Kehidupanku Menjadi Buruh Migran (Tak Berdokumen) di Malaysia

0
361

Pada tahun 2000, aku bekerja di pabrik pengolahan kayu (sawmill) PT. Semarak, Bintulu, Sarawak, Malaysia. Pertama aku masuk, aku bekerja di bagian mesin proskat. Mesin proskat ini adalah mesin pemotong kayu. Kerjaku memotong kayu yang sudah setengah jadi dari mesin bandsaw, untuk dijadikan kayu jadi yang siap disusun dan dikemas.

Aku bekerja 12 jam, masuk jam 6 pagi dan pulang jam 6 petang. Kadang-kadang aku bekerja sampai jam 10 malam karena barang yang dipesan harus segera dikirim.

Disitu, aku baru kerja beberapa minggu. Aku tidak kenal siapa siapa kecuali Mali dan Dodo. Mereka berdualah yang mengajakku dan menyelamatkanku dari kejaran Polis Diraja Malaysia (Kepolisian Kerajaan Malaysia). Pertama kerja, aku dibayar per hari sebanyak 6 ringgit 70 sen, dengan jam kerja yang panjang dan harus menanggung resiko yang sangat besar.

Tidak sedikit orang yang meninggal dan cacat akibat kecelakaan kerja di tempat kerja ini. Sering kali aku melihat pekerja terpotong tangannya dan tertimpa balokan kayu, tertabrak forklift.

Belum lagi ketika mereka menerima perlakuan yang tidak manusiawi dari atasan mereka. Dari situlah aku tidak pernah bertegur sapa dengan buruh yang lain. Aku hanya diam dan mengamati saja, karena aku belum begitu paham tentang lingkungan kerja disini. Kadang aku emosi sendiri melihat perlakuan, sikap, makian yang dilontarkan atasan ke pekerjanya, dan aku sempat berpikir kenapa mereka tidak pernah melawan.

***

Hari, bulan, tahun akhirnya kulewati disini. Sekarang aku paham dan mengerti kenapa mereka tidak melawan waktu itu, yakni karena mereka sama denganku: buruh yang tidak punya identitas atau bisa disebut pekerja tanpa dokumen (migran gelap).

Dari satu tahun pertama disini, aku sudah banyak berkenalan dengan orang dari geng Bugis, Jawa, Lampung, Nusa Tenggara, Sambas, Pontianak dan berbagai suku lainnya dari Indonesia. Dari setiap hari bertemu, sering ngobrol dan nongkrong bareng dengan Om Domi yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, dari situlah aku banyak berkawan dengan orang.

Aku juga diperkenalkan kepada satu orang yang bisa disebut berpengaruh (lurah) di geng Jawa. Namanya Suraji, asal Nganjuk, Jawa Timur.

Suraji punya kelompok yang bernama Ganja, singkatan dari Gabungan Anak Rantau Jawa. Kelompok ini rata-rata didominasi orang Jawa Timur. Kalau yang berasal dari Jawa Tengah, biasanya orang Kendal dan Pekalongan. Tidak lama kemudian aku disuruh pindah mess oleh Suraji dan disuruh bekerja di bagian ikat lais.

Di bagian ikat lais, pertama-tama kerjaanya menunggu kayu kupasan atau kulit kayu yang dipotong dari mesin bandsaw. Ketika kulit kayu sudah cukup banyak, langsung diikat dengan lais (rope sling). Buruh kemudian memanggil forklift untuk mengangkatnya, dan kupasan kayu atau kayu yang sudah diikat itu akan dibawa ke tempat penghancuran. Sebagian dijual, sebagian lagi dibakar untuk tenaga listrik. Yang dijual biasanya disetorkan ke tempat pabrik arang; kayu itu akan dihancurkan dan dicetak menjadi arang.

Aku sempat heran kenapa Suraji bisa semudah itu meminta dan mengambilku dari bagian proskat ke ikat lais. Seserang yang bernama Andrian, kepala pabrik di PT. Semarak itu, kelihatan takut dengan dia.

Ternyata setelah aku mencari informasi dan tanya sana-sini, selain menjadi kepala kelompok disitu, Suraji juga adalah tauchu atau tukang di salah satu mesin bandsaw. Kebayang, sih, kalau Suraji dan kelompoknya mogok kerja.

