Kabar Duka Kali Ini Datang Darimu, Kos

0
42 views

Bangun tidur hari ini, seperti biasa langsung melihat handphone. Kabar buru(h)k yang pertama kali terbaca dalam pesan singkat. Koswara, seorang aktivis buruh, pimpinan Konfederasi Serikat Nasional (KSN) meninggal dunia karena serangan jantung. Kaget rasanya, mengingat sebelumnya tak pernah ada kabar dia sakit, tapi tiba-tiba saja dia sudah pergi.

Dulu saya mengenalnya ketika masih sama-sama aktif di Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), kala itu dia masih aktif di Federasi Serikat Buruh Karya Utama (FSBKU). Bersentuhan pertama kali dengannya saat pemogokan pabrik PT Sarasa di Tangerang, dan aksi pendudukan Departemen Tenaga Kerja oleh ribuan buruh yang ter-PHK. Terus berlanjut sentuhan itu saat bersama-sama dalam satu “rumah”, memiliki mimpi yang sama tentang kemenangan perjuangan kelas pekerja.

Sempat bertahun tak berkomunikasi dengannya karena persoalan di organisasi yang membuat kami terpisah. Dan baru dalam dua tahun terakhir kembali berkomunikasi, usai saya kembali lagi ke dunia perburuhan melalui kabarburuh.com. Namun itupun hanya komunikasi melalui telepon, tak sempat bersua. Bahkan saya juga lupa, kapan terakhir bertemu dengan dia.

Sebelum Koswara pergi, cerita tentang kepergian seorang aktivis buruh karena sakit sering kali terdengar. Beno Widodo (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia) pergi karena serangan jantung, terpeleset di kamar mandi dan pergi. John Silaban (Federasi Perjuangan Buruh Indonesia) tertidur membiru tak bangun lagi, juga karena serangan jantung. Joko Sumantri (KASBI), atau Bina Waluya (KSN), juga telah pergi karena sakit keras. Semua pergi karena tak mampu menjaga kesehatannya.

Namun apakah salah mereka yang pergi karena tak mampu menjaga kesehatannya? Atau kita yang selama ini bersama mereka, lalai untuk ikut serta menjaga kesehatan para pejuang itu?

Mereka adalah orang-orang pilihan yang telah mendedikasikan kehidupannya bagi sebuah keadilan dan kehidupan yang lebih baik bagi banyak orang (buruh, petani, nelayan, orang-orang miskin, dll). Hidup dalam keterbatasan di sekretariat, banyak waktunya dihabiskan untuk mengurus advokasi kasus orang-orang yang tak mendapatkan keadilan, hidup dengan tekanan, stres yang tinggi, hiburan yang minim, dan uang yang seberapa di kantongnya.

Saya rasa tak sempat bagi mereka untuk memikirkan esok mau jajan apa, akhir pekan mau jalan-jalan ke mana, membeli sepatu bola untuk bermain futsal, akhir bulan pergi ke dokter untuk mengecek kesehatannya, merencanakan liburan akhir tahun bersama keluarga, atau sekadar satu hari istirahat tidur di rumah, santai-santai. Hal-hal yang mungkin berkhayal pun mereka tak sanggup lakukan.

Saya, mungkin masih sedikit lebih beruntung dari mereka. Di tengah segala aktivitas yang kita lakukan, masih sempat bekerja mencari uang yang bisa digunakan untuk bersenang-senang, menghibur diri, melepaskan diri dari stres akan tekanan-tekanan kehidupan. Masih sempat merencanakan akan berlibur ke mana tahun ini, masih sempat berakhir pekan, membeli ini-itu untuk memanjakan diri, berkumpul bersama teman-teman tertawa dengan kopi hitam di meja, sembari menyemburkan kepulan asap.

Sebuah keniscayaan kesedihan itu ada ketika mendengar seorang kawan pergi, satu nyawa begitu berarti bagi sebuah perjuangan yang kita yakini. Akan tetapi, di balik kesedihan itu selalu tersirat rasa bersalah diri karena tak mampu menjaga mereka. Bukan berarti tak peduli, tapi sepertinya masih sporadis cara saya menjaga kawan-kawan itu, sekadar memberikan sumbangan ketika mereka sakit, berdoa untuk kesembuhannya, lalu di kemudian hari lupa menanyakan kabarnya.

Sampai hari ini, saya merasa tak mampu membantu mereka untuk menjaga kesehatannya, memikirkan kehidupannya, dll. Tak ada mereka dalam lingkaran kursi yang di atasnya ada gelas kopi, kepulan asap, dan tawa riang. Tak ada mereka dalam rencana liburan akhir tahun, tak ada mereka setiap menikmati akhir pekan, tak ada mereka ketika sedang memanjakan diri, tak ada mereka ketika sedang mengecek kesehatan, tak ada mereka. Lalu hanya akan bersedih, menangis ketika mendengar kabar mereka pergi, menyampaikan duka mendalam, dan salam hormat atas perjuangan mereka.

Menjaga kesehatan diri memang penting, tapi menjaga kawan, saya rasa tak kalah penting. Sial memang, menjaga kawan, menjaga kesehatan kawan, masih berada dalam satu wacana tanpa ada tindakan konkrit. Satu wacana yang selalu hadir dalam pikiran saya ketika mendapat kabar seorang kawan pergi, lalu terus mengulang wacana itu ketika kawan lain menyusul pergi.

Kini Koswara telah menyusul Beno, John, Joksum, Bina, dan lainnya. Terbebas sudah dia dari kerasnya kehidupan, dan panjangnya perjuangan. Mungkin dia telah menemukan ketenangan dan kebahagiaan. Jangan lagi ada yang menyusul pergi. Maaf jika selama ini tak ada kamu dalam lingkaran meja di antara kopi, rokok, dan tawa. Selamat jalan, Kos.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here