FPB – Halteng Menilai Agnes dan PT. IWIP Yang Pura-pura Tidak Paham

0
553

HALTENG, Forum Perjuangan Buruh Halmahera Tengah (FPB – Halteng), membantah apa yang sudah di sampaikan oleh Humas PT. IWIP Agnes Ide Megawati yang mengatakan pendemo sangat anarkis dan tidak mempunyai itikad baik serta tidak paham, Forum Perjuangan Buruh Halteng justru menganggap Agnes Ide Megawati selaku Humas dan  PT. IWIP yang tidak paham atau pura-pura tidak paham dengan kondisi karyawan yang berkerja

Koordinator FPB Firmansyah dalam Rilisnya Senin (06/4/2020) mengatakan, aksi yang di lakukan kemarin (Sabtu) itu, adalah akumulasi kekecewaan karyawan atas Memo yang di keluarkan PT. IWIP pada Tanggal 29 Maret kemarin itu dikeluarkan secara sepihak oleh management PT. IWIP

“Karena mengharuskan para buruh untuk memilih antara di tempatkan di mess dan bekerja seperti biasa, atau dirumahkan dengan ketidakpastian kerja dan upah yang tidak dibayar, ” kata Firman

Sementara lanjutnya, ratusan buruh dari desa Sagea-kiya, Messa, sampai Dotte, menolak Memo tersebut karena isinya dianggap merampas hak hidup para buruh

“Sesuai yang dikeluhkan karyawan PT. IWIP, ketika ditempatkan di mess, maka perusahaan mengharuskan karyawan untuk menetap dan tidak dibolehkan keluar masuk area perusahaan dengan alasan apapun termasuk keluarga sakit, bahkan orang tua meninggalpun tidak boleh, ” tuturnya

Menurutnya upaya PT. IWIP menempatkan buruh di mess lewat Memo yang dikeluarkan oleh Manajemen HRD Rosalina Sangaji, adalah kebijakan yang tidak massif sebagai upaya mencegah penyebaran Corona

“Karena jika PT. IWIP menganggap Kesehatan dan Keselamatan Kerja para buruh adalah yang utama, seharusnya perusahaan bisa menjeda aktivitas produksi dan meliburkan para pekerja ditengah bahaya wabah Corona, namun catatannya UMP atau upah pokok buruh harus tetap dibayarkan sesuai dengan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. SE-05/M/BW/1998,

kondisi saat ini bukan kemauan para buruh. Dan bahwa ini merupakan langkah konkrit menghindari jatuhnya korban akibat COVID-19,” Jelas Firman

Tambahnya, Perusahaan dinilai akan melakukan segala daya dan upaya, mencari celah  agar aktivitas Perusahaan tetap berjalan, buruh tetap bekerja, padahal Kesehatan dan Keselamatan Kerja para buruh sedang terancam

  1. IWIP sendiri sudah berulang kali mengeluarkan kebijakan sepihak yang merugikan para pekerjanya, dan lagi-lagi selalu keluar dari Rosalina Sangadji, bahkan sudah berkali-kali para buruh menyampaikan keluhannya ke management perusahaan tapi selalu saja memberikan ketidakpastian soal nasib buruh

“Anehnya lagi dalam beberapa kasus, buruh yang mengajukan cuti dan lebih dari sehari, biasanya dianggap mangkir, diberikan SP atau langsung di PHK, fatalnya lagi buruh perempuan PT. IWIP tidak diberikan cuti haid dan cuti hamil diberikan hanya dua hari, ” Kesal Firman

Soal demo kemarin yang berujung saling lempar batu bersama pihak keamanan itu,  lantaran masa aksi meminta agar Rosalina Sangaji keluar untuk hearing terbuka langsung dengan mereka namun Rosalina Sangaji tidak keluar bahkan mengutus Marlon untuk bertemu dengan Masa aksi

“Kalau saja Rosalina Sangaji keluar dan bertemu dengan massa aksi dan mendengar tuntutan mereka pasti tidak akan terjadi kekacauan, ” Tegasnya

Menanggapi Agnes Ide Megawati yang mengatakan karyawan “tidak paham” adalah suatu sikap kebodohan yang dilontarkannya. Agnes Ide Megawati menggunakan Imbauan Pemerintah terkait Sosial Distance dan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) sebagai dalih utama agar Memo yang dikeluarkan perusahaan tersebut di tengah Covid 19 (virus Corona) tetap diterima karyawan dengan hati yang resah. Padahal maksud dari Sosial Distance yakni agar masyarakat menghindari hadir di pertemuan, atau kerumunan orang dan harus berjaga jarak dengan orang sekitar enam kaki atau dua meter. Yang di maksud dengan pertemuan, kerumunan adalah seperti pusat perbelanjaan, bioskop, tempat kerja, apalagi perusahaan tambang

Maksud dari Pembatasan Sosial Bersekala Besar adalah pembatasan kegiatan masyarakat dari kegiatan tertentu untuk mencegah kemungkinan penyebaran virus. Pembatasan sosial Bersekala Besar adalah meliputi peliburan sekolah, penutupan tempat kerja, penutupan pusat perbelanjaan

Sosial Distance dan Pembatasan Sosial Bersekal Besar (PSBB) yang di maksud di atas sangat tidak mungkin diterapkan di lokasi kerja  PT. IWIP. Mana mungkin karyawan yang tinggal di mes dengan jumlah kurang lebih lima sampai delapan orang itu menerapkan standar menghindari virus Corona. Apalagi bus yang sering digunakan karyawan selalu berhimpitan. Bahkan dalam berkerja di lapangan saja karyawan sering mengeluh tidak disediakan sarung tangan, alasan pengawas Cina sarung tangan masih di order. Apakah pernyataan karyawan Tidak Paham oleh Agnes Ide Megawati bisa menjamin Karyawan terhindar dari Corona (Covid 19). Bahkan pernyataan Agnes pun juga meragukan Pemda dan DPRD Halteng dalam menolak Memo tersebut

 

Weda – Senin, 6 April 2020
Forum Perjuangan Buruh Halmahera Tengah (FPB – HALTENG)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here