Bandsaw adalah bagian kerja yang menjadi ujung tombak dari pembuatan kayu atau produksi yang paling diutamakan di pabrik sawmill ini, karena tidak semua buruh bisa menjalankan mesin bandsaw. Butuh kekompakan, keahlian cara gendong kayu, dan cara pasang-lepas gergaji yang panjangnya 4 meter. Butuh tahu cara membentuk kayu, mengambil kayu, memilih mana yang bagus dan membuatnya menjadi ukuran yang sudah dipesan.

Satu tim bandsaw berjumlah 4 orang, yaitu:

  1. Tauchu/ tukang (10 RM per ton/kubik): orang yang mengetahui cara mengambil kayu, bertanggung jawab penuh dengan semua produksi yang dibuatnya dan timnya.
  2. Tarik (8 RM per ton/kubik): bertanggung jawab menarik dan menggendong kayu, memutuskan kayu itu sudah jadi atau tidak, buruk atau tidak. Kalau buruk, kembalikan ke tukang agar tukang membuat ukuran yang lain. Tarik juga bertanggung jawab memilih dan mengambil gergaji yang bagus untuk digunakan. Kalau gergajinya jelek, bisa-bisa nyawa tim yang jadi taruhannya. Masalahnya, gergaji bisa putus kapan saja. Tarik dan tukang harus bisa pasang telinga mendengarkan tanda-tanda gergaji yang rusak, karena bagus-tidaknya gergaji itu terdengar sangat jelas.
  3. Tolak (6 RM per ton/kubik): bertugas menggendong kayu bergantian dengan tukang. Biasanya lebih banyak tolak yang menggendong kayu daripada tukang, karena tukang juga bertugas memikirkan ukuran kayu dan cara untuk mengambil kayu. Tolak juga bertanggung jawab melepas gergaji dan mengembalikannya ke tempat pengasahan gergaji. Harus diingat, melepas gergaji yang sepanjang itu tidaklah mudah; kita harus punya skill-nya, tidak asal lepas. Kalau tidak tahu caranya, bisa-bisa tanganmu yang sobek terkena mata gergaji.
  4. Susun (6 RM per ton/kubik): bertugas menyusun kayu yang sudah jadi. Tarik memberi kayu ke susun. Susun bertanggung jawab menyusun kayu sampai rapi, karena kalau gak rapi bisa roboh dan menimpa dirinya sendiri. Tarik juga harus tahu mana kayu jadi, mana kayu yang belum jadi. Selain itu, dia juga bertanggung jawab ketika solar habis—solar harus penuh.

Per bulan, pendapatan kami tidak tetap. Kadang kami cuma menghasilkan 50 ton yang berisi kayu buruk. Kalau kayu yang kami potong bagus, kami bisa mendapat 100 lebih. Kalau kayu sedang, kami bisa dapat 70 sampai 80 ton per bulan.

Dari semua yang aku jelaskan di atas, jelaslah mengapa tidak semua buruh yang baru masuk sawmill bisa ikut bandsaw. Karena itu jugalah orang yang bisa susun, tolak, tarik sangat dicari kala itu. Apa lagi tauchu/tukang, yang akan pegang mesin sendiri. Maka dari itu, pabrik tidak akan berani macam-macam kalau si buruh mogok kerja.

Pengupahan di bandsaw menggunakan sistem borongan (piece-rate), cara menghitungnya adalah berdasarkan satuan ton/kubik. Kalau laju kerja tidak baik, dan si tukang tidak pandai membuat kayu, kita akan tertinggal dengan mesin yang lain. Pendapatan kita juga akan berkurang. Maka dari itu, kerja sama tim sangatlah penting. Kerja harus fokus, tidak boleh melamun, karena bisa mencelakai tim dan diri sendiri.

***

Dari tahun 2000 sampai 2002, dari proskat jadi ikat lais, dari susun naik ke tolak, dan naik lagi ke tarik, hingga sekarang jadi buruh bandsaw, aku semakin mengenal semua yang ada di sekitarku. Banyak kejadian yang sudah aku alami, dari setiap malam tidur di hutan sampai berpindah-pindah kerja karena Polis Diraja Malaysia.

Polis Diraja kadang menggrebek pabrik malam hari. Biasanya, sebelum digrebek, kita sudah dapat tembusan dari tokai (bos/ pemilik pabrik) untuk pergi dari pabrik agar bisa berlindung sementara.

