Curhatan Pekerja Ojol di tengah Wabah Covid-19

0
166
Pekerja Ojol tengah menunggu pesanan masuk. Covid-19 telah mempengaruhi pendapatan pekerja. Foto: Alhamdani Rasyid
Pekerja Ojol tengah menunggu pesanan masuk. Covid-19 telah mempengaruhi pendapatan pekerja. Foto: Alhamdani Rasyid

Pandemi Corona menyingkap semua hal mengenai sistem kerja yang berantakan, lemahnya perlindungan terhadap pekerja, hingga mana pekerjaan yang berguna bagi masyarakat dan pekerjaan yang hanya untuk gengsi kekuasaan yang tak jelas apa gunanya.

Pekerjaan Ojek Online (Ojol) hanya diakui sebagai mitra tanpa terikat perjanjian sah di mata hukum. Dampaknya, tidak adanya payung hukum yang melindungi hak-hak pekerja Ojol serta kejelasan status hukum pekerjaan tersebut. Sementara itu, pemilik aplikasi dapat dengan mudah lari dari tanggung jawab.

Sami pekerja Ojol yang biasa menunggu penumpang di daerah PGC Jakarta timur, menceritakan, tidak adanya kejelasan pekerjaan pekerja Ojol di mata hukum, membuat pemilik aplikasi dengan gampang lepas tanggung jawab tanpa memikirkan nasib pekerja yang hanya sebatas mitra

“Pemilik aplikasi seakan lari dari tanggung jawab. Pemilik aplikasi memang membantu pekerja yang positif corona. Tapi bantuan itu tak seberapa,” kata Sami.

Sami juga ikut mempertimbangkan nasib pekerja lain yang terdampak oleh virus Covid-19. “Padahal kita semua rentan terkena dan mayoritas para pekerja adalah tulang punggung keluarga.”

Lebih lanjut Sami menjelaskan “pemilik aplikasi menaikkan tarif tetapi potongan komisi tetap 20%. Itu jelas tidak efektif, karena mau berapapun naik tarifnya, potongannya tetap tak berubah.”

Sami menuntut adanya pengurangan potongan komisi dari 20% menjadi 10%. “Pemilik aplikasi jangan hanya memikirkan keuntungannya saja tanpa mempedulikan kondisi pekerja yang sangat sulit akibat Covid-19 ini”

Sami juga menambahkan “Dalam aplikasi Gojek ada yang namanya bisa ngasih tip ke pekerja sampai 100 ribu. Biasanya paling besar ngasih tip lewat aplikasi hanya 25 ribu. Seakan-akan pemilik aplikasi lari dari tanggung jawabnya dan mengemis ke customernya untuk memberi tip untuk mitranya,” tambah Sami

Dampak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)

Sementara itu, penerapan PSBB yang membatasi aktivitas publik menambah masalah baru bagi pekerja Ojol. Hal ini lantaran PSBB melarang pekerja transportasi mengangkut penumpang sehingga mengurangi pendapatan pekerja Ojol.

Sami biasanya memprioritaskan pesanan mengantar penumpang, dan mengesampingkan pesanan pengantaran makanan atau barang. Dalam situasi wabah Covid-19, pemilik aplikasi tidak menyesuaikan sistem pesanan untuk menjaga pendapatan para pekerja Ojol.

Menurutnya, “Sistem kantor pusat akan terus mengatur order pengantaran penumpang bagi pekerja yang biasanya mengantar penumpang. Sebaliknya, pesanan pengantaran makanan akan diberi order makanan terus.”

Sami juga menambahkan, mayoritas rekannya dalam satu kumpulan lebih memprioritaskan pesanan pengantaran penumpang. “Kebijakan PSBB ini mempengaruhi pendapatan pekerja yang biasa membawa penumpang, karena hanya mendapat sisaan order 1 atau 2 dari pekerja Ojol yang biasa mengantar barang atau makanan.”

“Sistem kantor pusat harus lebih merata dalam membagikan orderan karena ada pekerja yang dapat order yang cukup dan ada yang gak dapat sama sekali,” sambungnya.

Meski demikian, PSBB menambah beban bagi pekerja mendapatkan penghasilan dan kesulitan lain dalam order makanan.

“Ini titik terendah dan benar-benar parah. Poin tidak nutup dan harus modal dulu untuk membelikan makanan kemudian diganti oleh pelanggan. Sedangkan penghasilan itu kan dari penumpang. Belum lagi ditambah resiko lebih besar dalam mengantar makanan atau barang yang jika terjadi apa-apa dibebankan ke pekerja” tutur Sami.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here