Dialog dengan Marsinah

0
124

Tulisan di bawah ini dibuat oleh Nuzulun Ni’mah, Divisi Pengembangan Ekonomi, Dewan Pimpinan Pusat KSN. Nuzul menulis surat ini untuk mengantarkan kepada uraian naskah dialog saat ia berperan sebagai Marsinah pada Malam Marsinah-Umi Sardjono di Studio Dolora Sinaga, Jakarta, 8 Mei 2011. Tulisan dan naskah dialog ini dipublikasikan kembali untuk mengenang perjuangan Marsinah membela hak buruh dan perempuan yang perlu kita tuntaskan hari ini.

Naskah “Dialog Marsinah – Umi Sardjono” disalin di bawah.


Untuk kawanku, sahabatku, saudaraku Marsinah.

Mba Marsinah, aku memang belum pernah mengenalmu secara langsung, tapi mendengar dan membaca sejarah perjuanganmu, serasa jiwaku merasuk dalam ragamu.

Pun aku belum pernah ketemu denganmu, tapi aku merasa begitu sangat dekaaaaaat denganmu.

Mungkin karena nasib kita sama, sebagai perempuan dan buruh perempuan.

Mba Marsinah Saudaraku, perjuanganmu tak kan pernah sia=sia. Marsinah-Marsinah baru bermunculan pada setiap masa.

Dan aku orang yang sangat bangga, karena pernah ada kesempatan berperan menjadi dirimu, dalam dialog saat memperingati Gugurmu sebagai Pahlawan Buruh Perempuan.
Stodio Dolorosa Jakarta 2011 menjadi saksinya.

Terimakasih kawan2 BPI, khususnya mba Yuyud, yg telah mempercayai aku untuk berperan sebagai Marsinah, Tokoh Buruh yang begitu terhormat sepanjang sama.

Kawan2 Buruh perempuan di manapun berada, dialog ini sangat penting untuk terus kita baca, kita renungkan, kita hayati dalam kondisi apapun. Perjuangan harus tetap kita lakukan, sekalipun dalam masa Covid Corona.

#PerjuanganMarsinah
#PerjuanganBuruhPerempuanIndonesia
#GagalkanOmnibusLaw
#AtasiVirusCorona

Tangerang, 8 Mei 2020
Nuzul. N


 

Dialog Marsinah – Umi Sardjono

Karya: Ruth Indiah Rahayu

  

Dipersembahkan pada Malam Marsinah-Umi Sardjono, 8 Mei 2011, pukul 19.00 – 22.00 WIB, di Studio Dolorosa Sinaga, Jakarta. Produksi Barisan Perempuan Indonesia (BPI), Mei 2011.

 

ADEGAN SATU
(10 menit)

Marsinah dan Umi Sardjono duduk berhadapan dalam tirai panggung yang tertutup. Mereka nampak sebagai siluet dari penonton

Dibuka dengan iringan musik lirih. Pembacaan Puisi “Marsinah” karya Putu Oka Sukanta (hanya terdengar suara)

Selesai pembacaan puisi, musik Schindler’s List, dialog dibuka

 

Umi Sardjono

Marsinah, saya sudah lama mendengar perjuanganmu. Kamu masih muda, tapi sudah berani melawan penindasan buruh di pabrikmu. Saya bahagia, generasi penerus perempuan tetap ada yang berjuang.

 

Marsinah

Ibu ini siapa? Kok kenal saya?

 

Umi Sardjono

Saya kenal kamu dari berita di media massa, dari ceritera kawan-kawanku dan juga anak-anak perempuan yang bergiat memperjuangkan hak perempuan dan rakyat pekerja. Kamu itu sangat terkenal karena keberanianmu, nak!

(menghela nafas)

Aku ini sekarang bukan apa-apa. Politikku dan organisasiku, sudah dibunuh oleh rezim Soeharto. Tapi saya percaya ideologi yang saya yakini tidak akan pernah mati.

 

Marsinah

Ibu ini aktivis? Apa organisasinya?

 

Umi Sardjono

Ya, pada masa saya seusia kamu, saya aktif di Parindra, lalu pindah ke Gerindo yang dibangun oleh Mr. Amir Syarifuddin. Saya diajak oleh Yu Trimurti masuk ke organisasi politik yang progresif itu. Ketika Jepang menjajah kita, saya berada di Blitar aktif dalam perjuangan bawah tanah sampai Indonesia merdeka.

