Laporan SBKU PT. UAP Terkait Penutupan Pabrik Secara Sepihak

0
95 views
Suasana di Posko Perjuangan PT. UAP. Kredit foto: FSBKU

“14 Juni 2016 adalah hari pertama di mana kami, para buruh yang bekerja selama bertahun-tahun di PT. Uni Alloyindo Prima (PT. UAP) mendirikan posko sebagai simbol perjuangan atas kesewenang-wenangan pengusaha yang tidak memberikan kami upah sesuai ketentuan,” ungkap Bendahara SBKU PT UAP, Aki Jorelat.

Perjuangan pekerja PT. UAP dimulai ketika pada tanggal 13 Juni 2016 pintu masuk pabrik ditemukan telah digembok. Di depan pintu masuk, terpampang surat penutupan dengan mengatasnamakan pihak ketiga (Anda Suhanda, M. Purba dan Syarifuddin). Penutupan pabrik itu dilakukan tanpa konfirmasi apapun terhadap buruh, termasuk kepada Puguh selaku ketua Serikat Buruh Karya Utama PT. UAP (SBKU UAP).

Pengurus SBKU PT UAP menilai penutupan ini dilakukan secara sepihak karena, selain tanpa adanya pemberitahuan, juga karena sejak tanggal 3 Juni hingga 10 Juni perusahaan menggenjot produksinya. “Lantas banyak dari kami bekerja lembur lebih dari biasanya,” sambung Aki.

Setelah itu pengurus SBKU PT UAP meminta untuk berunding dengan pihak manajemen perusahaan.

“Datanglah orang orang kepercayaan bos Tomi Gozali (pemilik PT. UAP) yang mengenalkan diri sebagai pengacara. Dalam perundingan itu kami menanyakan surat kuasa, namun sang pengacara tersebut tidak dapat menunjukkan legalitasnya. Maka teranglah bahwa ketiga orang yang mengaku sebagai pengacara itu pada nyatanya adalah pengacara bodrek,” ungkap Aki yang saat ini masih bertahan menghadapi kasusnya.

Dalam pertemuan itu, Koswara selaku Presiden KSN dan juga Ketua FSBKU menekankan, bahwa jika PT. UAP ini tidak bertuan, maka kewenangan ada pada Dadang selaku Kepala Desa. Penekanan ini disampaikan Koswara untuk menguji kemanakah Kades akan berpihak. Sontak Kades menyambutnya dengan antusias dan menyatakan dengan lantang bahwa Ia akan mendatangi sang pengusaha.

“Saya sebagai Kades di sini saya penguasa disini. Purba dan Anda tidak bisa berbuat seenaknya. Datangkan pengusaha kesini. Saya tidak mau Sdr Anda yang mengaku pengacara [namun] tidak ada legalitasnya [begitu pula dengan] Purba juga tidak punya surat kuasa. Percuma. Sekarang kunci ini saya yang pegang. Saksikan nih,” ujar Aki mengisahkan penuturan Kades ketika itu.

Malam harinya, menurut Aki, Kades itu tiba-tiba datang ke pabrik dan mengambil 8 pasang velg (32 vic). Diketahui bahwa pengambilan 8 pasang velg tersebut merupakan pengganti uang keamanan sebelum penutupan pabrik yang sebelumnya dijanjikan oleh Tomy Gozali kepada Kades dalam bentuk uang tunai 20 juta.

“Posko perjuangan kami bangun lantaran tidak adanya kejelasan atas nasib buruh PT. UAP. Sejak dibangun pada tanggal 14 Juni 2016 hingga hari ini, tidak sedikit provokasi yang kami alami, baik dari dalam maupun dari luar.”

Perlu diketahui, bahwa pengusaha lewat pengacara itu menawarkan uang pesangon sebesar 12 juta. Nilai itu dinilai tidak sebanding dengan kontribusi para pekerja PT. UAP yang telah bertahun-tahun kerja.

Namun, lewat usaha provokasi yang dilakukan dengan godaan uang 12 juta, sedikit demi sedikit anggota serikat berguguran karena merasa jenuh dan takut tidak mendapatkan ganti rugi upah dan dana THR untuk lebaran nanti. Salah satu anggota SBKU PT UAP yang telah menerima uang 12 juta tersebut didorong untuk mengundurkan diri dan diberikan janji akan dipekerjakan kembali apabila perusahaan akan dibuka dan berproduksi kembali. Akibat provokasi dan hasutan pihak pengusaha, saat ini jumlah pekerja PT. UAP yang masih bertahan hanya tersisa 18 orang.

Permasalahan semakin kusut ketika Kades, yang merasa telah membantu menengahi masalah antara buruh PT. UAP dengan pihak perusahaan, berusaha untuk membubarkan posko yang dirikan. “Kami mendengar isu adanya perjanjian di bawah meja yang mana Kades dijanjikan akan diberikan mobil apabila Kades dapat mensterilkan lingkungan pabrik,” kata Aki.

