May 2019: Satukan Kekuatan Rakyat, Lawan Politik Oligarki, Bangun Alat Politik Rakyat.

0
548
Konferensi Pers GEBRAK di Gedung LBH (29/04). Foto: GEBRAK, 2019
Konferensi Pers GEBRAK di Gedung LBH (29/04). Foto: GEBRAK, 2019

Siaran Pers: Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK)

Pada tanggal 1 MEI 2019 nanti, 20 ribu massa GEBRAK di Jabotabek dan Banten (dan ratusan ribu buruh lainnya di seluruh Indonesia) akan turun ke jalan, memperingati Hari Buruh Internasional. Di Jakarta, aksi ini akan dimulai dari Bundaran Hotel Indonesia dan long march menuju Istana Negara.

Nining Elitos, Ketua Umum KASBI mengatakan “ MAY DAY 2019 adalah momentum yang sangat penting untuk menyatukan kekuatan rakyat. Di mana saat ini, kaum buruh dan rakyat Indonesia sedang terpecah oleh sentimen-sentimen rasis dan fanatisme selama proses pemilu kemarin. Padahal, siapa pun pemenang pemilu presiden dan siapa pun yang mendominasi pemilu legislatif, tak akan membawa perubahan besar bagi rakyat. Kita secara tegas menolak sentimen-sentimen rasisme, mengecam tindakan-tindakan pemaksaan kehendak berdasar isu-isu Agama atau Ras.”

Pernyataan Nining Elitos ini didasarkan pada kenyataan, bahwa kedua kubu yang terlibat dalam pemilihan Presiden, komposisi kekuatan politik yang paling menentukan adalah kekuatan politik pemodal, dan bahkan banyak di antaranya yang bisnisnya saling berhubungan walaupun berbeda kubu politik pilpres ataupun berbeda partai politiknya. Juga berdasarkan kenyataan, semakin maraknya, pemaksaan kehendak sekelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat lainnya dengan menggunakan isu SARA, bahkan dengan dalih UU.

Nining juga menegaskan “bahwa kaum buruh di Indonesia adalah bagian dari kaum buruh dan rakyat dunia. Oleh karena itu, penting bagi kaum buruh Indonesia untuk memberikan dukungan dan solidaritas bagi perjuangan rakyat di belahan dunia lain. Kita harus memberikan dukungan bagi perjuangan Rakyat Palestina dalam melawan penjajahan Israel. Demikian juga, kita harus memberikan dukungan bagi Rakyat Venezuela yang sedang berjuang melawan Intervensi Amerika Serikat dan sekutunya.“

Lebih jauh, mantan buruh pabrik ini menyatakan “Dalam situasi krisis kapitalis dunia, peperangan di berbagai tempat dan ancaman perang baru yang diprovokasi oleh kekuatan-kekuatan imperialis, maka kaum buruh dan rakyat sedunia harus semakin mempererat solidaritas, memperkuat persatuannya dan bersama-sama menyerukan hentikan perang yang mengorbankan rakyat.“

Sementara itu, Ilhamsyah, Ketua Umum KPBI dalam kesempatan yang sama menyatakan “ Selama lima tahun pemerintahan Jokowi, tidak terlihat kebijakan-kebijakan pemerintahan Jokowi yang membela kepentingan kaum buruh dan rakyat kecil. Di pihak oposisi pun, tak ada yang sungguh-sungguh berjuang bersama kaum buruh dan rakyat kecil. PHK massal semakin marak terjadi dan ke depan.”

Terkait itu, Ilhamsyah menambahkan bahwa “menjelang Idul Fitri, biasanya akan terjadi lagi gelombang PHK massal yang dilakukan pengusaha untuk menghindari pembayaran THR. Sementara Pemerintah, DPR, Partai Politik, Aparat Penegak Hukum hanya diam saja.”

Dalam bulan-bulan belakangan ini, aksi-aksi buruh menolak PHK massal memang banyak terjadi. Seperti aksi Awak Mobil Tanki Pertamina ( AMT Pertamina), aksi buruh PT Freeport, aksi buruh PT Dada Purwakarta, aksi buruh PT SI Tuban. PHK akibat relokasi pun marak terjadi. Misalnya yang terjadi di Sukabumi, yaitu PT Prima Sukses, PT Sentosa Utama Garmindo, PT PT Star Comgistik Indonesia, PT Anugrah dan PT Muara Griya Lestari.

