Menang! Daihatsu Kharisma Sentosa Mengakui Keberadaan SPON

0
387
Trade union organized a protest against the one-sided dismissal in the front of Daihatsu Kharisma automobile dealer (28/12). Photo: FPBN
Trade union organized a protest against the one-sided dismissal in the front of Daihatsu Kharisma automobile dealer (28/12). Photo: FPBN

Tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya yang menutup akhir tahun 2017 dengan pesta kembang api, plesiran ke luar kota dengan teman setongkrongan atau keluarga; sebanyak enam pengurus dan tiga anggota Serikat Pekerja Otomatif Nasional (SPON) dipecat secara sepihak oleh manajemen PT. Kharisma Sentosa Makassar, dealer mobil Daihatsu, secara lisan tanpa peringatan dan tanpa kompensasi apapun.

Baca: Kronologi kasus pemecatan pengurus dan anggota Serikat Pekerja Otomotif Nasional

Apa saja upaya yang dilakukan oleh serikat untuk merebut kembali hak-hak pekerjanya?  Hampir semua upaya untuk merebut kembali hak-hak pekerja telah ditempuh, baik jalur litigasi (hukum) atau non-litigasi.

Jalur litigasi ditempuh oleh serikat dengan mengumpulkan bukti-bukti pernyataan penolakan keberadaan serikat pekerja dan dilaporkan ke pihak kepolisian dan pihak Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Provinsi Sulawesi Selatan.

Untuk menambah daya tekan, SPON bersama Federasi Perjuangan Buruh Nasional (FPBN) melakukan sejumlah aksi-aksi protes. Pada 28 Desember 2017, aksi protes dilakukan di depan dealer Daihatsu Kharisma Sentosa di Makassar. Saat itu pihak perusahaan masih bergeming dengan keputusannya.

Selain itu, serikat pekerja juga berupaya menggalang dukungan dari jaringan internasional. Konfederasi Serikat Nasional (KSN) dalam hal ini mengorganisir kampanye di Jepang atas bantuan dari Yokohama Action Research (YAR). Artikel terkait kasus SPON telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jepang dan disebarkan dalam situs Labor Net Japan dan YAR.

KSN dengan sokongan dari YAR juga berupaya mengirimkan surat permintaan kepada Kantor Pusat Toyota Motor Corporation di Jepang dengan tembusan ke Kantor Pusat Astra Daihatsu Motor di Jakarta. Upaya ini ditempuh untuk meminta pertanggungjawaban pemegang merk atas pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan bagian dari rantai pasoknya.

Akhirnya, titik terang mulai datang pada akhir bulan Juni 2018.  Dalam pertemuan antara pekerja dan perusahaan yang dimediasi oleh Disnaker pada 25 dan 29 Juni, Daihatsu Kharisma Sentosa setuju untuk mempekerjakan kembali enam pekerja.

Terhitung sejak tanggal 2 Juli 2018 keenam pekerja sudah bekerja kembali. Sementara itu, tiga pekerja lainnya mendapat kompensasi sesuai aturan ketenagakerjaan meski tidak dipekerjakan kembali.

Dipekerjakannya kembali pengurus dan anggota SPON ini juga berarti perusahaan sepakat untuk mengakui keberadaan serikat yang telah resmi didaftarkan ke Disnaker setempat.

Perusahaan juga akhirnya bersedia untuk memenuhi kewajibannya terhadap pekerja. Menurut Ketua Umum Federasi Perjuangan Buruh Nasional (FPBN) Hatta, status pekerja kontrak atau magang yang sebelumnya dipermasalahkan oleh serikat telah dipastikan menjadi pekerja tetap. Pekerja juga akan mendapatkan upah proses selama kasus berlangsung

Ke depannya, seluruh pekerja sales Daihatsu Kharisma Sentosa akan menikmati upah sesuai dengan Upah Minimum Kota (UMK). Tidak hanya itu, berkat kesabaran dan keteguhan memperjuangkan hak, pekerja Daihatsu Kharisma Sentosa juga akan menikmati jaminan ketenagakerjaan dengan dijalankannya BPJS.

Solidaritas Pekerja dan Kampanye Internasional

“Selamat atas kemenangan pekerja! Kasus ini akan menjadi pengalaman berharga jika terjadi kasus serupa ke depannya,” kata aktivis YAR Tono dalam percakapan melalui surat elektronik.

Yokohama Action Research adalah organisasi non-pemerintah berbasis di Jepang yang menaruh perhatian pada isu-isu ketenagakerjaan di perusahaan modal Jepang yang beroperasi di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Kemenangan yang diraih oleh SPON tidak terlepas dari dukungan dari YAR. Bukan kali ini YAR membantu mengawal kasus yang terjadi di perusahaan bermodal Jepang. Tahun ini, YAR mengampanyekan kondisi kerja garmen pemasok merk UNIQLO dengan bekerja sama dengan serikat pekerja Java Garmindo (SPAI-FSPMI).

YAR juga ikut mendukung perjuangan panjang kasus pemecatan massal pabrik sepatu Panarub Dwi Karya (PDK) pemasok merk Mizuno yang menimpa pekerja dan anggota serikat pekerja GSBI.

Hampir bersamaan dengan kasus yang diadvokasi oleh SPON-FPBN, YAR juga ikut mendampingi kasus pekerja PT. Nanbu Plastic Indonesia pemasok untuk merk Toyota, anggota serikat SEBUMI. Saat ini, sejumlah 28 pekerja telah dipekerjakan kembali dan perusahaan juga telah melunasi seluruh hutang gaji dan Tunjangan Hari Raya yang belum dibayar. Serikat masih terus mengupayakan kepastian status kerja.

Penulis: Rini Kusnadi (FSBKU)

Editor: Rizal Assalam

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here