Kisah Buruh Migran China Korban K3

0
198
Akibat terpapar zat kimia industri, Liu Yanping seorang petani desa dari Ningxia ini harus bernafas menggunakan generator oksigen selama tiga tahun terakhir. Foto: scmp.com
Akibat terpapar zat kimia industri, Liu Yanping seorang petani desa dari Ningxia ini harus bernafas menggunakan generator oksigen selama tiga tahun terakhir. Foto: scmp.com

China adalah rumah bagi sekitar 6 juta rakyat yang menderita Pneumoconiosis, dan banyak dari mereka tetap berjuang 2 tahun meski setelah negara mencoba bertindak.

Yanping saat ini telah berumur 56 tahun. Ia sempat bekerja di tempat pembakaran bara. Abu batu bara yang ia hirup selama ia bekerja telah merusak paru-parunya dan menyulitkannya untuk bernafas.

Tiga tahun yang lalu di rumah sakit di Yinchuan, ibukota daerah, Ia terdiagnosa Pneumoconiosis, sebuah penyakit tanpa obat yang terjadi karena lama menghirup debu industri.

Pneumoconiosis adalah penyakit paling parah yang banyak terjadi di pabrik-pabrik di China. Namun keadaan buruh migran yang menderita penyakit tersebut–meski telah memajukan perekonomian negara–baru mendapat perhatian pemerintah sejak dua tahun lalu. Perhatian ini dimulai di saat 10 departemen negara memerintahkan pemerintah lokal untuk mengupayakan pengobatan dan pencegahan penyakit tersebut.

Banyak dari penderita penyakit itu mengaku belum mendapatkan bantuan di desanya.

Anak Liu Yanping, Liu Zhezhao, yang tinggal di sebuah desa di bagian Tongxin daerah Ningxia, mengatakan bahwa keluarga dia tidak mendapatkan banyak bantuan dari negara yang hanya memberikan subsidi 10% dari biaya kesehatan ayahnya.

“Kami jatuh miskin setelah mengeluarkan 600,000 Yuan (sekitar Rp. 1,3 milyar) untuk mengobat penyakit ayahku,” kata Zhezhao. “Saya meminjam uang dari kerabat, teman, dan rentenir. Saya juga menjual tanah yang saya beli di kota beberapa tahun yang lalu”.

Tertarik dengan iming-iming gaji tinggi, Yanping bekerja di tempat pembakaran batu bara yang berjarak sekitar 2,5 km dari desanya sejak tahun 1998 sampai 2011. Pekerjaannya adalah menghancurkan batu bara menjadi bubuk. Sebagai hasil kerjanya, Yanping mendapatkan upah sekitar 600 Yuan (Rp. 1,3 juta) per bulan.

Majikan Yanping menolak memberi kompensasi apapun karena dia tidak pernah menandatangani kontrak kerja. Bekerja tanpa kontrak merupakan hal yang ‘umum’ terjadi di China.

“Tempat pembakaran batu bara itu masih ada dan berjalan,” kata Liu Zezhao. Hingga kini tidak ada upaya menindak pengusaha batu bara meski 6 buruh dari daerah yang sama telah mengidap Pneumoconiosis – 5 darinya yang sudah meninggal.

Foto: scmp.com

Keluarga Liu sangat miskin sampai mereka terpaksa tinggal di rumah yang terbuat dari lumpur. Namun aparat desa berkali-kali menolak permintaan pekerja atas bantuan finansial

Zezhao merasa penolakan aparat desa itu lantaran mereka tidak disogok. “Korupsi pada aparat setingkat desa sudah tidak lagi masuk akal,” katanya.

Kesehatan ayahnya semakin memburuk belakangan ini, katanya ketika penyakitnya sering kambuh parah yang terjadi sebanyak 10 kali sehari.

“Tiba tiba, saat ayah saya berbicara normal, dia sesak nafas,” lanjutnya. “Mukanya membengkak, matanya juga, dan kepalanya berkeringat keras. Dia juga menggenggam kuat semua yang ada di sekitarnya”.

“Sepertinya dia sesak dan hal itu bisa berlangsung selama 10 menit. Ini sangat sedih dan saya menangis melihat ayah saya menderita seperti itu.”

