Kabar Baik Awal 2018: Pekerja Kebersihan Menangkan Haknya

0
519
Celebration for the Hoi Lai Cleaning Workers’ Victory at the Hoi Lai Estate in Cheung Sha Wan district, Hong Kong (06/01)

Kami datang mengetuk pintu
Bukan untuk mengemis
Kami datang mengetuk pintu
‘Dor, Dor, Dor’
Kami dapat membuang sampah
Juga menyingkirkan bos ‘Man Shun’

— Puisi Pekerja Kebersihan Hoi Lai

Setelah mogok selama 10 hari, pekerja Perumahan Hoi Lai akhirnya memenangkan haknya. Perusahaan Man Shun sebagai pemberi kerja akhirnya bersedia untuk memenuhi kewajibannya membayarkan pesangon.

Dengan dukungan dari komunitas dan berbagai organisasi, pekerja kebersihan akan mendapatkan pesangon sebesar HKD 1.200 (Rp. 2.062.740) per tahun masa kerja, sebagaimana dikutip dari media lokal InMedia.

Kasus ini bermula ketika kontrak perusahaan dengan Departemen Perumahan Hong Kong atas Perumahan Hoi Lai di Cheung Sha Wan selesai pada akhir tahun lalu. Begitu kontrak selesai, perusahaan menipu pekerja untuk menandatangani pengunduran diri secara sukarela untuk menghindari pembayaran kompensasi pada Oktober 2017.

Meskipun telah bertahun-tahun lamanya bekerja, perusahaan mengelak untuk memberikan hak pekerja atas pesangon. Sebaliknya, perusahaan Man Shun menawarkan untuk bekerja di bawah perusahaan Hong Kong Commercial Cleaning—yang diketahui memiliki hubungan kepemilikan yang dekat. Pekerja ditawarkan kenaikan gaji di perusahaan ‘baru’ hanya sebesar HKD 11 (Rp. 18.900), tanpa memperhatikan masa kerja di perusahaan sebelumnya.

Kesewenang-wenangan perusahaan telah membuat marah para pekerja. Menolak untuk pasrah, pekerja bertekad untuk menentukan nasibnya sendiri. Mereka melakukan mogok kerja dan bersumpah untuk tidak berhenti hingga haknya terpenuhi.

Pekerja kebersihan melakukan mogok di depan kantor pusat Otoritas Perumahan Hong Kong di Ho Man Tin, kota Kowloon, Hong Kong Kamis lalu (04/01)

Pada aksi mogok 4 Januari yang lalu, pekerja menuntut otoritas perumahan bertanggungjawab menyelesaikan masalah ketenagakerjaan. Tuntutan ini lantaran pihak pemerintah telah membiayai kontrak dengan kontraktor Man Shun. ‘Otoritas Perumahan harus bertanggungjawab. Kami menuntut otoritas untuk menemui kami,” ujar salah satu pekerja yang menolak disebutkan namanya.

Sekitar 20 pekerja yang melakukan mogok merupakan perempuan berusia tua yang telah bekerja selama 7-9 tahun. Salah seorang pekerja yang diwawancara mengatakan upah bulanannya hanya HKD 8.600 (sekitar Rp. 15.000.000). “Pendapatan saya tidak cukup untuk bisa mendapatkan hidup layak,” ujarnya.

Keluhan pekerja itu bisa dimaklumi mengingat Hong Kong merupakan wilayah dengan harga perumahan tertinggi di dunia. Pasalnya, untuk membayar sewa kontrakan di perumahan publik yang disediakan pemerintah saja, pekerja harus menyisihkan HKD 2.000 (Rp. 3.400.000). Jika pekerja tinggal di luar perumahan publik, biaya sewanya bisa lebih dari HKD 5.000 (Rp. 8.600.00).

Pekerja kebersihan menunjukan poster berisi tuntutan pesangon pada saat pemogokan sebelumnya (04/01).

Menjadi pekerja kebersihan sering kali diremehkan, meskipun pekerjaan yang dilakoni sangat menguras tenaga terutama bagi pekerja perempuan berusia tua. Pekerjaan sehari-hari yang dilakukan seperti membersihkan kamar mandi, lantai dan plafon bangunan.

Sementara itu, perusahaan tidak menyediakan peralatan kerja dengan cukup. Pekerja sering kali harus mencampur cairan pembersih dengan air atau bahkan mencari sisa pembersih di tempat sampah.