Setiap tanggal 31 Agustus, hari kemerdekaan negara Malaysia, kepolisian dimana-mana melakukan operasi pembersihan buruh-buruh migran yang tidak punya paspor. Kalau di Indonesia ada operasi razia kendaraan bermotor, disini operasi razia orang. Makanya, sebagian dari kami keluar dari Malaysia untuk berlindung; sebagian lagi pergi ke hutan.

Banyak sekali kejadian kejadian kekerasan yang aku alami selama menjadi buruh migran di sawmill. Dari menjadi saksi konflik antar suku, ditusuk orang di bagian perut di hari Natal hingga masuk rumah sakit, tertangkap polisi ketika razia sampai ditahan di penjara selama tiga bulan, lalu dibuang di perbatasan (di subdistrik Entikong).

Saya juga melihat sendiri perdagangan manusia di perbatasan, melihat perempuan takut dengan orang ketika ia turun dari mobil—entah siksaan apa yang dia terima ketika disana sampai takut melihat orang—dan dari kejadian-kejadian itu semualah aku banyak ditolong oleh kawan kawan yang dulu tergabung di Ganja.

Salah satunya Suraji, yang membawaku ke rumah sakit ketika aku ditusuk orang dari belakang, dan kawan-kawan yang lain mengumpulkan iuran untuk menyewa agen yang bisa menjemputku di perbatasan.

Setelah aku dijemput oleh agen, aku ditemui Suraji, Tarom, Kamsari, Marsono, dan Bapak Ucok di Sibu. Saat itu, Suraji dan Bapak Ucok sekalian ingin berpamitan mau pergi ke Afrika. Kami berempat mengantar Suraji sampai Kuala Lumpur City Centre (KLCC) dan lewat agen itulah kami bisa masuk ke Malaysia Barat tanpa paspor dan mengantar Suraji sampai ke depan bandara.

Akhirnya pada 2004, aku dan Kang Suraji berpisah. Setelah perginya Suraji, kami pun berpencar. Aku, Tarom, Tamsari, Marsono dan kawan-kawan lainnya dari Kendal pergi ke Kuala Tatau, sebuah desa di Sarawak. Sedangkan kawan-kawan Jatim ada yang pergi ke Miri, ada juga yang pergi ke Kucing atau keluar dari Sarawak karena ingin membuat paspor.

Kerjaanku tidak pernah bertahan lama karena statusku yang tanpa identitas dan dalam pelarian. Meski begitu, tidak susah mencari kerja disana. Aku bahkan sering ditawari kerjaan oleh mandor-mandor Bugis, karena aku punya skill sapsai (tarik, tolak, dan susun kayu).

Saking mudahnya mencari kerja di sawmill, bukan orang lagi yang cari kerja, tapi kerjaan yang cari orang. Memang, waktu itu sangat sedikit orang yang bisa bandsaw. Terkadang aku, Tarom dan Kamsari mengambil kerjaan yang bayarannya uang tunai.

Dari pabrik satu ke pabrik yang lain dari daerah Bintulu, Kuala Tatau, Sibu, Miri, Kucing, Sungai Sap, keluar-masuk Malaysia dari Sambas, Rasau Jaya, Siantang, sampai akhirnya aku ke Badau, kami dari kelompok Ganja terpecah lagi. Di saat itu, Tarom dan Kamsari ingin pulang ke Jawa, kangen dengan keluarga, ingin membuat paspor, dan kemudian pergi ke Selangor. Sedangkan Tarom ingin pergi ke Putra Jaya di Malaysia barat.

Akhirnya yang tersisa tinggal aku, Rian, Marsono, kawan-kawan Bugis dan NTT.

Setelah Tarom dan Kamsari pergi untuk jumpa keluarga, giliran Rian dan Marsono yang pergi ke Bintulu, ke PT. Moulin, pabrik sawmill lainnya. Tinggal aku sendiri disini yang berasal dari suku Jawa.

***

Kenapa aku masih bertahan di Badau, Sarawak? Karena di Badau ini aku bertemu dengan seorang perempuan Dayak, Kalimantan, namanya Maylina. Aku sudah memiliki hubungan dengannya, dan kita berdua bersepakat untuk menikah dan pulang ke Tenggarong, meminta izin dan restu dari kedua orang tua Maylina.