Ada sekitar 6 juta penderita Pneumoconiosis di China berdasarkan perkiraan Yayasan ‘Love Save Pneumoconiosis Foundation’. Perkiraan itu sembilan kali lebih besar dari data resmi yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan

Kementrian Kesehatan menyebutkan ada 676,541 buruh di China yang terdiagnosa Pneumoconiosis pada akhir 2010. 90% di antaranya merupakan dari korban penyakit di yang timbul dari tempat kerja. Menurut data terbaru dari kementrian tersebut, terdapat 26,081 kasus baru Pneumoconiosis yang terlapor pada tahun 2015, dan 28,088 penderita pada 2016.

“Jumlah resmi 6 juta penderita Pneumoconiosis berdasarkan survei dalam negeri setelah beberapa tahun,” kata Sekretaris Jenderal Yayasan Guo Xiaoye. Yayasan ini adalah salah satu LSM terbesar yang membantu menolong korban Pneumoconiosis di China. Banyak dari mereka adalah buruh migran dari daerah pedesaan dan generasi pertama penderita penyakit itu.

“Statistik resmi umumnya meliput buruh dalam BUMN. Namun mayoritas buruh migran lebih banyak bekerja di pertambangan swasta. Meskipun mereka mengidap Pneumoconiosis dari tempat kerjanya, sulit bagi mereka untuk dikategorikan sebagai korban K3 karena proses birokrasinya sangat rumit.”

Surat edaran yang disebarkan oleh departemen pemerintah pada Januari 2016 mengatakan bahwa buruh migran merupakan jumlah terbesar dari seluruh buruh industri di China.

“Pada akhir 2014, terdapat sekitar 274 juta buruh migran di China,” lanjut Guo. “Buruh migran itu adalah kekuatan utama pembangunan negara, berkontribusi sangat besar terhadap pembangunan ekonomi dan sosial.”

Namun kenyataan itu tidak mengubah nasib buruh migran di tempat kerja. Perusahaan cenderung mengabaikan kewajiban penyediaan tempat kerja yang aman dan sehat untuk mencegah dampak penyakit. Sementara itu, banyak buruh migran tidak mengetahui bagaimana melindungi diri di tempat kerja kerja dan hak-hak mereka.

Kondisi ini menyebabkan Pneumoconiosis menjangkiti para buruh. Penyakit ini sulit terdiagnosa tepat waktu. Sementara itu, korban penderita Pneumoconiosis sulit mendapatkan kompensasi.

Perusahaan telah diminta bertanggungjawab untuk mencegah penyakit melalui pengaturan kebersihan di tempat kerja. Layanan kesehatan juga diminta untuk lebih efisien dalam mendiagnosa penyakit dan menempatkan Pneumoconiosis sebagai penyakit akibat kerja.

Pemerintah lokal juga diminta untuk menanggung biaya medis buruh migran, dan masalah-masalah dasar kehidupan mereka, termasuk biaya di luar asuransi penyakit kerja.

Namun, menurut Guo implementasi perintah ini berbeda-beda dari daerah ke daerah.

“Masih banyak buruh migran yang tidak mendapatkan kompensasi yang layak dari majikan atau bantuan dari pihak berwenang,” katanya. “Banyak keluarga buruh yang jatuh miskin karena penyakit ini.”

Tidak banyak buruh berhasil membawa majikannya ke pengadilan karena banyak pemilik modal yang kabur setelah menutup pabrik, kata Guo. Banyak di antara buruh migran yang berpendidikan rendah sehingga tidak mengetahui hak-haknya.

“Banyak dari mereka menderita penyakit paru-paru lalu pulang ke kampung halaman. Mereka menyalahkan diri mereka sendiri dan berpikir bahwa penyakit yang dialaminya adalah nasib buruk,” katanya.

Zhang Yuanjun, seorang petani 43-tahun dan buruh migran dari Jiyuan di Henan, merupakan salah satu buruh yang menempuh jalur hukum bersama rekannya 42 buruh tambang batu bara swasta.

Mereka belum menandatangani kontrak, namun pengadilan lokal mengakui relasi kerja dengan perusahaan tambang. Atas pengakuan itu, mereka dapat meminta kompensasi dari perusahaan.