Pembongkaran paksa posko perjuangan. Kredit foto: FSBKU

Dengan alasan bahwa wibawa lurah akan tercoreng dan mengganggu ketentraman Idul Fitri nanti, Kades memaksa melakukan pembongkaran Posko. “Kami tidak dapat melakukan antisipasi apapun karena pembongkaran tersebut dilakukan di saat belum banyak dari kami yang datang menjaga ke posko setelah melakukan ibadah Shalat Jum’at,” keluh Aki.

Kronologi Penutupan Pabrik PT. Uni Alloyindo Prima

Uni Alloyindo Prima (PT. UAP) merupakan perusahaan yang memproduksi velg racing sebagai produk utamanya. Perusahaan yang beralamat di Jln. Raya Parung Panjang No. 88, Kab. Tangerang ini adalah hasil perubahan nama dari PT. Uni Primacom yang berdiri pada tahun 1990.

PT. Primacom adalah perusahaan yang bekerja sama langsung dengan PT. Gajah Tunggal Tbk. Belakangan, PT. Primacom berubah nama menjadi PT. Uni Alloyindo Prima dikarenakan tersangkut dana Bantuan dari Bank Indonesia atau BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Untuk menyiasati agar tidak disita oleh Bank Indonesia maka, PT. Primacom berubah nama menjadi PT. Uni Alloyindo Prima. (PT. UAP).

Perusahaan PT. UAP seringkali berubah nama direktur/komisaris utama dalam akta pendirian perusahaan. (TDP). Tercatat sebanyak 4 orang (Joko Nugroho, Tengku Iswar, Adrian Aulia, Isti dary Sofia) 4 Orang pernah menjadi komisaris di PT. UAP.

Tahun 2014 terbentuk Serikat Buruh Karya Utama di PT. UAP (SBKU PT. UAP) dan menyatakan berafiliasi dengan FSBKU-KSN. Latar belakang berdirinya serikat dikarenakan perusahaan membayar upah kurang dari standar upah yang ditetapkan oleh Gubernur dan persoalan normatif lainya.

Upaya melaporkan kepada pihak Dinas Tenaga Kerja Kab. Tangerang tidak mempengaruhi perusahaan untuk membayar upah sesuai dengan Upah Minimum Kab. Tangerang. Tiap pekerja/buruh dirugikan sebesar 400 ribu sampai dengan 700 ribu perbulan.

Pelanggaran pihak perusahaan terhadap hak buruh ini bertentangan dengan kenyataan yang ditemukan oleh para pekerjanya di lapangan. Sebagai produsen velg racing, PT. UAP mampu menghasilkan rata-rata 1500 velg racing setiap bulannya.. Berbagai jenis ukuran velg racing diproduksi di PT. UAP, mulai dari ring 14 Inci sampai dengan ring 18 Inci.

Velg Racing dengan bahan alumunium yang bermerek CMS dipasaran dihargai antara 3,5 juta sampai dengan 7 juta/set. Rata-rata pendapatan perusahaan perbulan mencapai Rp. 4 milyar. Dari tahun 2005 PT. UAP mempekerjakan sebanyak 80-an orang.

Keterangan diatas menunjukkan bahwa kondisi keuangan perusahaan sangat sehat. Namun, para pekerja PT UAP mempertanyakan alasan perusahaan yang merasa keberatan untuk membayar upah yang sesuai dengan standar Upah Minimum Kab. Tangerang atau UMK. Permasalahan ini yang kemudian mendorong aktivis SBKU PT. UAP untuk meminta kekurangan upah yang besarnya telah ditetapkan oleh Dinas Tenaga Kerja Kab. Tangerang untuk segera dibayarkan.

Namun demikian, permintaan dari SBKU PT. UAP dibalas dengan dihentikannya proses produksi pada tanggal 13 Juni 2016. Penutupan ini dilakukan secara sepihak dari perusahaan tanpa mempertimbangkan hak-hak yang seharusnya diberikan kepada seluruh pekerja PT. UAP. Pihak perusahaan beralasan bahwa penutupan dilakukan karena pihak perusahaan tidak mampu bersaing dengan perusahaan lain dalam Forum Mayarakat Ekonomi Asia (MEA).

Dengan kondisi tersebut diatas langkah strategis yang dilakukan oleh SBKU PT. UAP adalah menduduki perusahaan. “Pendudukan pabrik ini untuk menjaga aset dikarenakan adanya hak yang belum diberikan oleh perusahaan,” ungkap Aki.

 

Kontributor: Aki Jorelat (SBKU PT. UAP)

Editor: Rizal Assalam (Staf Media Propaganda dan Pendidikan KSN)

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here