Aku kerja di sawmill dan Maylina kerja di plywood. Aku pertama kali melihatnya di kantin, karena tempat kerja kami bersebelahan. Suatu hari aku mengajaknya berkenalan—ada satu kesempatan ketika saya pulang cepat karena kayu sudah habis dan belum dikirim. Saya dan teman-teman ketika itu sedang nongkrong di kantin.

“Hai kak long[1], boleh tau namanya siapa?” kataku.

Dia jawab sambil tersenyum. “Boleh,” katanya.

Setelah jadian dan saling curhat, saya akhirnya tahu ternyata May itu juga selalu memperhatikan saya sebelum berkenalan. Dia juga tahu kalau saya memperhatikan dia.

Pada 2005, setelah mengumpulkan uang, aku masih ingat betul bulan Desember itu kita berencana pulang ke Indonesia. Kita sempat bingung ketika mau pulang, karena aku buruh tanpa dokumen sedangkan Maylina punya dokumen. Tapi May ingin pulang bersama, gak mau pulang sendiri-sendiri. Terpaksa aku pergi ke Bintulu, May juga aku ajak kesana. Aku temui Marsono dan Rian di PT. Moulin untuk mencarikan agen saat itu juga.

Setelah minta bantuan mereka, aku dan May istirahat di mess Rian. Dua hari kemudian Rian mengabari bahwa agen akan datang besok, namanya Gepeng dari Jogja dan kami harus siap-siap.

Keesokannya Gepeng pun datang dan mengajak kami pergi ke perbatasan. Sebelum kami pergi, banyak yang kasih kami uang, rokok dan makanan untuk perbekalan di jalan, karena dari Bintulu ke perbatasan lumayan jauh. Kami dari Bintulu menuju ke Sibu naik bus, pemberangkatan malam.

Sesampainya di Sibu, kami berpindah lagi naik mobil kecil. Lalu, kami diturunkan entah dimana karena tidak ada yang bisa aku baca—tulisan pun tidak ada, disitu sepi dan kanan-kiri hutan semua. Setelah kami turun dari mobil itu, sudah ada truk kontainer biru yang menunggu kami.

Agen pun menyuruh kami lari cepat-cepat masuk ke dalam truk kontainer biru itu. Di samping kontainer, kami mendengar ada suara anak kecil menangis. Astaga, ketika pintu samping di buka, ternyata di dalam sudah ada 25 sampai 30 orang yang berhimpit-himpitan di dalam. Tua, muda, anak kecil, ada semua di dalam.

Ya Tuhan… ngenes banget tuh anak, harus merasakan panas dan sesaknya suasana di dalam kontainer. Setelah kami masuk dan pintu ditutup, betapa panas dan sesaknya! Pantas saja anak-anak pada menangis. Aku berpikir dalam hati, ini anak mati gak masuk disini? Cuma ada lubang-lubang kecil untuk udara masuk.

***

Kurang lebih satu jam perjalanan, truk kontainer pun berhenti. Ada suara-suara yang ingin mengecek container. Tidak beberapa lama pintu kontainer dibuka.

Untungnya, kontainer ini memuat gula di belakang dan hampir setengah ke depan isinya manusia. Saat itu mulut anak-anak dibungkam dengan tangan orang tua masing-masing, supaya tidak ada suara dan kita tidak ketahuan oleh petugas perbatasan.

Setelah sudah selesai dicek dan menurut mereka tidak ada keganjalan, pintu ditutup kembali. Mobil mulai jalan lagi. Setelah melewati perbatasan dan aman, mobil berhenti.

Kami semua turun dari truk kontainer gula itu. Entah kenapa, aku merasakan sensasi yang sangat bahagia. Rasa-rasanya baru terbebas dari kekangan yang bertahun-tahun membelenggu diriku.

Astaga, gini rasanya orang bebas, luar biasa senangnya! Hal konyol pun aku lakukan di keramaian orang, aku berteriak sekencang-kencangnya: “BEBAAAAAAAAAAAAAAS! AKU BEBAS!”

Semua orang dalam rombonganku pun saling berpelukan dan menangis saking bahagianya. Mereka lebih lama dariku di Malaysia sebagai buruh tanpa dokumen, dan selalu was-was setiap hari di tempat kerjanya.