 

Marsinah

Wah, saya belum lahir di masa itu, Bu. Saya tidak tahu.

 

Umi Sardjono

Gerindo itu organisasi politik yang melawan kolonial dan mengorganisir kelas pekerja. Setelah Indonesia merdeka, saya masuk ke Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) dan secara khusus menghimpun serikat buruh perempuan perkebunan, serikat buruh departemen dan serikat buruh guru. Lalu saya dengan Yu Trimurti, Setiati Surastro dan Siti Aisyah membentuk Barisan Buruh Wanita (BBW). BBW menyelenggarakan kongresnya pada 1950 di Kediri, di mana Yu Trimurti jadi ketua, saya jadi wakil ketua, sedangkan sekjendnya Siti Aisyah.

Saya maklum, Marsinah, karena kamu lahir ketika sejarah perjuangan yang dipimpin kelas pekerja diberangus oleh rezim Soeharto, makanya kamu belum tahu sejarah ini. Terutama sejarah BBW banyak yang tidak tahu.

 

Marsinah

Waktu itu sudah ada buruh perempuan ya Bu? Apa tidak ada buruh manufaktur?

 

Umi Sardjono

Buruh perempuan banyak sekali, terutama di perkebunan dan industri batik. Memang pada masa itu belum ada industri manufaktur seperti tempat kamu kerja sekarang.

 

Marsinah

Kenapa Ibu bikin serikat buruh di departemen dan di kalangan guru?

 

Umi Sardjono

Pegawai perempuan di departemen itu banyak mengalami diskriminasi. Apalagi departemen-departemen itu kan warisan pemerintahan Belanda, wah, perlakuannya terhadap kaum perempuan buruk sekali. Guru-guru perempuan kita juga banyak, namun masih banyak yang hanya dianggap sukarelawan, tenaga honorer, dan tidak punya ketentuan upah.

 

Marsinah

Saya baru tahu mereka mau berserikat!

 

Umi Sardjono

Ceriteranya begini. Beberapa bulan sebelum Jepang menyerah pada Agustus 1945, sejumlah aktivis perempuan pegawai negara membentuk Persatuan Pegawai Putri Indonesia (PPPI) yang dipimpin oleh Widayati Soegarda. Karena kami berpendapat bahwa pegawai itu juga buruh, maka PPPI ini seharusnya bergabung dengan organisasi buruh. Setelah mengadakan hubungan dengan Barisan Buruh Indonesia (BBI) yang merupakan persatuan serikat-serikat buruh yang dibentuk setelah Indonesia merdeka, maka PPPI mengadakan kongres membentuk Barisan Buruh Wanita (BBW). Dalam waktu singkat BBW sudah mempunyai 17 cabang, dan kemudian kedudukan BBW dalam lingkungan perjuangan buruh menjadi tempat persemaian kader-kader buruh perempuan yang berafiliasi dengan BBI. Pada perkembangannya sebagian dari anggota BBI membentuk Partai Buruh Indonesia. Namun, sebagian yang tidak masuk Partai Buruh Indonesia melebur diri membentuk SOBSI (Sentra Organisasi Buruh Seluruh Indonesia).

 

Marsinah

Jadi ibu Umi ini aktivis buruh perempuan ya? Sama nggak ya, masalahnya buruh perempuan dulu dan sekarang?

 

Umi Sardjono

Kami memperjuangkan dua masalah, Marsinah. Masalah perburuhan dan masalah perempuan sebagai buruh. Ketika PPPI belum melebur menjadi BBW, organisasi ini bersatu dengan Persatuan Pemudi Indonesia (PPI) dan Persatuan Wanita Indonesia (PERWANI) yang merupakan organisasi perempuan di masa perjuangan melawan kolonial Jepang dan Belanda. Jadi BBW itu merupakan hasil perpaduan perjuangan antara gerakan perempuan dan gerakan buruh. Mengapa begitu? Karena kita menghadapi dua masalah sebagai buruh dan sebagai perempuan. Apakah Marsinah saat ini merasakan masalah… sebagai buruh dan sebagai perempuan?

Musik 1 menit.

***

ADEGAN DUA
(10 menit)

 

Marsinah

Betul Bu! Sebagai buruh saya menghadapi masalah upah yang tidak layak, fasilitas kerja buruk, jam lembur dibuat sesuka-suka sama pabrik, cuti haid susah diambil, cuti melahirkan tidak mendapat upah, bahkan ada banyak kasus PHK setelah buruh perempuan melahirkan.