Aktivis 98 tersebut, yang hingga kini masih terus berada dalam barisan perjuangan rakyat, juga menambahkan, “selain PHK massal, kesejahteraan kaum buruh Indonesia pun semakin menurun. Penggunaan hubungan kerja fleksibel seperti outsourcing, sistem kerja kontrak berkepanjangan dan sistem magang telah memukul hak-hak buruh untuk mendapatkan kesejahteraannya.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa “bersamaan dengan itu, PP 78/2015 tentang upah minimum juga telah menekan upah buruh Indonesia secara drastis. Oleh karena itu, dalam MAY DAY 2019 ini, kita pun semakin keras menyuarakan tuntutan-tuntutan terkait kesejahteraan buruh tersebut.“

MAY DAY 2019, rupanya bukan saja menjadi momentum bagi kaum buruh saja untuk menyuarakan tuntutan-tuntutannya, sebab dalam barisan Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) terlibat juga barisan kaum tani.

Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaharuan Agraria, Dewi Kartika–yang juga merupakan salah seorang panelis dalam debat Capres ke II, menyatakan “bahwa persoalan-persoalan kaum buruh, erat kaitannya dengan persoalan kaum tani, demikian juga sebaliknya. Salah satu penyebab kenapa kaum buruh semakin rendah posisi tawarnya adalah akibat semakin banyak perampasan tanah di desa-desa yang dilakukan negara dan atau perusahaan-perusahaan besar.

Dewi Kartika menambahkan, bahwa “rakyat di desa, banyak yang kemudian ke kota–bersaing dengan angkatan kerja lainnya, untuk menjadi buruh. Selain itu, tingkat kesejahteraan petani di desa yang tak bisa menjamin masa depan kaum tani, juga membuat para pemuda desa untuk migrasi ke kota-kota besar.“

Lebih jauh menurut Dewi, “akan hadir sekitar 1000 petani dari wilayah Jabotabek dan Banten dalam MAY DAY nanti. Dan bersama-sama dengan kaum buruh, kami juga akan menyuarakan agar perampasan tanah, konflik agraria dan kriminalisasi kaum tani untuk segera dihentikan.“

Selain kaum tani, ratusan pelajar dan mahasiswa juga akan turut bergabung. Salah satu kelompok pelajar yang akan turun adalah Aliansi Pelajar Jakarta (APJ). Perwakilan APJ, menyampaikan “sebagai pelajar, adalah penting untuk mulai terlibat dalam gerakan perlawanan. Apalagi ini adalah MAY DAY, Hari Buruh Internasional.”

Menurut Perwakilan APJ tersebut, “orang tua kami adalah pekerja, dan mereka harus bekerja sangat keras agar kami bisa sekolah karena biaya sekolah kami mahal, sementara gaji orang tua kami tidak banyak. Kami juga sekarang ini, didorong untuk ikut dalam program magang, yang kelihatannya sebagai program pelatihan, tapi kenyataannya banyak teman-teman kami yang malah bekerja layaknya buruh, tapi tidak mendapatkan hak layaknya para buruh “

Di samping persoalan-persoalan di atas, Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) juga mengeluarkan satu seruan bersama, bahwa untuk mengubah keadaan Indonesia, untuk mengubah keadaan kaum buruh dan rakyat kecil, maka rakyat harus membangun organisasinya sendiri.

Perlawanan akan jauh lebih kuat, jika semua lapisan rakyat kecil membentuk organisasi-organisasi perlawanan. Lebih lanjut GEBRAK juga menyerukan kepada seluruh kekuatan rakyat yang saat ini sudah terorganisir, untuk segera menyatukan diri dalam sebuah agenda pembangunan kekuatan politik rakyat, sebuah partai politik rakyat.

Setelah MAY DAY, GEBRAK akan mengupayakan sebuah agenda konsolidasi antar gerakan rakyat, untuk bersama-sama membicarakan rencana kerja-kerja pembangunan alat politik rakyat ini, sebab jika kekuatan oligarki telah mendominasi semua kekuatan politik hari ini, menguasai lembaga-lembaga negara, menguasai aparatus penegak hukum dan bahkan militer, maka tidak ada jalan lain, rakyat Indonesia pun harus bersatu dalam satu alat politik bersama untuk merebut negara dari cengkeraman oligarki.

 

Jakarta, 29 April 2019

Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK)

KPBI, KASBI, KSN, SGBN, SPBP JARKOM PERBANKAN, SP DANAMON, SP JHONSON, PERGERAKAN PELAUT INDONESIA (PPI), FPPI, LMND, AKMI, FMK,  SMI, GPPI, SEMAR UI, APJ (Aliansi Pelajar Indonesia), GPMJ, LBH JAKARTA, YLBHI, KIARA, KPA, KPO PRP, MAHARDIKA, BEM JENTERA, BEM ESA UNGGUL, GMNI PRESIDIUM, LIPS, KONTRAS, TURC, SEMPRO, WADAH PEGAWAI WP-KPK, KOMITE PEKERJA FREEPORT,

Juru Bicara :

– Nining Elitos: 0813 1733 1801

– Ilhamsyah: 0812 1923 5552

– Yahya: 0813 1672 4952

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here