Dari Timika ke Jakarta: Kisah Buruh Freeport Membangun Kekuatan

0
5672
Freeport Workers Journey for 10 days from Timika to Jakarta. Photo: Freeport Worker
Freeport Workers Journey for 10 days from Timika to Jakarta. Photo: Freeport Worker

Sudah hampir 3 bulan sejak Eno Sutrisno meninggalkan Timika untuk mencari keadilan di Jakarta. Eno menempuh 10 hari perjalanan laut dan darat hingga tiba di Stasiun Senen, Jakarta pada 31 Juli 2018 bersama 68 buruh lainnya. Kedatangannya segera dijemput oleh Mukti dan Indra yang telah tiba di Jakarta sejak Januari 2018. Tidak hanya dari Timika, menyusul kemudian adalah buruh Freeport yang berasal dari seluruh penjuru Nusantara.

Eno dan 68 rekannya merupakan beberapa di antara korban pemecatan sepihak PT. Freeport Indonesia (PT. FI). Lebih dari 8.300 buruh dan kontraktor PT. FI (selanjutnya disebut ‘buruh Freeport’) terdampak oleh program ‘Furlough’ (merumahkan buruh) dan tuduhan mangkir kerja.

Akibatnya, tidak hanya kehilangan kepastian hidup dan nyawa 33 orang, para buruh Freeport juga tidak bisa mengakses layanan kesehatan BPJS dan rekening bank, hingga terusir dari rumahnya dan putusnya sekolah anak buruh.

Sebelum kedatangannya ke Jakarta, para buruh Freeport telah mengupayakan segala cara untuk mempertahankan haknya. Upaya ini dimulai dari permintaan berunding dengan perusahaan, pengaduan kepada Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker), bersurat ke sejumlah Menteri (termasuk Menteri Tenaga Kerja) dan anggota DPR, hingga mogok kerja. Namun, segala upaya tersebut belum menghasilkan keadilan bagi buruh yang kehilangan haknya.

Situasi yang dialami oleh buruh Freeport saat ini merupakan akumulasi dari rangkaian peristiwa terutama sejak 2011. Pada 15 September 2011 tepatnya, ribuan buruh Freeport didukung komunitas adat melakukan mogok setelah perundingan PKB pada Juli 2011 berujung pada deadlock. Perusahaan mengerahkan aparat polisi dan tentara untuk memukul dan menembaki peserta mogok. Peter Ayamiseba and Leo Wandagau menjadi korban yang ditembak mati.

Sepanjang 2011-2017, buruh Freeport secara terus menerus dihadapkan pada kondisi kerja yang tidak membaik. Tahun 2013-2014 misalnya, terjadi kecelakaan kerja akibat lingkungan kerja yang tidak aman, seperti kecelakaan alat berat dan rubuhnya terowongan tambang tempat pelatihan. Sementara itu, kesepakatan pada akhir tahun 2011 yang dihasilkan pasca pemogokan tidak dijalankan secara konsisten oleh perusahaan.

Puncak ketidakpuasan buruh Freeport diawali oleh dua peristiwa penting: dikeluarkannya program ‘Furlough’ dan kriminalisasi terhadap Ketua PUK SPKEP SPSI Sudiro. Kedua peristiwa itu terjadi sejak akhir 2016 hingga sepanjang 2017. Menyusul dua peristiwa itu adalah pemogokan yang semakin intens dilakukan para buruh sejak 9 April 2017 untuk memprotes ‘Furlough’ dan kriminalisasi Sudiro. Rangkaian peristiwa itu telah menyebabkan sekitar 8.300 buruh Freeport dipecat secara sepihak.

Baca juga: Laporan Lengkap Kasus Buruh Freeport “Diberangus dan Dikorbankan”

Cara Buruh Freeport Membangun Kekuatan                  

Dihadapkan pada ketidakpastian, Januari 2018 buruh Freeport bertemu di Timika dan bersepakat untuk berangkat ke Jakarta. “Tidak ada jalan lain. Kita harus ke Jakarta,” kenang Tasrik Umar, seorang buruh Freeport. Seluruh pekerja yang berkumpul pada hari itu mengambil inisiatif secara kolektif tanpa adanya arahan dari serikat. “Ini menyangkut kehidupan kami sebagai pekerja,” tambah Tasrik.

Inisiatif itu kemudian menghasilkan pembagian kerja. Para buruh Freeport membagi dirinya ke dalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan divisi kerja dan pembagian wilayah. Masing-masing kelompok kecil itu dikoordinasikan oleh satu orang petugas. Setiap kelompok kecil itu bertugas dalam membagikan informasi terkait perkembangan kasus, saling menjaga sesama anggota dan (salah satu yang terpenting) mengumpulkan iuran.

Pengelompokan berdasarkan pembagian wilayah menjadi penting. Beberapa di antara buruh yang mengalami pemecatan sepihak saat ini telah berada di kampung halamannya masing-masing: di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Meskipun keberadaan buruh Freeport saat ini tersebar di berbagai wilayah, namun koordinasi di antara mereka terus berjalan.