Setelah selesai dengan mereka, saya dan May menuju ke rumah May yang ada di Tenggarong. Tepatnya di Batu 5. Menuju ke Tenggarong, kami naik speed boat dari Pontianak selama 8 jam. Akhirnya, setelah melakukan perjalanan selama tiga hari, sampailah kami di rumah May.

Kedua orang tua May sangat bahagia melihat anak perempuannya pulang. Aku pun disambut dengan baik, dan kami berkenalan dan saling berbicara panjang lebar.

Aku pun diajak makan dengan keluarga May. Setelah itu aku disuruh istirahat di kamar, karena sangatlah lelah di perjalanan.

Keesokan harinya aku bilang sama May, karena aku sudah tidak sabar lagi untuk membawa May pulang ke Jawa. Setelah May bilang kepada kedua orang tuanya, kami semua berkumpul. Tanpa basa-basi, aku langsung bilang kepada orang tua May bahwa aku ingin menikah dengan anak perempuannya. Akan aku bawa juga dia ke Jawa untuk berkenalan kepada orang tuaku.

Tapi tak disangka, orang tua May tidak memperbolehkan aku membawa May ke Jawa. “Kalau mas mau menikah, nikah aja disini dan hidup disini, jangan pulang,” kata mereka. “Kalau emang mas bener-bener ingin menikah dengan May.”

Secara tegas aku bilang tidak bisa, karena aku sudah lama tidak bertemu dengan orang tua. “Kan saya dan May sudah bersepakat untuk hidup di Jawa. Kalau mau nikahnya disini juga tak apa-apa,” balasku.

Tapi tetap, orang tua May bersikeras tidak memperbolehkan aku membawa May ke Jawa dan nikah disini. Apa boleh buat, dengan berat hati dan penuh rasa kecewa aku pun langsung berdiri dan bergegas pamit. Aku marah dan tak berpikir panjang. Tidak beberapa lama, aku membereskan barang-barangku dan berpamitan secara baik-baik dengan keluarga May dan Maylina sendiri.

Aku melihat May pun menangis sambil menunduk. Dia tidak bisa melakukan apa-apa dan merasa bersalah. Setelah berpamitan, tidak lama May menyusulku dan ingin mengantarku untuk terakhir kali.

Kami menunggu speed boat cukup lama, dan menuju Pontianak. Sesampainya di Pontianak, aku pun melihat jadwal kapal. Ternyata jadwal kapal ke Semarang baru besok.

Aku pun menyuruh May pulang ke Tenggarong lagi. ”Sudah cukup sampai sini saja ya May nganterin aku, ternyata kita belum berjodoh,” kataku. “Kau pulanglah, jalani hidupmu seperti biasa. Aku juga akan pulang ke Jawa berjumpa dengan keluargaku. Kalau kita masih ada jodoh, kita akan berjumpa lagi suatu hari nanti.”

Dia menangis sambil memelukku. Kita berpisah di dermaga Pontianak. Setelah kita mengucapkan salam perpisahan, dia pulang ke Batu 5. Disitulah terakhir kali aku melihat Maylina, perawan Kalimantan yang hampir aku nikahi.

***

Apakah hidupku berakhir? Tentu saja tidak. Aku masih menunggu kapal satu hari satu malam di Pontianak, sembari di dalam hati penuh dengan rasa kecewa. Namun tetap aku harus pulang, karena aku ingin tau juga kondisi keluargaku yang hampir 7 tahun tak jumpa. Selama aku pergi, aku juga tidak pernah berkomunikasi dengan keluarga. Bahkan kepulanganku ini pun keluargaku tidak ada yang tahu.

Keesokan harinya, kurang lebih jam 5 sore, kapal pun tiba. Aku siap-siap untuk pulang ke Semarang. Dan akhirnya setelah semua yang aku lalui di berbagai kota dan daerah, berjumpa dengan banyak orang, suku, agama, ras, mengalami kejadian-kejadian yang aku lalui hingga hampir mati pula, lucu juga hidup ini…

Aku tersenyum sendiri di atas dek kapal sambil memandang lautan. Oh, Tuhan, ternyata aku masih bisa pulang juga ke Semarang, berjumpa dengan keluargaku. Sambil tersenyum lebar.

 

Penulis: Rudi Haryanto (DPK KSN Kota Bandung)

Editor: Astika dan Dicky Dwi Ananta

[1] Panggilan dalam bahasa Melayu untuk kakak pertama.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here