Apa yang Terjadi Ketika Swedia Mencoba Menerapkan Sistem 6 Jam Kerja Sehari?

0
546
manfaat 6 jam kerja
Poster tuntutan pengurangan jam kerja saat aksi May Day 2017. Sumber: Google

Swedia telah bereksperimen dengan sistem kerja enam jam sehari. Walaupun bekerja selama enam jam, para pekerja tetap digaji penuh. Namun, saat ini percobaan sistem kerja 6 jam yang telah berjalan selama dua tahun tersebut telah berakhir – apakah sistem ini terlalu bagus untuk menjadi kenyataan?

Emilie Telander (26) seorang asisten perawat bergembira setelah bertugas sehari mengurus pasien lansia di rumah  perawatan  lansia Svartedalen di Gothenburg. Ia berhasil mengalahkan enam orang dalam permainan Ludo.

Namun senyumnya memudar ketika Ia menceritakan bahwa keberuntungannya habis pada akhir tahun. Jam kerja yang sebelumnya hanya 6 jam dihapuskan. Emilie akan kembali bekerja selama delapan jam sehari.

“Saya merasa lebih lelah dari sebelumnya,” ujar Emilie. Dia merefleksikan, meratapi kenyataan bahwa sekarang dia memiliki lebih sedikit waktu di rumah untuk memasak atau membaca bersama anak perempuannya yang berusia empat tahun.

“Selama masa eksperimen (percobaan) semua staf terlibat lebih bersemangat. Saya bisa melihat bahwa semua orang bahagia.”

Emilie merupakan satu dari sekitar 70 asisten perawat yang terlibat dalam eksperimen ‘6 jam kerja’. Percobaan pengurangan jam kerja di Swedia itu melibatkan berbagai pengusaha, mulai dari rumah tangga hingga rumah jompo.

Meningkatkan Produktivitas

Dirancang untuk mengukur kesejahteraan di sektor yang kesulitan untuk mendapatkan staf yang cukup untuk merawat penuaan populasi di negara tersebut, perawat tambahan dibawa untuk menutupi waktu yang hilang.

Peneliti independen juga dibayar untuk mempelajari karyawan di rumah perawatan yang terus bekerja pada hari-hari biasa.

Laporan eksperimen akan terbit bulan depan, tetapi data yang dirilis sejauh ini sangat mendukung pendapat Emilie.

Selama 18 bulan pertama percobaan, perawat yang jam bekerjanya lebih pendek tercatat mengambil sedikit cuti sakit. Laporan juga mencatat bahwa pekerja merasakan lebih sehat daripada sebelumnya.

Pekerja kerap kali kelelahan akibat jam kerja yang terlalu panjang. Sumber: Google

Selain itu, sistem kerja 6 jam membuat produktivitas mereka meningkat dengan 85% lebih banyak aktivitas untuk pasien mereka, dari keluar jalan-jalan alam hingga bernyanyi bersama.

Namun, sistem kerja 6 jam  menghadapi kritik keras dari pihak yang berkepentingan bahwa biaya yang dikorbankan lebih besar dibanding dengan keuntungannya.

Kaum penentang yang berasal dari kelompok ‘Kanan-Tengah’ meminta Dewan Kota Gothenburg untuk menghentikan sistem sebelum waktunya pada Mei  lalu. Mereka beralasan sistem ini tidak adil karena mereka harus terus menggunakan uang pajak di sebuah percobaan yang tidak berkelanjutan secara ekonomi.

Uji coba itu berhasil menyesuaikan dengan anggaran, namun  masih menghabiskan anggaran kota sekitar £ 1,1 juta Euro (18,3 miliar Rupiah)

“Bisakah kita menerapkannya pada seluruh kota? Jawabannya adalah tidak! Itu terlalu mahal,” kata Daniel Bernmar, Anggota Dewan dari Partai Kiri yang bertanggung jawab untuk menjalankan perawatan lansia di Gothenburg.

Namun dia berpendapat eksperimen tersebut terbukti ‘berhasil dari beberapa sudut pandang’ dengan menciptakan lapangan kerja ekstra bagi 17 perawat di kota tersebut serta mengurangi biaya pembayaran sakit dan memicu perdebatan global tentang budaya kerja.

“Sistem ini berhasil memperpendek jam kerja sebagai agenda politik bagi Swedia dan Eropa. Ini sangat menarik,” katanya.

“Dalam 10 bahkan 15 tahun terakhir terjadi tekanan yang sangat besar untuk memperpanjang jam kerja. Sementara itu, sistem yang diterapkan ini merupakan  kebalikan darinya.”

Percobaan serupa di kota-kota Swedia

Walaupun keseimbangan hidup sudah diperjuangkan di berbagai spektrum politik di Swedia, peluang negara-negara Nordik (Denmark, Finlandia, Islandia, Swedia, Norwegia, Kepulauan Aland dan Kepulauan Faroe) untuk memangkas standar 40 jam kerja seminggu masih sulit.

