Darurat Demokrasi: Mengutuk Kekerasan Negara Terhadap Massa Aksi May Day 2019

0
3649

Negara dengan dibantu oleh media borjuis hendak mengadu-domba sesama massa aksi May Day melalui fitnah-fitnah keji. Kenyataannya, barisan hitam di Jakarta ikut bergabung sejak massa aksi merapikan barisan di Dukuh Atas. Tidak ada gesekan, tidak ada pertikaian ketika barisan hitam bergabung dengan massa buruh. Kita semua bernyanyi, meneriakkan yel-yel, dan menggelorakan panji-panji revolusi bersama.

Di beberapa tempat seperti di Jakarta dan Bandung massa aksi yang menggunakan atribut serba hitam dituduh sebagai ‘penyusup‘ dan memprovokasi bentrokan. Lantas, tuduhan ini digunakan sebagai pembenaran bagi aparat untuk menganiaya, menangkap, serta mempermalukan barisan hitam. Di Bandung, sebanyak 753 orang yang ikut merayakan Hari Peringatan Buruh Sedunia ditangkap, dibotaki dan ditelanjangi oleh aparat. Ratusan orang menjadi korban intimidasi dan kekerasan fisik aparat.

Sementara di Surabaya, 120 massa aksi dari Aliansi Barisan Rakyat Anti Penindasan (BARA API) diserbu oleh aparat kepolisian. Polisi memaksa massa aksi untuk membuka kain penutup mulut, merebut paksa atribut tuntutan sambil mengancam pembubaran. Buntutnya, dua orang aktivis FMN Arief dan Rizky serta tiga lainnya ditangkap oleh aparat kepolisian. Di tempat lain, massa aksi aliansi Komite Aksi Mayday untuk Rakyat (KAMRAT) di Yogyakarta dihadang dan dihajar oleh aparat saat berada di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan.

Di Jakarta, barisan hitam dituduh sebagai provokator. Padahal semua massa aksi sepakat bahwa Negara telah semakin membatasi ruang demokrasi dengan memblokade akses massa melewati Bundaran HI dan menuju Istana Negara—tempat rezim fasis yang angkuh itu. May Day tahun ini adalah kali ketiga massa aksi dilarang menyampaikan tuntutannya di depan Istana sejak Negara mengarahkan kekuatannya dengan gelagat mengajak perang rakyatnya.

Penyusup sejati adalah polisi anggota Intelijen yang tanpa malu meniru kostum massa aksi, secara munafik menginfiltrasi barisan sambil mengambil gambar para orator dan korlap dan mencatat nama-nama. Negara dan aparatus kekerasannya adalah pelaku sejati vandalisme. Warga Taman Sari dihancurkan rumahnya, sawah petani Kulonprogo dan Urut Sewu dibongkar dan tanaman garapan warga dirusak, sementara tenda perjuangan buruh Freeport dirobohkan paksa.

Tidak pernah sekalipun Negara mengakui kesengajaannya membubarkan paksa dan memukuli rakyat yang melawan. Tidak jarang aksi-aksi damai direspon secara brutal oleh aparat, seperti yang terjadi di kala Komite Aksi Upah Gerakan Buruh Indonesia (KAU-GBI) menuntut pencabutan PP 78/2015 tentang Pengupahan. Demikian pula ketika warga Kulon Progo yang tiba-tiba mendapati pintu rumahnya dicongkel dan ekskavator merubuhkan langit-langit rumahnya. Tanpa mengetahui salahnya, tidak sedikit warga yang dibogem tentara.

Sementara di sisi lain, Negara selalu berupaya memfitnah ekspresi kemarahan rakyat dengan label tindakan ‘vandal’. Serikat buruh sendiri tercatat pernah beberapa kali mengekspresikan kemarahannya seperti merobohkan pagar Tol Dalam Kota dan pagar Gedung DPR atau menutup jalan tol. Kesemuanya itu acap kali dituduh oleh Negara sebagai tindakan yang mengganggu ketertiban umum atau merusak fasilitas publik.

Negara ketakutan melihat anak-anak muda beratribut hitam ini melatih dirinya di lapangan dan menyaksikan langsung keberpihakan Negara pada pemodal. Mereka difitnah sebagai ‘bukan buruh‘, ‘orang luar’, atau ‘pembuat kericuhan‘. Padahal sebagian besar mereka adalah kaum pelajar, buruh informal dan pemuda pengangguran. Mereka adalah kaum muda antitesis dari sistem pendidikan yang tidak membebaskan dan komersil, serta reaksi dari politik formalitas penuh basa-basi dan bermuka dua

Di Jakarta, sekelompok pelajar sekolah menengah yang menamakan dirinya ‘Pijar’ turut berorasi menyampaikan pesan yang amat mengagumkan. Mereka adalah anak-anak buruh yang kelak akan menjadi buruh sebagaimana orang tuanya. Melalui orang tuanya, mereka juga turut merasakan betapa sulitnya hidup menjadi kelas yang selalu dihisap. Mereka tidak ingin menjadi buruh yang dengan mudahnya dibuang pengusaha begitu saja lewat sistem kontrak berjangka pendek, outsourcing dan pemagangan.

Mereka kelak akan menjadi organiser tangguh yang mengajak buruh keluar pabrik dan menghentikan produksi. Mereka adalah barisan militan yang mengajak kita untuk saling bersolidaritas melalui poster-poster, meme dan video kreatif. Mereka juga adalah pembakar semangat bagi buruh yang semakin diperlemah oleh negara lewat ideologi ‘Hubungan Industrial’ dengan perangkat hukumnya dan propaganda busuk ‘May Day is Fun Day’.

Beberapa tahun belakangan ini, gerakan rakyat terus mengalami kemajuan. Persatuan-persatuan, di tengah berbagai keterbatasan yang ada, terus menerus menjahit berbagai kelompok. Tahun ini merupakan ketiga kalinya serikat-serikat buruh konsisten merawat aliansi luas GEBRAK. May Day kali ini juga kita menyaksikan kebersamaan barisan hitam yang melebur dan bernyanyi bersama massa buruh. Persatuan ini harus kita rayakan, di mana atribut organisasi menjadi tidak relevan demi terbangunnya solidaritas kelas pekerja.

Atas dasar situasi-situasi di atas, maka Konfederasi Serikat Nasional menyatakan:

  1. Mengutuk kekerasan terhadap massa aksi May Day di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan berbagai tempat lainnya
  2. Melakukan investigasi terhadap prosedur penangkapan yang melanggar Undang-Undang dan Peraturan Kapolri tentang Pengendalian Massa. Negara wajib melakukan investigasi terhadap rantai komando dan tanggung jawab dalam proses penangkapan-penangkapan yang jelas melanggar prosedur.
  3. Memprotes segala bentuk penyempitan ruang-ruang demokrasi bagi rakyat pekerja menyampaikan aspirasinya serta fitnah terhadap seluruh bentuk ekspresi kemarahan rakyat atas kapitalisme yang semakin membusuk
  4. Menuntut pembebasan dan pemulihan bagi seluruh rakyat korban kekerasan, serta permintaan maaf Negara terhadap tindakan penyiksaan dan penangkapan massa aksi May Day di berbagai daerah.
  5. Menyerukan pembangunan solidaritas dan persatuan lintas atribut dan bendera organisasi. Bahwa hanya dengan persatuan, maka pembebasan sejati rakyat pekerja dari penindasan kapitalisme dapat terwujud.

Demi persatuan, hidup rakyat yang melawan!

Jakarta, 2 Mei 2019

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here