Dealer Daihatsu Memberangus Serikat Pekerja

0
987
Workers organized a protest against union busting in front of Authorized Daihatsu Automobile Dealer Store, December 28th, 2017

Perusahaan dealer Daihatsu tidak mau mengakui keberadaan serikat pekerja. Pengurus dan anggota serikat dipecat tanpa ada surat peringatan apapun.

Sebanyak enam pengurus dan tiga anggota Serikat Pekerja Otomotif Nasional (SPON) dipecat secara sepihak. Pemecatan itu dilakukan oleh manajemen PT. Kharisma Sentosa Makassar, dealer mobil ‘Daihatsu’, secara lisan tanpa peringatan dan tanpa kompensasi apapun.

Nama mereka dihapus dari daftar hadir dan tidak mendapatkan pesangon,” ujar Ketua Umum Federasi Perjuangan Buruh Nasional (FPBN) Hatta yang menaungi SPON. Hingga berita ini diturunkan, perusahaan enggan untuk mempekerjakan kembali kesembilan orang yang dipecat.

SPON tercatat di Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) setempat sejak Oktober 2017. Dibentuk untuk memperjuangkan hak pekerja yang dikebiri oleh perusahaan.

Pekerja Kharisma Sentosa selama ini dipaksa untuk memenuhi target penjualan sebanyak tiga unit kendaraan setiap bulannya, agar dapat mendapatkan upah sesuai dengan UMK Makassar. “Ketika tidak memenuhi target penjualan, pekerja hanya mendapatkan gaji sekitar Rp. 1.800.000. Padahal UMK Makassar tahun 2017 sebesar Rp. 2.504.500,” ujar Hatta menjelaskan saat dihubungi lewat telepon seluler. “Untuk mencapai UMK, pekerja hanya bisa mengandalkan dari tambahan bonus dan insentif penjualan ketika target tercapai.”

Sekitar 40 pekerja bagian penjualan di dealer resmi Daihatsu cabang Indonesia ini juga diketahui tidak didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan oleh perusahaan.

Kondisi kerja di Kharisma Sentosa ini semakin memburuk setelah pergantian manajemen. Roni Octavianus Ginting yang bertindak sebagai General Manager sejak 2016 mengubah kebijakan yang terkait dengan sistem penggajian dan status kerja. Menurut Hatta, sistem penggajian yang baru ini mempersulit pekerja untuk mendapatkan insentif dan bonus.

Di bawah kepemimpinan Roni, manajemen perusahaan menetapkan status kontrak bagi pekerja yang telah bertahun-tahun bekerja. Menurut Hatta, selama ini pekerja Kharisma Sentosa yang telah bekerja selama tiga hingga tujuh tahun ini tidak pernah memiliki perjanjian kerja tertulis.

“Pekerja hanya mendapatkan Peraturan Perusahaan. Perjanjian kerja hanya dilakukan secara lisan,” lanjut Hatta menjelaskan.

Penetapan status kerja tidak tetap ini dinilai diskriminatif karena hanya berlaku bagi pekerja di bagian penjualan. Sementara itu, hanya supervisor dan kepala cabang yang menikmati kepastian kerja sebagai pekerja tetap.

Penetapan status kerja tidak tetap ini melanggar UU Ketenagakerjaan tahun 2003 bagian Hubungan Kerja. Status kerja kontrak yang disebut dalam UU Ketenagakerjaan sebagai ‘Perjanjian Kerja Waktu Tertentu’ (PKWT) itu tidak dapat diberlakukan pada pekerjaan yang sifat dan jenis pekerjaannya terus menerus.

Mengacu pada peraturan itu, pekerja penjualan di Kharisma Sentosa merupakan bagian dari inti kegiatan usaha penjualan kendaraan bermotor karena jenis pekerjaannya berkelanjutan. Dalam kata lain, status kerja yang diberikan sudah seharusnya adalah pekerja tetap atau ‘Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu’.

Pemberangusan Serikat Pekerja
Menghadapi kondisi kerja yang memburuk, para pekerja melalui serikat berupaya untuk mengajukan perundingan dengan pihak manajemen pada 11 Desember 2017 yang lalu. Namun, permintaan perundingan itu ditolak karena perusahaan tidak mau mengakui keberadaan serikat di PT. Daihatsu Kharisma Sentosa Makassar.

