus dilunasi sebelum ia berhenti kerja,” papar Ketua Serikat Buruh Karya Utama Retail Pergudangan dan Pertokoan (SBKU-RPP) PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Cikokol Zaenal Rusli.

Rata-rata selisih perhitungan barang yang tercatat dalam Nota Barang Hilang (NBH) yang dibebankan kepada pekerja mencapai Rp. 500.000/ bulan. Berdasarkan informasi dari Rusli, perusahaan menetapkan batas potongan bulanan tidak melebihi 30% dari gaji yang diterima oleh pekerja. “Maka, potongan gaji setiap bulan hanya sekitar Rp. 100.000, sisa Rp. 400.000 dihitung sebagai hutang,” kata Uci, sapaan akrab ketua serikat itu.

Karena setiap bulan selalu ada selisih perhitungan, maka sisa potongan yang tidak terbayar itu terus terakumulasi hingga mencapai jutaan rupiah.

Aturan perusahaan ini dirasakan memberatkan pekerja. Dalam hal ini, terdapat berbagai faktor penyebab adanya selisih perhitungan barang antara barang masuk, total penjualan, dengan sisa barang di toko atau gudang. Faktor tersebut bisa dikarenakan oleh perilaku pekerja, kurangnya pengawasan, pencurian pihak luar atau kesalahan administrasi penyedia barang. Meskipun demikian, pihak pekerja tidak merasa pernah mencuri barang.

Perusahaan justru membebankan kerugian kepada pekerja. Adapun Batas Toleransi Kehilangan (BTK) yang ditetapkan perusahaan hanyalah 0,02% dari total penjualan barang.

Proporsi pemotongan berbeda-beda untuk setiap posisi pekerja. “Untuk posisi Helper jatah potongannya adalah 1,00% dari total NBH, untuk Driver 0,50%, Picker 1,00%, Admin 1,25%, Checker 1,25%, Officer 1,75% dan tertinggi Coordinator sebesar 3,00%,” ungkap Uci saat dihubungi redaksi. “Hanya manajer yang tidak menerima potongan upah.”

Tanyakan Masalah Stock Opname, Pengurus Serikat di-PHK Secara Sepihak

Jengah akan adanya pembebanan kerugian, pekerja Alfamart melakukan protes dengan menunda stock opname 15 September 2015. Para pekerja beralasan proses stock opname selama ini bermasalah. “Kondisi barang seringkali berantakan sehingga sulit dihitung. Kondisi ini kemudian rentan berujung pada kehilangan barang,” kata Uci menjelaskan.

Penundaan yang dilakukan oleh seluruh pekerja Alfamart ini kemudian berujung pada PHK sepihak pengurus SBKU RPP PT. Alfamart Nadi Suryadi pada 15 Desember 2016 dan ancaman sanksi bagi pekerja yang dianggap mangkir. Nadi dianggap perusahaan melakukan provokasi terhadap pekerja untuk menunda proses stock opname. “Padahal yang aku lakukan adalah menjalankan hasil keputusan bersama serikat pekerja,” ujar Nadi saat diklarifikasi.

Sebelum menunda proses stock opname, para pekerja yang tergabung di SBKU RPP bersama Serikat Pekerja Nasional (SPN) PT. Sumber Alfaria Trijaya mengadakan rapat bersama untuk menentukan sikap terkait masalah pemotongan upah yang disepakati pada 9 September 2015.

Dari hasil tripartit tanggal 30 Mei 2016 yang tidak dihadiri oleh pihak manajemen PT. Alfamart, pihak Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Tangerang telah mengeluarkan anjuran bagi perusahaan untuk mempekerjakan kembali Nadi. Hingga hari ini, pihak manajemen mengabaikan anjuran tersebut.

Serikat pekerja saat ini tengah mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial pada bulan Januari 2017 dan telah melalui persidangan pertama tanggal 8 Februari 2017 yang lalu.

Solidaritas Serikat Untuk Anggota

Tidak hanya mengawal advokasi kasus yang dialami oleh anggotanya, serikat juga berupaya untuk membantu perekonomian Nadi. Secara kolektif, seluruh anggota serikat bersolidaritas dengan membeli berbagai kebutuhan sehari-hari di warung kecil milik Nadi.

“Pengurus serikat meminta anggota untuk mendata daftar kebutuhan sehari-hari untuk disediakan di warung milik Nadi. Jika harga sabun pada umumnya adalah Rp. 2.000, anggota serikat bersolidaritas dengan membeli seharga Rp. 2.500. Selisih harga ini dapat sedikit membantu pendapatan Nadi,” ujar Uci.

Skema ini menyerupai konsep Kooperasi Konsumsi. Dalam konsep itu, kebutuhan sehari-hari pekerja dipenuhi secara kolektif dan hasil penjualannya dapat menjadi pemasukan kas organisasi. Sistem kolektif ini dapat menumbuhkan semangat kebersamaan dalam membangun organisasi serta solidaritas antar sesama pekerja.

Milyuner Di Balik Hutang Pekerja Alfamart

Sebagaimana dikutip dari laman Forbes.com, PT. Sumber Alfaria Alfamart merupakan salah satu anak perusahaan Alfa Group yang dimiliki oleh Djoko Susanto. Tidak hanya bergerak di bidang retail, kelompok usaha tersebut juga bergerak di bidang properti hunian real estate. Lebih dari 5.500 gerai tersebar di seluruh Indonesia yang melayani lebih dari 2 juta pelanggan. Pertumbuhan rata-rata penjualan usaha retail mencapai 15-20% per tahunnya.

Djoko Susanto berpose di depan toko retail Alfamart. Kredit foto: Forbes.com

Persebaran bisnis retail dan keuntungan hasil penjualan ini kemudian menempatkan Djoko Susanto sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Pada tahun 2016, Forbes menempatkan Djoko Susanto di peringkat 23 dari 50 orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan bersih mencapai USD 1,3 milyar.

Kontributor: Zaenal Rusli dan Nadi (SBKU-RPP FSBKU)

Editor: Rizal Assalam (Staf Media Propaganda dan Pendidikan KSN)

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here