Tomi misalnya, buruh Freeport yang berasal dari Medan itu bergabung dalam satu kelompok buruh yang berasal dari Medan. “Kami bertukar informasi, saling memberi kabar dan perkembangan, terutama terkait apa yang terjadi di Jakarta.” Tomi bersama empat buruh asal Medan lainnya kemudian segera menyusul ke Jakarta setelah mendengar kabar ketibaan rombongan dari Timika.

Selain saling berbagi informasi, kelompok-kelompok kecil itu juga mengumpulkan iuran secara reguler. “Kami mengumpulkan iuran setiap dengan jumlah yang beragam semampu kami. Ada yang hanya menyumbang Rp. 1.000,” ujar Mukti. Iuran yang terkumpul merupakan hasil kerja buruh Freeport yang berusaha bertahan hidup dengan bekerja sebagai tukang ojek, kuli bangunan, kuli angkut di pasar, atau berdagang.

Dalam proses awal penggalangan dana iuran antara Januari-Juli 2017, setiap bulannya para buruh Freeport berhasil mengumpulkan iuran sekitar Rp. 5-10 juta. Iuran yang terkumpul di berbagai daerah kemudian dipusatkan ke Timika yang dikelola oleh seorang petugas yang ditunjuk oleh kolektif buruh Freeport. Iuran itu kemudian digunakan untuk memberangkatkan rombongan pertama buruh Freeport dari Timika ke Jakarta.

Tidak hanya dari iuran, buruh Freeport juga berusaha menggalang dana kepada publik. Usaha-usaha yang dilakukan ini seperti mengadakan bazaar, penampilan kesenian musik, konser peduli kasih, tari-tarian dan dana solidaritas. “Segala upaya kami lakukan atas dasar inisiatif dan solidaritas. Tidak ada sponsor yang mendanai perjuangan kami,” ungkap Tasrik.

Solidaritas Forum Korban Penggusuran Bekasi (FKPB) untuk buruh Freeport (21/9). Foto: FKPB
Solidaritas Buruh Otomotif AHM untuk buruh Freeport (21/9). Foto: AHM

Dari Timika ke Jakarta dan Dari Seluruh Penjuru Nusantara

Butuh waktu setidaknya enam (6) bulan bagi buruh Freeport di Timika untuk menyiapkan pemberangkatan ke Jakarta. Bermula dari kesepakatan di awal tahun 2018, Eno bersama 57 buruh lainnya berangkat dari pelabuhan Pomako di Timika pada 21 Juli 2018. Sejumlah 58 orang rombongan pertama itu dilepas di pelabuhan oleh beberapa rekannya yang lain, termasuk Tasrik.

Rombongan buruh Freeport dari Timika dalam perjalanannya ke Jakarta. Foto: buruh Freeport.
Rombongan buruh Freeport dari Timika dalam perjalanannya ke Jakarta. Foto: buruh Freeport.

Dari Timika, rombongan pertama singgah di beberapa tempat mengikuti rute kapal feri KM. Tatamailau. Setelah singgah pertama kali di Tual di Selatan Timika, perjalanan dilanjutkan ke arah Utara ke Kaimana, Papua Barat. Kapal kemudian singgah ke Fak Fak menjemput satu orang rekan lainnya. Rombongan bertambah menjadi 63 orang ketika kapal singgah di Sorong.

Dari Sorong, rombongan dari Timika pindah menggunakan KM Kerinci melanjutkan perjalanan  ke Sulawesi setelah menunggu selama dua hari. Dari Bau Bau, Sulawesi Tenggara, kapal singgah di Makassar. Di sana, rombongan bertambah sebanyak 3 orang buruh Freeport asal Sulawesi. Total 69 orang rombongan buruh Freeport kemudian tiba di Surabaya. Selang dua hari sejak tiba di Surabaya, rombongan akhirnya tiba di Jakarta dengan menggunakan kereta api pada 31 Juli 2018.

Gambar kapal feri KM Tatamailau. Foto: Google
Gambar kapal feri KM Tatamailau. Foto: Google

Informasi mengenai proses perjalanan rombongan dari Timika itu diketahui oleh para buruh Freeport dengan baik. Informasi yang ada dibagikan dan dipantau melalui kelompok-kelompok kecil dan juga melalui media sosial. Mengetahui rombongan dari Timika dalam perjalanan ke Jakarta, buruh Freeport yang telah meninggalkan Timika ke kampung halamannya kemudian berinisiatif untuk menyusul pergi ke Jakarta.

Mukti misalnya, buruh Freeport yang telah kembali ke Bandung itu segera berangkat ke Jakarta dari Bandung dan tiba pada 30 Juli 2018. Mukti dan beberapa buruh Freeport lainnya telah menanti kedatangan rombongan dari Timika tiba di Stasiun Senen pada 31 Juli 2018. Sejak Juli hingga hari ini, buruh Freeport yang berasal dari Medan, Palembang, Cirebon, Cilacap, Banyuwangi hingga Sulawesi terus berdatangan silih berganti. “Di LBH Jakarta sempat berkumpul hingga 200 buruh Freeport dari berbagai daerah,” ujar Tri.