Pekerja kemudian berencana mogok kerja dengan melakukan penahanan penjualan sebagai reaksi atas penolakan manajemen terhadap pengajuan perundingan sebelumnya. Selang dua hari setelah surat aksi mogok dimasukan pada 21 Desember 2017, kesembilan pekerja dipecat pada saat acara pengenalan Pimpinan Cabang yang baru.

Pada acara pengenalan itu, kawan-kawan pengurus serikat dipojokan oleh manajemen atas alasan rencana penahanan penjualan. Para pekerja itu langsung diminta keluar dari ruangan dan dipecat,” kata Hatta.

Sebagian besar pekerja yang dipecat itu merupakan Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO) dan Dewan Pengurus Harian (DPH) serikat: Umair Arsyad (Ketua DPO), Mulyadi (Sekretaris DPO), Syahrianto (Anggota DPO), Jufran M (Ketua DPH), Hardi (Wakil Ketua DPH), dan Kasmal (Wakil Sekretaris DPH).

SPON dengan didukung oleh FPBN yang menaunginya kemudian mengadakan aksi di depan dealer Daihatsu Kharisma Sentosa pada 28 Desember 2017 yang lalu. Aksi itu menuntut pencabutan status kerja tidak tetap, menggugat pemberangusan serikat, menolak pemecatan sepihak dan menuntut perusahaan untuk mempekerjakan kembali pekerja yang dipecat.

SPON juga menuntut perusahaan untuk membayar upah sesuai dengan UMK Makassar dan mendaftarkan pekerja sebagai peserta BPJS.

Namun demikian, perusahaan enggan untuk memenuhi tuntutan pekerja. Perusahaan juga tetap tidak mau mengakui keberadaan serikat pekerja, meskipun UU Serikat Buruh tahun 2000 telah menjamin hak untuk berserikat.

Alih-alih memenuhi kewajibannya terhadap pekerja, perusahaan justru mengerahkan preman untuk mengintimidasi pekerja yang melakukan aksi. “Pada saat perundingan terjadi, perusahaan mengikutsertakan Pemuda Pancasila dan kelompok lain yang tidak diketahui asalnya,” ungkap Hatta menambahkan.

Keuntungan perusahaan otomotif Daihatsu dari keringat buruh
PT. Kharisma Sentosa Makassar yang terletak di Jln. Gunung Latimojong No. 78A, Makassar ini merupakan salah satu dealer mobil merk Daihatsu yang berasal dari Jepang. Dealer ini terdaftar dalam situs web resmi PT. Astra Daihatsu Motor sebagai agen pemegang merek Daihatsu di Indonesia dan produsen kendaraan merek Daihatsu/Toyota, dan komponen serta bisnis terkait.

PT. Astra Daihatsu Motor yang berdiri pada 1992 itu sendiri merupakan salah satu perusahaan gabungan (joint ventures) yang utama di bawah payung Daihatsu Motor Co., Ltd. Dilansir dari situs web resmi, Astra Daihatsu Motor merupakan bagian dari rantai pasok global Daihatsu Motor yang berpusat di Jepang yang mengelola perakitan (manufaktur), penjualan dan ekspor suku cadang.

Di bawah Astra Daihatsu Motor, Daihatsu dapat menjual produk kendaraan bermotornya lewat berbagai dealer yang beroperasi di Indonesia. Di Makassar misalnya, bersama Daihatsu Kharisma Sentosa, dealer lain juga tercantum dalam situs web resmi, seperti Jujur Jaya Sakti Makassar, Astra Daihatsu Makassar Urip Sumoharjo, dan Astra Daihatsu Makassar Panakukang.

Sementara di Surabaya, Daihatsu tercatat memiliki sejumlah dealer, seperti Armada International Motor, ASCO Surabaya Jemur Sari, ASCO Surabaya Mastrip, Astra Daihatsu Surabaya HR Muhammad, Karunia Motor Surabaya dan banyak lagi.

Di dalam rantai pasok yang demikian luasnya ini, Daihatsu tidak mungkin mampu melakukan penjualan tanpa ada pekerja yang mempromosikannya, seperti di Kharisma Sentosa. Dilihat dari angka penjualan, Daihatsu tercatat mampu menjual 156.993 unit pada periode Januari-Oktober 2017. Berdasarkan angka penjualan itu, market share Daihatsu mengalami peningkatan sebesar 17,8% untuk retail sale (penjualan dari dealer ke konsumen).

Koresponden Buruh: Hatta (FPBN)
Editor: Rizal Assalam

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here