Resensi Film 12 Years A Slave

0
37 views
Poster Film 12 Years Of Slave (gambar: http://expatspost.com)

Judul: 12 Years a Slave
Tahun Rilis: 8 November 2013 (Amerika Serikat)
Sutradara: Steve McQueen
Durasi: 134 menit

12 Years of Slave adalah Film yang bercerita tentang bagaimana kehidupan di Amerika Serikat di tahun 1841, yang masih melegalkan perbudakan terhadap warga kulit hitam. Bagaimana pada saat itu SARA masih menjadi masalah diskriminasi identitas disana.

Latar belakang film ini adalah perbudakan berdasarkan perbedaan warna kulit, yang didukung oleh politisasi agama, dimana agama ikut mengkapanyekan bahwa warga kulit hitam dianggap sebagai kaum yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi budak bagi kaum kulit putih.

Keikutsertaan agama dalam melegalkan perbuakan dapat kita temukan pada awal film ini, agama dijadikan tameng untuk mengesahkan perbudakan kulit hitam yang dipaksa bekerja secara tidak manusiawi, di pekebunan-perkebunan wargakulit putih. Sambil menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan, para kulit hitam seolah-olah diharuskan mengamini bahwa perbudakan dan kematian saudara/i mereka adalah takdir dari Tuhan. Lagu-lagu (puji-pujian) tersebut tidak boleh berhenti, dan harus selalu dinyanyikan oleh budak kulit hitam ketika bekerja. Supaya mereka semakin semangat dan yakin bahwa ada legitmasi dari surga, agar para kulit hitam bersedia dipekerjakan secara kasar, dan mendapat siksaan dari sang majikan.

Namun, meskipun saat itu memang sedang jaman perbudakan terhadap kulit hitam, tidak semua kulit hitam di Amerika Serikat adalah hidup sebagai kasta rendahan dan harus bekerja sebagai budak. Solomon misalnya, dia adalah seorang kulit hitam yang hidup sebagai seorang kulit hitam merdeka, bekerja sebagai tukang kayu dan pemain biola professional, dia tinggal bahagia bersama istri dan dua anaknya di Saratoga Springs, New York. Tapi sayangnya semua kehidupan Solomon yang merdeka dan bahagia itu tiba-tiba berubah hanya dalam sekejap, saat ia bertemu dengan dua orang kulit putih, Mr. Brown dan Hamilton yang mengaku sebagai pengusaha sirkus.

Dengan kelihayannya menipu, dua orang kulit putih ini membujuk Solomon agar mau diajak ke washington untuk bermain di sebuah pertunjukan sirkus. Ketika telah tiba di Washington, Solomon diajak makan malam di sebuah Restoran kemudian dicekoki alkohol sampai mabuk, dan ketika sadar dari mabuknya, Solomon menemukan dirinya telah dirantai dan dijadikan budak.

Solomon kemudian dikirim ke New Orleans dan dipaksa memakai nama “Platt”, dia dipaksa mengaku sebagai seorang budak pelarian dari Georgia. Walaupun tidak membawa identitas resmi, Solomon tetap menolak mengakui dirinya budak, sehingga dia dipukuli berulang kali oleh algojo kulit putih sampai mengakui dirinya adalah budak, dan dibeli oleh seorang pemilik perkebunan bernama William Ford.  Solomon sekarang telah menjadi budak, dia tidak lagi menjual tenaga kerja sebagai musisi, tapi memberikanya tenaga kerjanya kepada si majikan, hidupnya seperti lembu, yang tidak menjual tenaganya kepada petani tapi memberikannya tanpa upah. Solomon dan budak lainnya, bersama dengan tenaga kerjanya, betul-betul dijual untuk selama-lamanya kepada pemiliknya. Ia barang-dagangan yang dapat pindah dari tangan pemilik yang satu ke tangan pemilik yang lain[1].

