Menanam  adalah melawan

0
69

Indonesia adalah negara agraris yang terancam punah dalam beberapa puluh tahun kedepan. Karena fungsi lahan pertanian sudah banyak yang berubah fungsi menjadi bangunan. Seperti villa-villa, mall, gedung-gedung bertingkat, bandara, perumahan dll. Para petanipun lebih senang jual lahan pertaniannya karena kebanyakan petani berpikir hasil tani tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dan para petani juga tidak ingin generasi penerusnya sebagai petani. Rata-rata mereka lebih senang anak-anaknya bekerja di diluar pertanian. Ada benarnya juga pemikiran itu jika petani itu petani penggarap bukan petani pemilik lahan.

Kab Bandung Barat merupakan salah satu kabupaten yang belum lama terbentuk di Jawa Barat. Kabupaten ini terbentuk pada tanggal 2 Januari 2007. Berdasarkan data, luas wilayah Kabupaten Bandung Barat yaitu 1.305,77 KM2, terletak antara 600 41’ s/d 700 19’ LS dan 1070 22’ s/d 1080 05’ BT. Mempunyai rata-rata ketinggian 110 M dan maksimum 2.2429 MDPL. Kemiringan wilayah yang bervariasi antara 0-8%, 8-15% hingga diatas 45%. Penggunaan lahan untuk budidaya pertanian di Bandung Barat merupakan lahan yang terbesar yaitu: 66.500,294 HA, sedangkan yang termasuk kawasan lindung seluas 50.150,928 HA, budidaya non pertanian seluas 12.159,151 HA dan lainnya seluas 1.768,654 HA. Potensi pertanian di Kab Bandung Barat tertdiri dari: holtikultura yaitu sayuran, buah-buahan dan bunga yaiu di Kec LEMBANG, PAROMPONG, dan CISARUA. Potensi perkebunan yaitu kopi, teh, kakao dll.

Disini penulis akan menitik beratkan pertanian di Lembang dan petani penggarap. Sejatinya pertanian di Lembang aset wisata dan pelestarian alam. Hasil pertanianya meliputi kubis,selsda, tomat, cabe, brokoli, labu siam, kacang kapri, dll. Fokus pada petani penggarap di Desa Cikahuripan Kec Lembang Kab Bandung Barat. Yang mana profil Desa Cikahuripan sudah di bahas dalam tulisan “ Pengorganisiran dan gerakan menanam”

Kehidupan petani penggarap

Lahan pertanian di Ds Cikahuripan sebagian besar milik tuan tanah yang tidak tau dimana keberadaannya. Rata-rata para petani menyewa lahan itu pertahun seluas 50-100 tumbak. Nama ukuran tanah di Jawa Barat 1 tumbak = 14,1m2 . Harga sewa per Tumbak berkisar Rp 35.000/tahun. Dan mereka garap sendiri dengan dimodali oleh Bandar/tengkulak. Dengan otomatis hasil panen harga tergantung bandar. Selisih Rp 2000 /kg dari harga umum. Kalau harga di kebun itu 1/3 harga pasar. Bayangkan petani menggarap lahan tiap hari tapi tidak punya hak menentukan harga. Ini sama saja dengan tengkulak sewa lahan, tapi yang bayar sewa dan mengerjakannya itu petani penggarap.

Hal ini yang belum bisa diselesaikan karena hal ini sudah berjalan sejak dulu. Kapitalis disini itu tengkulak dan bandar besar.

Ada pun urutannya adalah :

Pengepul

Pengepul adalah yang mencari atau memanen hasil tani milik petani. Rata – rata para petani sudah punya pengepul masing-masing.

Bandar kecil

Bandar kecil itu yang punya alat transportasi sendiri buat mengangkut hasil tani ke pasar besar.
Bandar besar. Bandar besar tempatnya di pasar yg mana tiap bandar kecil itu juga punya bandar besar masing-masing.

Dalam hal ini sulit bagi petani menjual hasil taninya sendiri karena sistem kerja para bandar sudah terstruktur dan terkordinir.