 

Umi Sardjono

Coba…. ceriterakan, tentang dirimu, nak!

 

Marsinah

Orang tua saya petani, tinggal di desa Nglundo, Nganjuk di Jawa Timur. Waktu saya berusia tiga tahun, ibu saya meninggal, lalu saya diasuh sama nenek saya, Puri’ah, dan bibi saya, Sini, sampai saya tamat SMA. Sedari kecil saya sudah terbiasa membantu nenek dan bibi mencari nafkah. Nenek saya miskin, BU. Tapi saya mempunyai semangat untuk belajar sampai perguruan tinggi, tapi yaa… kandas cita-cita saya.

 

Umi Sardjono

Setelah ibumu meninggal, kamu diasuh dan dibesarkan oleh para perempuan ya? Nenek dan bibimu pasti pekerja keras yang ulet dan tak kenal menyerah untuk melangsungkan hidup sehari-hari. Pantas kamu mewarisi semangatnya. Saya teringat pejuang-pejuang muda sepertimu ini di masa lalu…. Lalu bagaimana kamu bisa ikut dalam perjuangan buruh, Nak?

 

Marsinah

Setelah cita-cita saya kandas, lalu saya mengirim lamaran kerja ke berbagai perusahaan di Gresik, Surabaya dan Mojokerto. Mulanya saya diterima kerja di pabrik sepatu Bata di Surabaya pada 1989. Lalu saya pindah ke pabrik arloji PT Catur Putra Surya di Rungkut, Surabaya. Ketika pabrik Catur Putra Surya membuka cabang di Siring, Porong, Sidoarjo, saya ditempatkan di sana. Di situ saya kenal dengan perjuangan buruh.

 

Umi Sardjono

Lho, jadi tempat kerja saat kamu berjuang itu di Siring, Porong? Itu kan desa yang sekarang sudah menjadi lautan lumpur akibat eksplorasi PT Brantas Lapindo?

 

Marsinah

Betul, Bu. Kos-kosan saya dulu juga di situ, sekarang pasti juga sudah berupa lumpur ya?

 

Umi Sardjono

Kemudian bagaimana kelanjutan kisahmu, Marsinah?

 

Marsinah

Saya berkenalan dengan kawan-kawan yang aktif di serikat buruh. Saya dapat pengetahuan tentang masalah perburuhan dan itu membuat saya sadar bahwa buruh itu ditindas. Saya senang ikut diskusi dan membaca berita di koran tentang masalah perburuhan, dan saya bertekad untuk memperjuangkan kondisi buruh yang ditindas. Karena saya merasakan sendiri, kerja sangat capek, tanpa fasilitas memadai dan  hanya diupah dengan jumlah rupiah yang tidak layak untuk hidup sehari-hari.

Marsinah menghela nafas panjang.

Waktu itu, di awal 1993, ada surat edaran dari  Gubernur KDH TK I Jawa Timur No. 50/Th. 1992 yang berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan upah sebesar 20% dari gaji pokok. Namun pabrik di tempat kami bekerja tidak menggubris surat edaran itu. Maka kami resah. Sekitar pertengahan April 1993, kami membuat pertemuan dan memutuskan aksi pemogokan selama tanggal 3 – 4 Mei 1993 untuk menuntut kenaikan upah dari Rp 1700,-  menjadi Rp 2250,-.

 

Umi Sardjono

Kamu ikut mengorganisir pemogokan?

 

Marsinah

Iya, Bu. Saya sudah gregeten sama pabrik dan keadaan itu harus dilawan. Kami mulai mogok kerja pada 3 Mei 1993. Saya lalu pergi ke kantor Depnaker Surabaya untuk mencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Ketika kami menghadap pihak perusahaan, kami tunjukkan data upah minimum regional tadi. Besoknya, 4 Mei, seluruh shift kerja mengadakan unjuk rasa di pabrik, namun kami berhadapan dengan satpam yang menghalangi massa dari shift II dan shift III. Satpam itu juga memukul buruh dan meneriaki kami “PKI!!”

 

Umi Sardjono

(menarik nafas panjang)…Oh…aku ini tidak bisa terima, kalian dimaki PKI oleh satpam yang sesama buruh dengan kalian. Saya ini sejak melawan colonial dan kemudian ikut serta membangun PKI yang memperjuangkan kelas pekerja ternyata istilah PKI hanya untuk menakut-nakuti kelas buruh yang sedang berjuang. (marah) Cilaka penguasa kapitalis ini!!