Beruntung bagi Solomon, dia berhasil menjalin hubungan baik dengan majikannya, karena kerjanya yang sangat memuaskan. Dia sempat dihadiahi sebuah biola oleh sang majikan sebagai ungkapan terima kasih atas pekerjaannya. Namun sebaik apapun pekerjaan Solomon dia tetaplah budak. Sesekali ketika terjadi konflik di perkebunan Ford dan Solomon dianggap sebagai orang yang bersalah, walaupun berat hati, sang majikan terpaksa dijual Solomon kepada Edwin Epps, seorang kulit putih yang percaya bahwa hak untuk menyiksa para budak diperbolehkan oleh Alkitab. 

Edwin Epps adalah seorang rasis yang kejam, dia memerintahkan Para budak untuk memanen kapas setidaknya 200 pon perhari, kalau tidak mencapai target, para budak ini akan dicambuki. Namun Ketika ada Seorang budak perempuan muda bernama Patsey mampu memanen kapas lebih dari 500 pon perhari, Epps sangat senang kepadanya. Epps sering memujinya, kemudian merayunya dan berulangkali memperkosanya.

Istri Epps yang melihat ada gelagat tidak beres ini, merasa cemburu dan seringkali menyakiti Patsey. Hingga suatu hari, Karena seringnya Provokasi dari istrnya, Epps marah besar setelah mengetahui Patsey menghilang dari perkebunannya, padahal Patsey saat itu sedang pergi ke gereja.

Ketika Patsey kembali, Epps memerintahkan anak buahnya untuk menelanjangi dan mengikat Patsey di sebuah tiang. Istri Epps menghasut agar Solomon mencambuk Patsey, walaupun enggan mematuhi perintah majikannya, karena terpaksa akhirnya solomon mematuhi perintah untuk mencambuk Patsey. Karena kurang puas melihat Solomon yang menyambuk dengan setengah hati, Epps akhirnya mengambil cambuk dari tangan Solomon dan mencambuki Patsey dengan brutal.

Selama masa penyembuhan Patsey, Solomon mulai bekerja membangun paviliun rumah Epps bersama seorang pekerja Kanada bernama Bass (diperankan oleh Brad Pitt). Bass tidak disukai oleh Epps setelah ia mengungkapkan penentangannya terhadap perbudakan.

Di sisi lain, Solomon mulai memercayai Bass dan menceritakan mengenai penculikannya. Solomon meminta Bass untuk membantunya mengeposkan surat ke Saratoga Springs. Dengan mempertaruhkan hidupnya, Bass setuju untuk melakukannya.

Suatu hari, perkebunan tempat Solomon bekerja dikunjungi oleh sheriff setempat. Sheriff yang datang bersama seorang pria lain dengan kereta kuda, memanggil Solomon yang sedang bekerja. Sheriff mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Solomon untuk mencocokkan jawabannya dengan fakta-fakta kehidupannya di New York.

Solomon mengenali pria lain yang datang bersama sheriff sebagai penjaga toko yang ia kenal dari Saratoga yang memang sengaja datang untuk membebaskannya setelah diperbudak selama 12 tahun. Dan Solomon pun akhirnya kembali ke menjadi manusia bebas dan berkumpul lagi bersama ke keluarganya. 

12 Years a Slave adalah sebuah film yang diadaptasi dari kisah nyata, lewat novel karangan Solomon Northup. Dengan latar belakang perbudakan, film arahan Steve McQueen ini menampilkan beberapa adegan penyiksaan dengan tujuan agar membuat penonton merasa iba dan seakan bisa ikut merasakan sakit, serta sedih dari pengalaman yang dialami Solomon dan teman-temannya.

Tidak hanya menyuguhkan jalan cerita yang kuat, film ini juga didukung dengan aksi penampilan akting memukau dari para pemainnya. Terutama akting yang ditampilkan oleh Chiwetel Ejifor sebagai Solomon, yang benar-benar bisa membuat penonton menghargai perjuangannya pada saat itu.

Secara ekpresi dan penghayatannya, Chiwetel Ejifor bisa membawa Anda ikut merasakan apa yang dialaminya pada jaman perbudakaan tersebut. Selain Chiwetel Ejifor, film ini juga diturut dibintangi oleh Dwight Henry, Bryan Batt, Benedict Cumberbatch, Paul Giamatti, Liza J Bennett, Paul Dno, Lupita Nyong’o, dan Brad Pitt. 

catatan:

[1] Mark,Karl; Wage Labour and Capital; 1847.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here