Mungkin bagi sebagian orang hidup di kampung sebagai petani itu enak. Kalau bertani untuk kebutuhan sendiri atau konsumsi sendiri memang enak. Tapi bertani untuk penghidupan dan mata pencaharian, itu sama seperti berjudi. BERTANI memang seperti BERJUDI dan PETANI selalu di pihak yang kalah. Tidak begitu banyak orang yang tau bagaimana persisnya para petani di pelosok desa menghasilkan apa yang orang kota nikmati saat ini. Para petani harus utang sana sini buat modal bertani.

Dan semua itu belum tentu mendapatkan hasil kembali modal aja sudah untung. Makanya tidak salah apabila ada istilah Bertani seperti judi karena banyak tantangan yang harus di hadapi seperti gagal panen, serangan hama, kelangkaan bibit dan pupuk serta naik turunnya hasil tani yang sulit di prediksi. Naiknya harga bibit dan pupuk juga menjadi tantangan tersendiri bagi petani karena hasil panen belum tentu mendapati harga tinggi.

Bibit

Disini kenapa para petani tidak buat bibit sendiri? Jawabnya sederhana. Bagaimana petani bisa buat bibit sendiri kalau bibit yang ditanam adalah hasil REKAYASA GENETIKA atau bibit yang di mandulkan. Itu yang pertama.

Yang kedua adakah waktu buat petani untuk bisa buat bibit sendiri jikalau petani di kejar target panen untuk kebutuhan tengkulak karena tersandera hutang? Yang ke tiga petani bukannya tidak bisa buat bibit sendiri karena juga tenggang waktu sewa lahan yang terbatas satu tahun harus berapa kali tanam. Ini bukan alasan atau alibi atau petani yang manja tapi inilah keseharian para petani di pelosok kampung.

Pupuk

Seperti bibit para petani juga menggunakan pupuk kimia yang harga mahal dan kwalitas belum tentu terjamin. Karena hama saat ini sudah kebal terhadap obat kimia.

Persaingan dagang dan merk sebenarnya hanya menguntungkan pemilik brand jelas dan gamblang yang di rugikan tetap petani. Petani juga sering di buat bingung dengan bermacam –macam merk obat kimia dan fungsi sama. Petani diibaratkan kelinci percobaan koorporasi obat kimia. Sebenarnya petani bisa buat pupuk sendiri dengan cara vermentasi seperti yang saya lakukan. Tapi mana waktu buat prakteknya. Karena disamping tani mereka memelihara ternak sapi milik orang kaya. Istilahnya bagi hasil atau maro. Jadi setelah kerja di kebun, mereka cari rumput digunung. Inilah irama kehidupan petani di pelosok kampung.

Pasar

Pasar yang di tuju untuk memasarkan hasil panen itu tergantung tengkulak. Para petani rata rata tidak tahu kemana hasil tani mereka di pasarkan. Mereka hanya tahu mengolah lahan dan menanam terus panen dan dapat uang. Begitu seterusnya.

Peran pemerintah.

Peran pemerintah gagal dalam mengendalikan harga pasar. Dan ketidak adanya PPL yang mendampingi petani. Para petani kebanyakan menggunakan instingnya dalam bertani. Dalam hal pengupahan juga tidak ada patokan khusus. Tiap buruh tani tidak sama dalam menerima upah. Upah masih tergantung sama pihak yang mempekerjakan. Tahun 2018 naik tipis 1,07% dibandingkan Desember 2017 yaitu Rp 50.568,- menjadi Rp 51.110,- Jam kerja dari jam 7-12.

Tapi kenyataan di lapangan upah buruh tani laki-laki hanya Rp 35.000,- sampai Rp 40.000,-/ hari dari jam 7-12. Buruh perempuan hanya Rp 25.000,- sampai Rp 30.000,- /hari dari jam 7-12. Karena apa? Karena hasil panen tidak seperti yang diinginkan sebagaimana mestinya. Pemerintah gagal untuk mensejahterakan rakyatnya khususnya petani.

Disini lagi –lagi jeritan rakyat kecil tidak ada yang mau mendengar. Tapi walau bagaimanapun, petani tetap akan selalu menanam untuk kelangsungan kehidupan orang banyak. Petani Penyangga Tananan Negara Indonesia. PETANI adalah pahlawan tanpa tanda jasa.
Karena Ber(T)ani karena benar.

Penulis: Supinah (Kordinator Divisi pemberdayaan perempuan Konfederasi Serikat Nasional)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here