Iuran: Sumber Kekuatan Gerakan Buruh

0
43 views

Maju mundurnya gerakan buruh salah satunya ditentukan oleh kelancaran iuran anggotanya. Demikian pentingnya iuran itu hingga Semaun dalam tulisannya “Penuntun Kaum Buruh” (1920) mengatakan bahwa berani membayar iuran yang besar berarti berani untuk memerdekakan kaum buruh atau serikat buruh, dan berani menentang kaum majikan.

Meski sederhana dan jumlahnya tidak seberapa, namun sekedar membayar iuran merupakan suatu tindakan yang progresif.

Jika diibaratkan, iuran anggota layaknya darah yang membawa oksigen (ide, kegiatan, instruksi, atau tuntutan) tersebar ke seluruh tubuh (organisasi serikat). Sementara itu, kedisiplinan anggota merupakan jantung yang menentukan kelancaran aliran darah itu.

Ketika jantung melemah, maka aliran darah akan tersendat membuat tubuh tidak mendapatkan suplai oksigen. Tubuh akan lemas dan kemudian akan mati.

Sejarah telah menunjukan bagaimana kebesaran serikat buruh ditentukan oleh seberapa disiplin anggotanya membayar iuran. SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), sebagai serikat buruh terbesar selama keberadaannya (1946 – 1966) memberikan pelajaran tentang itu.

Pada Februari 1958, SOBSI seminar tentang buruh perempuan yang pertama ada secara nasional. Seminar itu juga berhasil meningkatkan kapasitas kepemimpinan dan juga memperluas keanggotaan buruh perempuan. Seminar dengan skala nasional itu dapat diselenggarakan berkat dana organisasi yang 90% berasal dari iuran anggota (Wieringa, 1999).

Ketentuan tentang iuran dan besarannya biasanya diatur dalam AD/ART atau konstitusi organisasi buruh. Meskipun secara formal ada aturannya, namun iuran tidak dapat dipahami sekedar sebagai ketentuan formal atau sebatas ‘kewajiban’ anggota. Lebih dari itu, membayar iuran merupakan bentuk tindakan yang progresif dan membangun kekuatan gerakan buruh.

Mengapa iuran menjadi sangat penting bagi gerakan buruh? Pertama, iuran merupakan sumber utama pendanaan gerakan buruh. Tentunya dalam setiap kegiatan serikat buruh, baik itu rapat rutin. advokasi, aksi, atau menyewa kontrakan untuk sekretariat membutuhkan biaya.  Mulai dari membeli gorengan rapat, fotokopi salinan keputusan pengadilan, ongkos transportasi dan bensin, hingga sekedar membeli minum untuk pendamping kasus.

Kedua, iuran merupakan bentuk solidaritas dan kekompakan di antara sesama buruh. Pembagian tugas dalam serikat memberikan tanggung jawab dan beban kerja kepada pengurus serikat. Bahkan seringkali, pengurus serikat menjadi seorang full timer yang mendedikasikan seluruh waktu dan tenaganya untuk kepentingan anggotanya.

Pengurus serikat itu mencurahkan tenaganya mulai untuk mendampingi kasus anggotanya, menyiapkan mobil komando untuk aksi hingga wara-wiri ke Disnaker dan Pengadilan Hubungan industrial.

Curahan waktu dan tenaga pengurus serikat itu pada dasarnya merupakan kerja yang menghasilkan nilai guna. Tidak jarang hasil kerja pengurus serikat itu menghasilkan kegunaan bagi anggotanya, seperti kemenangan kasus yang diadvokasi atau pembesaran organisasi akibat aktifnya serikat lewat kegiatan-kegiatan yang dijalankan. Iuran di sini berperan sebagai bentuk ‘penghargaan’ hasil kerja para pengurus serikat itu.

Ketiga, iuran merupakan bentuk kerja gotong-royong membangun dan membesarkan serikat. Mari kita simak ilustrasi berikut. Serikat buruh di PT. XYZ beranggotakan 200 pekerja. Jika dalam satu bulan seorang anggota menyisihkan upahnya Rp. 35.000 saja atau setara dengan dua bungkus rokok, maka dalam sebulan serikat dapat mengumpulkan dana sebesar Rp. 7.000.000.

Jika upah yang diterima sebesar Rp. 3.500.000, maka uang yang disisihkan itu hanya menghabiskan 1% dari keseluruhan pendapatan. Dana yang terkumpul itu tentunya akan sangat membantu bagi terselenggaranya kegiatan dan perjuangan serikat itu sendiri.

Keempat, dan dengan demikian, maka iuran menunjukan seberapa besar kecintaan dan loyalitas anggota serikat pada organisasinya. Tindakan kecil menyisihkan hanya 1% dari upah bulanannya amat berkontribusi bagi gerakan, khususnya jika tindakan kecil itu dilakukan secara bersama-sama. Seperti pepatah sederhana, satu batang lidi dapat dengan mudah patah, namun jika diikat menjadi satu akan menjadikan kekuatan yang tidak mudah dipatahkan.

Jika pada aksi sebelumnya, sebagai contoh, kita masih disibukan dengan upaya-upaya penggalangan dana, belum terlambat untuk mulai menata kembali kelancaran pembayaran iuran demi organisasi yang kita cintai ini. Pengalaman sebelumnya justru memberikan pelajaran berharga sebagai kritik-otokritik terhadap kedisiplinan dan loyalitas kita, serta solidaritas kepada pengurus serikat yang berdedikasi.

Seperti keteladanan yang diberikan serikat terdahulu SOBSI, tindakan kecil dari anggota yang disiplin memberikan dampak besar bagi organisasi. Yuk bayar iuran!

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here