 

Marsinah

Lho, ibu Umi dulu PKI?

 

Umi Sardjono

Benar sekali. Selain itu, saya pendiri dan ketua umum dewan pimpinan pusat Gerwani.

 

Marsinah

Gerwani? Ibu yang mencongkel mata jenderal dan menyilet penisnya di Lubang Buaya?

 

Umi Sardjono

Itu fitnah keji dari kapitalis dan kompradornya. Coba teruskan ceriteramu!

 

Marsinah

Kami masih mogok kerja dan unjuk rasa pada 5 Mei 1993. Lalu Kodim memanggil 13 orang yang dianggap aktivis serikat penggerak pemogokan. Secara sewenang-wenang pihak Kodim mem-PHK ke-13 teman saya itu. Lalu 8 orang teman saya yang lain menyusul giriliran diPHK. Masak Kodim mem-PHK buruh. Kodim itu tentara bagaimana bisa memPHK buruh? Tindakan sewenang-wenang itu yang membuat saya tidak bisa menerima begitu saja. Saya harus membela kawan-kawan saya yang ditahan dan di-PHK Kodim secara sewenang-wenang! Pada malam hari, saya pergi ke kantor Kodim untuk menanyakan keadaan ke-13 teman saya. Saya pergi sendiri ke sana….

Musik masuk (3 menit)

***

ADEGAN TIGA
(10 menit)

 

Umi Sardjono

Lalu jasadmu ditemukan anak-anak di desa Jegong, Nganjuk, pada 9 Mei 1993, di kota tempat kelahiranmu, Marsinah! Jasadmu penuh koyak siksaan. Marsinah! Kamu mengalami perlakuan dari Kodim seperti kawan-kawanku anggota Gerwani pada Tragedi Oktober 1965. Sebagian mati dan sebagain masih hidup namun telah mengalami kematian perdata sebagai warga negara Indonesia.

 

Marsinah

Kenapa Ibu katakan Gerwani mencungkil mata dan menyilet penis tujuh jenderal itu fitnah belaka?

 

Umi Sardjono

Saya ini ketua Gerwani, Marsinah! Tidak ada keputusan politik Gerwani pada masa itu untuk mengcungkil mata dan menyilet tujuh jenderal. Wong, kejadian pembunuhan tujuh jenderal saja saya tidak tahu, apalagi angota Gerwani lainnya.

 

Marsinah

Kenapa anggota Gerwani mengalami keadaan seperti saya, ya Bu….

 

Umi Sardjono

Ya, apa yang kamu alami itu merupakan per-ulangan dari peristiwa yang kami alami sejak pertengahan Oktober 1965. Gerwani dulu melawan kapitalisme-imperialisme yang masih berkehendak menjajah Indonesia. Dalam kegiatan sehari-harinya sampai ke basis massa, kami melawan pernikahan anak-anak perempuan, apalagi untuk dipoligami. Kami melawan poligami. Kami ikut serta membantu pemogokan buruh pabrik, contohnya di pabrik pemintalan benang di Garut pada akhir decade 1950an, yang buruhnya perempuan semua. Kami memberikan solidaritas pada saat aksi pengambil-alihan tanah dari tuan-tuan tanah untuk dibagikan kepada petani miskin sesuai dengan UU Pokok Agraria dan bagi hasilnya. Kami mengadakan gerakan menanam sayur di pot-pot untuk menghadapi krisis ekonomi awal 1960an, disamping kegiatan pemberantasan buta huruf, membuat kue dan arisan beras (jimpitan).

 

Marsinah

Kalau kegiatan Gerwani seperti itu kenapa dimusuhi? Kenapa memperjuangkan nasib yang miskin itu harus menerima penghukuman yang berat dari penguasa negara? Bukankah penguasa negara itu yang mestinya memperjuangkan nasib orang miskin? Saya ini, Bu, memperjuangkan nasib sendiri sebagai buruh, kenapa saya kemudian dibunuh?

