Kronologi Penggusuran Paksa Pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta Menurut Warga Temon, Kulonprogo

0
435
"Opo salah tanduranku. Iso leren po ora (apa salah tanamanku. Bisa berhenti tidak)," protes Wagirah sambil menduduki sendok besi ekskavator (28/6). Foto: KOMPAS.com/ Dani J.

Wagirah adalah satu dari sekitar 22.000 warga lima desa di Kecamatan Temon, Kulonprogo yang terdampak oleh pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo. Warga yang mayoritas bekerja sebagai petani itu berupaya mempertahankan lahan pertanian sawah dan tegalan produktif yang menjadi sarana penghidupan mereka selama puluhan tahun.

Warga yang berhimpun dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP) itu dipaksa untuk berhadapan dengan ratusan aparat negara dan unsur sipil yang direkrut oleh PT. Angkasa Pura I dan Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo. Warga melawan serbuan aparat dan alat berat backhoe yang hendak merubuhkan rumah dan menyapu lahan garapan hanya dengan sajadah dan lemparan beras.

Penggusuran yang dialami petani Temon dibenarkan pemerintah lewat Perpres No. 56 tahun 2018. Perpres tentang percepatan pelaksanaan proyek strategis nasional itu merupakan perubahan kedua sejak ditetapkan pertama kali pada tahun 2016. Perpres itu memuat daftar 227 proyek infrastruktur, di mana pembangunan NYIA tertulis pada nomor 90 bersama dengan Bandara Kertajati dan Bandara Kediri.

Proyek strategis di sini dimaknai oleh pemerintah sebagai proyek yang tanpa terkecuali harus berjalan terlepas dari dampak yang ada, termasuk jika rakyat penghuni tanah kelak termiskinkan. Untuk memastikan proyek berjalan, pemerintah memberikan kemudahan bagi pengusaha dalam proses mengurus perizinan dan kemudahan dalam pembebasan lahan.

Kemudahan dalam pembebasan lahan itu diwujudkan dalam bentuk pengerahan ratusan aparat negara dan preman untuk memastikan warga angkat kaki dari tanah kelahiran mereka, persis seperti yang diceritakan oleh warga Temon dalam Kronologi terlampir di bawah ini.

Menurut kronologi yang disusun PWPP-KP, seorang Polwan tanpa tanda pengenal merampas Al-Qur’an yang sedang dibaca oleh Ibu Ik lalu memukul hingga hidung Ibu Ik berdarah. Sementara Ibu Wg, diseret oleh serombongan aparat karena berupaya mempertahankan rumah sah miliknya. Tidak hanya kekerasan fisik, warga pun direndahkan oleh aparat yang merubuhkan rumah saat penghuninya sedang beribadah.

Kisah serupa juga oleh dialami oleh warga Desa Sukamulya, di Kertajati, Kabupaten Majalengka. Dari 1.800 hektar luas lahan untuk pembangunan Bandara Kertajati, 740 hektar di antaranya berada di Desa Sukamulya yang dihuni oleh 1.483 kepala keluarga. Tanaman diratakan tanah, rumah dirubuhkan dan tidak sedikit warga yang luka-luka akibat serangan aparat.

Penggusuran nampaknya tidak akan berhenti selama pemerintah masih memprioritaskan pembangunan di atas kehidupan rakyat. Pembangunan NYIA akan diikuti oleh fasilitas penunjang seperti jalur kereta api akses NYIA dan jalan tol yang termasuk dalam daftar proyek infrastruktur nomor 47, 56, dan 77. Diperkirakan warga daerah yang akan terdampak pembangunan tersebut mencapai 20 juta jiwa.

Baca: Kronologi Pengosongan Lahan untuk Bandara Menurut Warga Kulon Progo (28 November 2017)

Unduh: Laporan Kronologi Penggusuran Paksa PT Angkasa Pura I Terhadap Warga PWPP KP 6 -20 Juli 2018

Panggilan Solidaritas

Saat ini, sejumlah warga Temon masih bertahan menolak pembangunan NYIA. Tim relawan Teman Temon saat ini tengah berupaya mengumpulkan donasi uang untuk keperluan konsumsi makan warga Temon tergusur. Sejak awal Juli lalu, lebih dari 700 aparat kepolisian telah bersiaga mendukung proses penggusuran. Banyak warga saat ini terpaksa mengungsi ke rumah kerabat terdekat.

Penggalangan donasi untuk warga korban penggusuran Proyek NYIA penggalangan donasi akan kembali menggunakan rekening warga atas nama Nurhidayah Siti Fatimah (BNI: 07-177-09604) dan atas nama Fajar Ahmadi (BRI: 6929-0100-0907-539).

Narahubung:

Ekza    : +62 87739289014
Irfan    :  +62 81327221186

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here