Perputaran informasi seputar perkembangan kasus tampak tersebar dengan baik. Dalam pantuan linimasa Jurnal Serikat Nasional, konten-konten terkait kasus buruh Freeport yang dimuat mendapat jangkauan yang cukup luas (secara konsisten mencapai di atas 10 ribu jangkauan/ reach). Mayoritas konten terkait kasus banyak dibagikan dan populer di Papua. Hal ini menunjukan bagaimana koordinasi dan perputaran informasi berjalan selama proses perjuangan.

Jangkauan informasi seputar kasus buruh Freeport di Facebook (5/10). Foto: JSN (2018)
Jangkauan informasi seputar kasus buruh Freeport di Facebook (5/10). Foto: JSN (2018)

Syarat yang Dibutuhkan Buruh Membangun Kekuatan

Terdapat tiga pelajaran penting yang diberikan oleh buruh Freeport selama berjuang hingga hari ini: solidaritas, konsistensi dan militansi. Atas dasar pengalaman sebagai buruh yang ditindas dan dalam kesehariannya berhadapan pada aparat kekerasan di Papua, buruh Freeport berhasil menciptakan dan memperkuat identitasnya sebagai kelas buruh.

Perjuangan buruh Freeport dapat dikatakan berhasil dalam menghapus perbedaan identitas secara horizontal antar suku, ras, etnis dan agama yang selama ini menyekat sesama buruh. Pada saat pemogokan 19 Agustus 2017 di lokasi pertambangan misalnya, para buruh saling menjaga rekannya yang sedang beribadah mengikuti agamanya masing-masing. Ketika perusahaan merumahkan buruh yang sebagian besar merupakan pendatang, buruh Freeport asal Papua segera bersolidaritas dengan mengadakan pemogokan membela rekannya.

Sejumlah serikat buruh turut mendukung perjuangan buruh Freeport. Ketika media-media arus utama seperti Kompas cenderung memberitakan kasus buruh Freeport tanpa menghadirkan sudut pandang buruh itu sendiri, KPBI, FPBI, dan KSN (untuk menyebut beberapa di antaranya) ikut membantu mengangkat persoalan buruh Freeport.

Sejumlah serikat dan organisasi rakyat lainnya pun turut bersolidaritas, mulai dari memberikan donasi hingga menghadirkan fisiknya pada sejumlah aksi di Jakarta. Buruh Freeport itu sendiri juga mengirimkan pesan solidaritasnya untuk warga Tamansari, Bandung yang saat ini menghadapi penggusuran paksa

Baca juga: Melawan PHK Sepihak: Kekuatan Buruh adalah Solidaritas

Meski telah bertahun-tahun berusaha mengubah kondisi kerja yang buruk, buruh Freeport tetap konsisten memperjuangkan haknya. Para buruh tetap mempertahankan tuntutannya, yaitu dipekerjakan kembali dan menuntut penindakan hukum atas pelanggaran hukum yang dilakukan oleh perusahaan. Konsistensi juga dibuktikan dengan tetap solidnya buruh yang melakukan pemogokan sejak 2011 hingga saat ini di Jakarta.

Para buruh Freeport juga menunjukan militansinya yang luar biasa. Perjalanan dari Timika ke Jakarta tentu bukan hal yang mudah dengan dibutuhkannya kesabaran dan persiapan yang sungguh-sungguh. Setiap aksi yang dilakukan di Jakarta, mulai dari demonstrasi, panggung car free day, audiensi hingga persidangan dijalani oleh seluruh buruh Freeport yang saat ini berada di Jakarta.

Perjuangan buruh Freeport selama ini telah menghasilkan sejumlah kemenangan-kemenangan. Kemenangan yang pertama dan terutama adalah pelajaran berharga yang diberikan bagi kemajuan gerakan buruh di Indonesia. Selain itu, perjuangan buruh Freeport juga ikut memantik berbagai bentuk solidaritas dari berbagai kelompok.

Hingga saat ini, perkembangan kasus buruh Freeport telah mulai menemukan titik terang. Akhir bulan September lalu, atas tekanan-tekanan yang terus dilancarkan, Badan Kepengawasan Disnaker Provinsi Papua telah mengeluarkan laporan penanganan kasus yang diadukan buruh Freeport. Laporan itu menyebutkan bahwa program Furlough yang dikeluarkan perusahaan tidak dapat dibenarkan dan bahwa mogok kerja yang dilakukan pekerja sudah sesuai dengan UU Ketenagakerjaan.

Kemenangan-kemenangan yang secara perlahan mulai diraih ini perlu terus diperkuat. Daya tahan gerakan buruh dalam merawat solidaritas, konsistensi dan militansi diperlukan untuk menjaga nafas perlawanan. Kekuatan gerakan buruh akan membesar jika perlawanan-perlawanan terhadap pemodal yang tengah digencarkan saat ini dapat dirajut menjadi satu perjuangan bersama.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here