 

Umi Sardjono

Justru memperjuangkan nasib buruh, petani, perempuan yang mengalami penindasan di dalam struktur kapitalisme itu yang dianggap berbahaya bagi penguasa capital dan Negara, Marsinah! Kapitalisme menginginkan tetap ada kelas buruh, petani dan perempuan miskin agar dapat menggunakannya sebagai tenaga kerja yang diupah murah sekaligus sebagai konsumen atas barang-barang produksinya. Dengan begitu terjadi pemupukan keuntungan yang disebut nilai lebih, yang makin memperbesar capital mereka.

 

Marsinah

Kenapa Kodim turun tangan dalam masalah perburuhan dan melakukan perbuatan biadap terhadap kawan-kawan saya dan juga terhadap saya?

 

Umi Sardjono

Ketika itu kita masih hidup di bawah rezim militer kolaborator kapitalisme, jadi militer adalah bagian dari apparatus kapitalisme yang dibayar untuk menjaga asset capital di territorial industry. Apa yang dijaga sebenarnya? Adalah perlawanan dari buruh. Makanya sebelum perlawanan buruh itu meluas, bahkan menggerakkan kelas tertindas lainnya seperti petani dan perempuan, kalian para aktivisnya dibunuh!

 

Marsinah

Mengapa Ibu tidak dibunuh?

 

Umi Sardjono
(penuh emosi, naik turun, antara marah, sedih, kecewa pada diri sendiri)

Saya tidak tahu. Waktu itu katanya saya mau diadili, namun malah empat orang kawan saya yang diadili, yaitu Ambar, Sulami, Sudjinah dan Harti. Saya hanya ditahan dari 1965-1976, sedangkan anggota Gerwani lainnya ada yang dibunuh, dan ditahan lebih lama dari saya. Apalagi Jamila, Saiya… anak-anak itu bukan anggota Gerwani tapi dipaksa dengan siksaan untuk mengakui perbuatan mencongkel mata dan menyilet penis tujuh jenderal. Itulah yang membuat saya tersiksa secara batin. Seharusnya mereka itu bebas, dan saya sebagai pimpinan Gerwani yang menerima tanggungjawab terbesar dalam perjuangan. Kamu juga seorang pemimpin, Marsinah! Dan kamu telah menerima konsekuensi dari perjuangan!

 

Marsinah

Perjuangan di masa saya dan di masa Ibu ternyata merupakan mata rantai perjuangan kelas tertindas. Ternyata di antara kita terdapat kesamaan meski berbeda zaman. Dan kita dihancurkan dengan cara yang serupa!

 

Umi Sardjono

Cerdas sekali kamu, Marsinah! Saya bangga, di tengah represi yang luar biasa seperti ini, tumbuh tunas muda sepertimu. Ya, masalah perburuhan dan masalah perempuan dari masa saya sampai masa kamu, pokok masalahnya tidak berubah selama struktur kapitalisme masih jaya. Benih-benih perjuangan kelas pekerja juga akan dihancurkan dengan berbagai macam cara, seperti, pecah belah, dan Bui-Buang-Bunuh yang di masa lalu disingkat 3-B. Maka menjadi penting adanya persatuan kelas pekerja, persatuan gerakan buruh, gerakan petani, gerakan perempuan, gerakan miskin kota, gerakan mahasiswa, gerakan kebudayaan. Kami dulu berupaya mempersatukan itu dan semuanya itu dipecah-pecah hancur.

 

Marsinah

Saya tidak menyesal, sekarang, mati demi perjuangan buruh. Saya berharap perjuangan ini dapat dilanjutkan oleh kawan-kawan untuk lebih besar, lebih progresif dan mencapai kemenangan.

 

Umi Sardjono

Setuju sekali, Marsinah. Kita memang sudah tidak dapat lagi bergabung dalam persatuan perjuangan dengan kawan-kawan saat ini. Namun saya percaya dan sangat yakin, kawan-kawan kita, anak-anakku akan melanjutkan perjuangan ini sampai mencapai kemenangan!

 

Marsinah dan Umi Sardjono

Jangan lelah dan putus asa, berjuanglah wahai kawan-kawanku sampai mencapai kemenangan kelas pekerja yang tertindas!

Musik. Layar terkembang….

Kemudian pemeran Marsinah dan Umi Sardjono (bertopeng foto masing-masing) menghadap ke arah penonton sembari mengangkat tangan kiri, mengepalkan tinju ke atas dan meneriakkan: Jangan Lelah Berjuang untuk kelas pekerja!! (tiga kali) Penonton menjawab: Adil, Setara!! (tiga kali)

Pemeran Umi Sardjono-Marsinah meninggalkan panggung.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here