Apakah upah naik ataukah hanya penyesuaian.

0
148

Makassar, Kenaikan upah kerap kali menjadi bahan kritik bagi para aktivis buruh ataupun masyarakat itu sendiri. Setiap tahun pemerintah selalu menaikkan upah bagi kaum buruh atau pekerja. Namun yang menjadi pertanyaan. Mengapa setiap gaji buruh atau pekerja dinaikkan, secara bertahap harga barang di Pasar juga ikut melonjak naik?Apakah ini pantas disebut kenaikan upah?ataukah hanya sebuah penyesuaian harga barang yang ada di pasaran?.

Seperti contoh yang ada di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pada tahun 2017 upah bagi kaum buruh yang ada di Makassar itu naik 8,71% yaitu berkisar Rp. 2.505.500 dari 2.313.625. Pada tahun 2018 upah naik 9% yaitu Rp.2.647.767. Pada tahun 2019 upah kembali naik yaitu 8,3% atau sebesar Rp.2.722.631.

Ini memang menjadi kabar baik bagi kaum buruh atau pekerja. Namun, dibalik naiknya upah buruh setiap tahun, pemerintah juga mengakalinya dengan menaikkan harga barang yang ada di pasar-pasar tradisional secara bertahap. Setelah menaikkan upah buruh, tak menunggu lama harga-harga barang yang ada di pasaran juga mulai naik satu-persatu.

Hal ini membuktikan bahwa, upah bagi kaum buruh yang dinaikkan setiap tahun itu tidak boleh disebut kenaikan upah atau gaji. Melainkan penyesuaian upah atau gaji dengan barang yang ada dipasaran.

BAGIKAN
Berita sebelumyaPengurangan Waktu Kerja: Relevankah Tuntutan Upah?
Nama saya Ainun Muhammad Abdullah, saya berkuliah di salah satu kampus negeri yang ada di sulawesi selatan yaitu UIN Alauddin makassar, jurusan jurnalistik. Saya juga bergabung di DPP Federasi Perjuangan Buruh Nasional (FPBN) sebagai kesecretariatan.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here