Rabu kemarin (19/11), ribuan buruh di Tangerang yang berasal dari berbagai serikat buruh dan organisasi massa melakukan aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM. Organisasi-organisasi itu diantaranya FSBKU-KSN, KSPSI, SBSI 1992, GASPERMINDO, SPN, SBM, KPO-PRP, GSBI, SBSI, SBJP, PRP, dan serikat-serikat tingkat pabrik. Sekitar jam 09.00 pagi WIB, ribuan buruh tersebut bergerak serentak dari beberapa titik konsentrasi massa menuju kantor pemerintahan Kabupaten Tangerang, yaitu dari kawasan Cikupa, Pasar Kemis, Balaraja, Bitung dan Legok.

Dalam orasinya, Koswara menjelaskan bahwa keputusan Jokowi-JK menaikkan harga BBM hanya akan menyengsarakan buruh, petani, nelayan, pedagang kecil dan rakyat miskin. Ia menambahkan bahwa Jokowi-JK lebih memilih tunduk pada paket kebijakan Bank Dunia dan perjanjian IMF-Indonesia yang menginginkan agar pemerintah Indonesia mencabut seluruh subsidi. Dengan pencabutan subsidi tersebut, seluruh harga produk di Indonesia akan sesuai dengan harga pasar di dunia.

“Kenaikan harga BBM tentu akan menyengsarakan rakyat banyak yang berpenghasilan rendah. Di dalamnya adalah kaum buruh, tani, nelayan, pedagang kaki lima dan kaum miskin. Di tengah penghasilan yang rendah, kini harus dihadapkan dengan kenaikan harga BBM yang bisa memicu naiknya harga-harga komoditas lainnya,” kata Koswara, Ketua umum FSBKU-KSN yang juga menjadi koordinator aksi.

“Jokowi-JK lebih memilih tunduk pada perjanjian Indonesia dengan Wold Bank dan IMF yang dibuat pemerintah sebelumnya untuk melakukan pencabutan subsidi dibanding dengan janjinya yang akan mendengarkan suara rakyat,” tambah Koswara.

Selain itu, orator lainnya, Azis menuturkan bahwa sudah saatnya buruh, petani, nelayan dan rakyat miskin membangun partainya sendiri untuk memperjuangkan aspirasinya di parlemen. Ia menganggap bahwa partai-partai yang ada saat ini adalah bukan partainya rakyat.

“Kita selama ini ditipu oleh politisi-politisi partai. Semua partai yang ikut Pemilu kemarin adalah partai penipu. Mengaku pro-rakyat, namun di saat rakyat susah malah pro-pejabat yang nyusahin rakyat. Sudah saatnya kita tidak memberikan suara kita pada partai tersebut. Tapi kita harus bangun partai sendiri untuk memperjuangkan suara kita di parlemen,” jelas Azis, orator dari KSPSI.

Dalam aksi unjuk rasa penolakan kenaikan harga BBM tersebut, juga ada para supir angkot Balaraja – Tiga Raksa – Citra Raya serta para tukang ojek di Tiga Raksa yang tergabung dalam Organda. Dalam tuntutannya, mereka menolak kenaikan harga BBM dan meminta diturunkannya kembali harga BBM.

“Para supir dan tukang ojek dari wilayah Tiga Raksa melakukan unjuk rasa bukan menuntut kenaikan tarif, karena itu akan memberatkan rakyat banyak. Maka kami meminta pemerintah menurunkan kembali harga BBM,” ujar Brandi kepada kami via telpon. (Martani)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here