Antara Diam Dirumah dan Kebutuhan Makan Sehari-hari

0
355
Pendapatan pedagang di sekitar Jakarta menurun drastis akibat wabah Covid-19. Foto: Alhamdani RasyidFoto: Alhamdani Rasyid
Pendapatan pedagang di sekitar Jakarta menurun drastis akibat wabah Covid-19. Foto: Alhamdani RasyidFoto: Alhamdani Rasyid

FILeM, Jakarta – Dampak dari virus corona sehingga diberlakukannya ‘Social Distancing’ dan ‘Working From Home’ membuat stasiun Gondangdia, Jakarta yang biasanya dipadati aktivitas masyarakat, ramai orang berlalu lalang. Kini nampak lengang, hanya satu-dua orang yang terlihat berjalan menuju stasiun maupun ke arah masjid Cut Meutia, Selasa (24/03).

Hal itu berimbas pada pedagang yang biasa mangkal disekitar stasiun Gondangdia yang berdekatan dengan Masjid Cut Meutia.

Para pedagang mengakui dampak buruk dari virus corona, berpengaruh pada penghasilan mereka yang sangat menurun drastis.

Alva, pedagang bakso di sekitar wilayah stasiun Gondangdia mengeluhkan semakin sepinya pembeli terhitung sejak diberlakukannya #KerjaDirumah dan #DiRumahAja

“Sejak adanya imbauan diam di rumah aja, pendapatan saya sangat menurun drastis. Hari normal biasa terjual 80-100 mangkok, sekarang nyaris 20 saja susah. Walaupun saya juga berjualan disertai rasa takut tapi mau bagaimana lagi untuk kebutuhan makan sehari-hari,” kata Alva

Ia pun mempertanyakan solusi dari pemerintah terkait kebijakan 14 hari di rumah aja. “Pemerintah semestinya kalo memberi kebijakan harus dengan solusi, kalo diam dirumah aja sedangkan tidak ada pendapatan, lantas gimana? Mau makan apa nanti keluarga saya dirumah.”

Senada dengan Alva, Ismail pedagang kopi keliling yang biasa mangkal di pekarangan Masjid Cut Meutia juga merasakan merosotnya omset jualannya dampak dari virus corona. Ia juga menyoroti kinerja dalam pelayanan informasi yang tiba-tiba membuat masyarakat kebingungan.

“Sangat menurun drastis (pendapatan saya). Bila dihitung biasanya dapat 6 termos ini dapat 2 itupun dari langganan, kalo ngarepin orang biasa gak dapat. Sekarang dapat untuk makan saja sudah alhamdulillah

Ismail juga menambahkan terkait layanan informasi. “Pemerintah harus terbuka terhadap masyarakat agar tak simpang siur, mengenai kebijakannya dan tetek bengeknya agar masyarakat tahu dan paham. Jangan terkesan ditutup-tutupi,” ujarnya

Nasib serupa juga dialami oleh Ramli, pedagang nasi rawon yang sudah lama berjualan di sekitar stasiun Gondangdia. Ia merasakan langsung dampak buruk dari virus corona. Ramli menuturkan tentang penurunan omset yang jauh sekali dibanding hari biasanya.

“Wih jauh sekali, sangat menurun signifikan. Normal hari biasa bisa dapat 700 ribu, kalo ramai 1 juta. Imbas dari Corona inipun 100 ribu tidak dapat, sangat menurun jauh sekali,” terang Ramli.

Sementara itu mengenai imbauan pemerintah tentang keselamatan dan bahaya virus corona dalam membatasi interaksi sosial guna mencegah penularan virus corona. ia menjelaskan para pedagang bukannya enggan mematuhi, tapi kebutuhan makan sehari-hari yang tak bisa diabaikan.

Ramli menuturkan, “pemerintah mengatakan diam dirumah, gak boleh keluar. Sedangkan pedagang yang bukan pegawai negeri yang tidak ada gaji bulanan, harus cari dulu dan harus usaha dulu. Mau kena virus atau tidak, wallahu alam. Dia gak ambil pusing yang penting perut dia kenyang, keluarga bisa makan. Dalam hal ini tidak ada solusinya, Pemerintah seharusnya bertanggung jawab akan kebutuhan dan keselamatan masyarakat.”

Ramli juga berharap Pemerintah memikirkan dan memperhatikan nasib pedagang, dalam mengambil kebijakan.

“Harapan saya adalah pemerintah harus memikirkan orang-orang yang tidak memiliki gaji, harus memperhatikan sudut pandang dari pedagang. yang harus mencari uang dulu untuk kebutuhan hidupnya. Seperti pedagang-pedagang ini kan sangat sulit dengan adanya virus corona,” tutup Ramli

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here