“Tapi pemilik tambah sengaja mengundur-undur jadwal persidangan dengan harapan satu persatu dari kami meninggal. Maka, majikan Hana membayar lebih sedikit kompensasi,” Kata Zhang.

Para buruh juga mencoba mengirimkan surat kepada pemerintah kota, provinsi, dan pusat. Tapi sayangnya mereka malah diusir aparat dan dipukuli oleh preman bayaran tambang.

Zhang, yang bekerja di tambang selama 16 tahun dari tahun 1990, sekarang menderita Pneumoconiosis tingkat 3. Tingkat paling kronis dari penyakitnya.

“Setelah lulus dari sekolah menengah pertama saat saya berumur 16, saya bekerja di tambang bersama ratusan orang dari desa yang sama,” katanya. “Kita dibayar lebih besar dari gaji PNS pada umumnya. Bayaran itu sangat menggoda ketika itu”

Mereka belum pernah mendengar tentang Pneumoconiosis sebelumnya dan tidak menyadari bahaya debu pertambangan. Di dalam tambang, katanya, debu batu bara begitu tebal sehingga para pekerja tidak dapat melihat bohlam lampu ataupun jari mereka sendiri.

“Beberapa dari kita akan membeli masker untuk dipakai, tapi itu tidak berguna,” katanya. “Setelah dipakai sehari, masker itu menjadi hitam.”

Wu Dengfan, seorang petani berusia 40 tahun dari daerah Gulang di Gansu yang bekerja di sebuah tambang emas yang dekat dengan perbatasan Mongolia dari tahun 1996 sampai 2006, memiliki pengalaman serupa.

“Kami bahkan lebih memilih untuk tidak memakai masker di dalam tambang, karena menyulitkan kami untuk bernapas,” kata Wu, yang menderita Pneumoconiosis tingkat 2. “Ketika kami menyelesaikan pekerjaan kami dan keluar dari tambang, seluruh tubuh kami terbungkus debu.”

Dia menerima kompensasi total 2.100 Yuan (Rp. 4,5 juta) per bulan dari perusahaan tambang emas dan pemerintah lokal berkat petisi yang diajukan oleh lebih dari 100 pekerja di tambang tersebut beberapa tahun yang lalu.

“Jumlah itu cukup untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup dasar. Tapi jika kondisi kesehatan saya memburuk, jumlah itu tidak akan cukup untuk membiaya obat-obatan yang mahal,” katanya. “Saya tidak bisa terlalu letih bekerja sehingga akan sulit mencari uang. Istri saya menderita rematik sementara kedua anak kami, yang berusia 13 dan satu tahun membutuhkan biaya sekolah. Saya benar-benar khawatir dengan masa depan kami. ”

Zhang yang juga seorang sukarelawan Yayasan Pneumoconiosis, mengatakan bahwa dia berbincang dengan pasien atau keluarga mereka setiap malam lewat media sosial. Ia sering memberikan saran perawatan atau berusaha menenangkan psikologis pasien dan keluarganya.

“Penting untuk melampiaskan tekanan di hati,” katanya. “Setiap tahun saya mendengar beberapa buruh migran bunuh diri dengan melompat dari gedung tinggi atau menenggak racun. Banyak istri buruh meninggalkan mereka begitu suaminya terdiagnosa penyakit mematikan ini.

“Ini kenyataan yang sangat pahit. Kami bekerja di pertambangan, pabrik dan konstruksi. Hasil kerja kami berkontribusi pada kemakmuran negeri ini.

“Upah yang kami terima tidak hanya dari perasan keringat, tapi juga mengorbankan kesehatan dan kehidupan. Tapi, pemerintah dengan mudahnya meninggalkan kami begitu saja. Tidak ada satupun otoritas yang betul-betul serius memperhatikan kondisi kesehatan kami.”

 

Artikel ini dimuat dalam edisi cetak South China Morning Post berjudul: “Lung Disease that Makes Migrants Gasp gor Aid”

Sumber: “These migrant workers helped China prosper. Now they’re dying and not getting the help they need,” South China Morning Post, 13 Januari 2018, http://www.scmp.ctraom/news/china/society/article/2127962/these-migrant-workers-helped-china-prosper-now-theyre-dying-and

 

Penerjemah: Gio Ramadhan (SEMAR UI)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here