Nota Selisih Barang: dari Potongan Upah hingga Utang Buruh Alfamart

0
2396

Sejak berdiri pada 22 Februari 1989 oleh Djoko Susanto selaku owner, PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk (AMRT) bergerak dalam bidang distribusi eceran produk konsumen dengan mengoperasikan jaringan minimarket dengan nama “Alfamart”. Jaringan minimarket ini memiliki dua jenis kepemilikan, yakni minimarket 1) dengan kepemilikan langsung dan 2) berdasarkan perjanjian waralaba.

Pada akhir 2019, AMRT sudah mengoperasikan 14.310 gerai. Mengutip Direktur dan Sekretaris perusahaan Tomin Widian, AMRT berecana untuk “…menargetkan pembukaan 1000 gerai baru Alfamart dan berfokus di wilayah yang potensial, misalnya di wilayah pulau Jawa,” sehingga nantinya akan bertambah menjadi 15.310 gerai, seperti yang dilansir Bisnis.com.

Berdasarkan laporan keuangan per September 2019 seperti yang dikutip Tempo.co, Alfamart membukukan pendapatan Rp 54,11 triliun, meningkat 9,08 persen year on year dari sebelumnya, Rp 49,6 triliun. Adapun, laba bersih melonjak 94 persen yoy menuju Rp 650,23 miliar dari posisi per September 2018 senilai Rp 335,17 miliar.

Di balik semua kenaikan pendapatan dan rencana ekspansi di berbagai wilayah, baik dari gerai ke gerai bahkan cabang atau gudang baru, Alfamart memberlakukan sistem pemotongan upah terhadap kami, para pekerjanya, melalui sistem NBH (Nota Barang Hilang) yang sekarang berganti nama menjadi NSB (Nota Selisih Barang). Sejak 2004, NBH mulai diterapkan oleh pihak perusahaan atas dasar selisih yang dikalkulasi melalui proses hitung stock opname, yakni kegiatan perhitungan persediaan fisik (barang dagang) atau stok yang berada di dalam toko atau gudang.

Apa yang selama ini dilakukan Alfamart jika pada hasil akhir stock opname ditemukan adanya selisih perhitungan barang, atau tidak sesuai dengan batas toleransi kehilangan sebesar 0,02%? Alfamart melakukan pemotongan upah kami, sebagai pekerja, di tiap bulannya.

Jika yang dimaksud dengan “selisih barang” adalah perbedaan jumlah fisik barang dengan jumlah yang tercatat, lantas mengapa malah upah kami sebagai pekerja yang dipotong, hingga dapat berakumulasi menjadi tumpukan utang? Jika dari selisih barang tersebut Alfamart mengalami kerugian, mengapa pekerja yang menanggung beban kerugian tersebut?

Perusahaan berasumsi bahwa kelalaian pekerjalah yang menyebabkan kehilangan dan kerugian tersebut. Padahal, sampai saat ini pihak perusahaan belum dapat membuktikan apakah barang-barang tersebut hilang karena dicuri pekerja, atau merupakan kesalahan dari sistem perusahaan. Pemotongan upah ini dilakukan atas dasar bukti yang belum jelas.

Pemotongan upah ini juga diterapkan kepada semua pekerja; hutang ditanggung renteng oleh semua pekerja sama rata. Padahal, kelalaian yang dimaksud perusahaan belumlah tentu dilakukan oleh semua pekerja, yang setiap harinya bersentuhan langsung dengan semua jenis barang-barang yang akan di kirim ke gerai atau toko-toko Alfamart.

Sejak 2004, semua kerugian perusahaan ini ditanggung oleh karyawan hingga menjadi beban hutang. Lebih ironisnya lagi, semenjak sistem NBH (Nota Barang Hilang) berganti menjadi NSB (Nota Selisih Barang), mekanisme pemotongan upah kami pun bertambah besar, menjadi 10%. Upah kami sebagai pekerja mau tidak mau akan dikenakan pemotongan sebesar 10%; inilah yang selama ini sudah terjadi kepada saya dan teman-teman semua, tepatnya mulai dari Februari sampai sekarang. Secara data, hal tersebut tercantum di payroll.

Praktik pemotongan upah seperti yang dilakukan Alfamart ini adalah kejahatan kemanusiaan. Jika memang benar dan terbukti bahwa kelalaian pekerjalah yang menyebabkan hilangnya jumlah barang, seharusnya perusahaan juga dapat mengambil alternatif seperti memberikan pelatihan-pelatihan kepada pekerja. Dari melakukan hal itu, proses kerja bisa dibuat menjadi lebih baik lagi.

Alfamart telah menyuplai kebutuhan-kebutuhan masyarakat secara berkesinambungan sejak berdiri pada 1989 silam. Namun, melakukan pelanggaran ketenagakerjaan dan praktik yang merugikan pekerjanya bukanlah hal baru bagi Alfamart.

Melihat latar belakang sistem NSB dan pemotongan upah sebanyak 10%, harus juga diingat bahwa performance masing-masing cabang dan gerai (toko) berkaitan dengan personil, alat sarana, dan kapasitas tempat. Selama ini, personil yang dipekerjakan oleh Alfamart adalah masih berada di bawah status kontrak dan harian lepas. Padahal dilihat dari jenis pekerjaannya, Alfamart seharusnya tidak mempekerjakan karyawannya secara lepas. Alfamart menyalahi aturan keteganakerjaan yang ada di Indonesia.

Ketahuilah bahwa PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk bisa menjadi besar sampai saat ini, bisa memberikan donasi-donasi ke masyarakat luas, bisa membantu korban bencana alam tidaklah luput dari hasil keringat para pekerjanya. Sayangnya, sampai saat ini karyawan masih harus menerima sistem pemotongan upah 10% dengan kedok NSB.

Kami sebagai pekerja PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk menuntut untuk hapuskan sistem NSB, karena kami tidak merasa menghilangkan barang-barang. Kembalikan uang karyawan yang telah dipotong oleh perusahaan. Stop kerja kontrak, stop mutasi berbau intimidasi, stop PHK sepihak dan berlakukan upah sektoral.

 

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here