Pada tingkat nasional, Partai Kiri adalah satu-satunya partai parlementer yang mendukung pengurangan jam kerja, yang hanya didukung oleh 6% pemilih dalam pemilihan umum Swedia yang terakhir.

Namun demikian, beberapa kota lainnya di Swedia mengikuti jejak Gothenburg dengan mendanai eksperimen menggunakan anggaran lokal. Kota-kota itu menargetkan kelompok karyawan lain yang memiliki tingkat penyakit dan kelelahan tinggi, termasuk pekerja sosial dan perawat rumah sakit.

Pembersih di Rumah Sakit Skelleftea akan memulai sistem ini selama 18 bulan bulan ke depan.

Percobaan pemotongan jam kerja juga dilakukan di sektor swasta. Beberapa perusahaan yang mencoba konsep itu adalah beberapa perusahaan periklanan, konsultasi, telekomunikasi dan teknologi.

Walaupun laporan menunjukkan bahwa staf tampak lebih tenang atau cenderung lebih sehat, namun orang lain dengan cepat meninggalkan gagasan tersebut.

‘Seperti Melewatkan Pekerjaan Rumah’

“Saya benar-benar tidak berpikir bahwa sistem 6 jam kerja ini sesuai dengan dunia wiraswasta, dan dunia start-up,” kata Erik Gatenholm, Kepala Eksekutif Perusahaan Bio-Ink yang berbasis di Gothenburg.

Erik cukup jujur mengakui bahwa dia mencoba eksperimen ini pada staf produksi setelah “membaca kabar di Facebook” dan  merenungkan apakah itu bisa menjadi daya tarik inovatif untuk bakat masa depan.

Tapi eksperimen perusahaan itu dibatalkan dalam waktu kurang dari sebulan, setelah umpan balik yang buruk dari para karyawan.

“Saya pikir ini akan sangat menyenangkan, tapi juga rasanya sangat menegangkan,” kata Gabriel Peres.

Ilustrasi jam kerja. Sumber: Google

“Ini adalah  sebuah  proses dan butuh waktu. Ketika Anda tidak memiliki semua waktu seperti itu, rasanya seperti melewatkan pekerjaan rumah di sekolah, semuanya selalu berkembang.”

Dr. Aram Seddigh ikut memberikan pendapatnya terhadap sistem ini. Aram Seddigh baru saja menyelesaikan studi doktoral di Institut Penelitian Stres Stockholm, yang memiliki cabang akademis yang berfokus pada pergeseran pola kerja masyarakat.

“Menurut saya, sistem enam jam kerja sehari paling efektif diterapkan dalam organisasi seperti rumah sakit  di mana Anda bekerja selama enam jam dan kemudian Anda tinggalkan [tempat kerja] dan pulang ke rumah.

manfaat 6 jam kerja

‘Seperti Melewatkan Pekerjaan Rumah’

“Namun, sistem ini kurang efektif bagi beberapa pekerjaan yang sistem kerjanya terkadang tidak bisa dibedakan dengan kehidupan pribadi,” katanya.

“Solusi semacam ini mungkin bisa meningkatkan tingkat  stres pekerja. Sebab pekerja mungkin akan berusaha menyelesaikan semua pekerjaan yang biasa mereka kerjakan dalam waktu delapan jam menjadi enam jam. Atau jika mereka adalah pekerja kantor, mereka mungkin akan membawa pulang pekerjaan tersebut.”

Kerja yang Fleksibel

Kembali ke Gothenburg, Bengt Lorentzon, peneliti utama untuk proyek perawatan rumah Svartedalen, berpendapat bahwa sistem kerja enam jam hari juga akan membawa budaya kerja fleksibel yang dipromosikan oleh banyak bisnis di Swedia.

“Banyak kantor sudah menerapkan sistem kerja seperti konsultan. Tidak perlu manajer untuk mengatur semua pekerja mereka di kantor pada saat bersamaan. Mereka hanya ingin mendapatkan hasil dan pekerja harus memberikannya,” katanya.

“Bandingkan dengan asisten perawat. Mereka tidak akan bisa meninggalkan pekerjaan untuk sekedar pergi ke dokter gigi atau ke dokter atau penata rambut.”

“Jadi saya tidak berpikir bahwa orang harus mulai mempertanyakan apakah mengurangi jam kerja atau tidak.”

“Pertanyaan terpentingnya adalah, apa yang bisa kita lakukan untuk membuat lingkungan kerja menjadi lebih baik? Mungkin hal yang berbeda bisa lebih baik untuk kelompok yang berbeda.”

“Perbaikan bisa dilakukan dengan jam kerja dan waktu kerja, tapi perbaikan juga bisa dilakukan dengan banyak aspek lain dalam sistem kerja.”

Sumber: Maddy Savage, “What really happened when Swedes tried six-hour days?”, BBC News, 8 Februari 2017, http://www.bbc.com/news/business-38843341

Penerjemah: Petrus Putut (SEMAR UI)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here