Setiap harinya, pekerja harus mengumpulkan dan membuang sampah seluruh 40 lantai bangunan yang berisi 400 kamar flat. Pekerjaan ini harus diselesaikan dalam waktu kerja. Jika tidak selesai, maka pekerja terpaksa untuk lembur tanpa dibayar.

Pekerjaan lainnya adalah mengurus sampah-sampah besar, seperti perabotan dan peralatan rumah tangga. Pekerjaan berat ini hanya dilakukan oleh pekerja berusia 80 tahun seorang diri. Pekerja itu harus menata tumpukan sampah yang rentan mengalami kecelakaan kerja seperti tertimpa sampah besar.

Pekerjaan-pekerjaan domestik seperti yang dilakoni oleh pekerja kebersihan itu—dan juga pekerja rumah tangga (PRT)—adalah salah satu masalah penting dalam kapitalisme. Urusan rumah tangga yang dianggap dan diciptakan sebagai tugas utama perumahan dalam masyarakat yang patriarkis sering kali tidak dibayar dengan layak, atau malah tidak dianggap sebagai pekerjaan sama sekali. Pekerja di bidang ini juga sering dianggap sebagai berketerampilan rendah.

Cara pandang ini tidak pantas. Hal ini sebagaimana pekerjaan-pekerjaan domestik itu memainkan peran penting dalam masyarakat, yaitu reproduksi sosial tenaga kerja. Dalam hal ini, adanya pekerja yang mengelola urusan domestik memungkinkan kelas pekerja untuk dapat merawat tenaga kerja dan memulihkan diri dari keletihan.

Dengan demikian, pekerjaan yang dilakoni pekerja kebersihan merupakan bagian tidak terpisahkan dari pembangunan ekonomi. Dalam kata lain, pekerja domestik juga mengalami penghisapan nilai lebih di bawah sistem kapitalisme, sebagaimana pekerja di sektor lainnya.

Pengalaman hidup pekerja kebersihan ini menjadi salah satu faktor besarnya dukungan dari komunitas luas. “Kita harus menghargai para pekerja kebersihan. Komunitas dan lingkungan akan tidak terawat tanpa diurus oleh pekerja kebersihan,” kata Lau Siu-Lai, salah satu anggota dewan yang didiskualifikasi saat menyampaikan solidaritasnya pada perayaan kemenangan pekerja di Perumahan Hoi Lai, Sabtu lalu (06/01).

Dengan tekad kuat pekerja dan dukungan yang luas, perusahaan akhirnya bertekuk lutut. Dari tawaran awal pesangon sebesar HKD 200 (Rp. 340.000)—yang tentunya ditolak oleh pekerja—perusahaan akan membayarkan pesangon sebesar HKD 1.200 untuk setiap satu tahun masa kerja. Tidak hanya itu, pekerja juga mendapatkan kenaikan gaji di perusahaan baru sebesar HKD 172 (Rp. 300.000).

Para pendukung perjuangan pekerja kebersihan dari berbagai organisasi lokal dan juga negara—Polandia, Indonesia, dan Filipina—memberikan ucapan selamat atas kemenangan yang berhasil diraih. Sejak awal, berbagai organisasi mulai dari serikat pekerja, komunitas lokal, partai politik, simpatisan, kelompok mahasiswa dan LSM, telah membantu pekerja dalam mengorganisir perlawanan.

Dengan mengalami sendiri kasus perburuhan, para pekerja mendapatkan pengalaman berharga. “Saya menjadi lebih kuat. Sekarang saya tidak takut lagi,” ujar salah seorang pekerja saat menyampaikan testimoninya.

Melalui pengalaman itu juga, pekerja memahami arti pentingnya bersolidaritas. “Saya terkesan ketika melihat banyak orang ikut menyumbang dana pemogokan. Ketika saya ikut serta dalam Aksi Awal Tahun untuk Demokrasi, saya amat tersentuh melihat banyak orang bersimpati pada kasus kami,” kata seorang pekerja lainnya.

Denny To mengingatkan para pekerja dan seluruh pendukung yang hadir, bahwa perjuangan untuk kehidupan pekerja yang lebih baik masih panjang. “Akhir dari pemogokan ini adalah awal dari gerakan untuk memperjuangkan buruh yang masih tereksploitasi,” ajak Denny yang juga sebagai Pengurus Serikat Pekerja Industri Jasa Kebersihan.

Kontributor: Rizal Assalam
Editor: Muh. Ridha

*Terimakasih kepada Fifi (Chinese University of Hong Kong Grassroots Concern Group), Rena Lau (Globalization Monitor) dan Fei (Workers’ News) yang telah memberikan informasi berharga.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here